"Kau melihatku."
"Kau melihatku."
"Kau melihatku!"
"Kau melihatku!!"
"Kau melihatku!!!"
Lagi-lagi suara itu. Ya, suara itu. Gadis itu tak bergeming. Sudah bosan barangkali. Suara itu menganggu, tentu saja. Tapi dia hanya menatap lurus pada layar komputer yang bertuliskan banyak angka.
"Lembur?" tanya seorang teman kerja.
"Iya nih," jawab gadis itu sambil tersenyum, mata sipitnya membentuk garis lurus.
"Aku duluan ya. Aku traktir kopi deh. Semangat junior!" ujar teman kerja, dia meletakkan selembar pecahan lima puluh ribu di atas meja.
"Tidak usah, Kak," balas gadis itu. Dia berdiri dari tempat duduknya karena merasa tidak enak.
"Bye!" ujar teman kerja, melambaikan tangan lantas pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
"Terima kasih," ujar gadis itu. Meskipun dia tau teman kerjanya tidak akan bisa mendengar ucapan terima kasih yang tulus darinya.
"Kau melihatku!"
"Kau melihatku!!"
"Kau melihatku!!!"
Suara itu kembali. Membuat gadis itu semakin kesal. Dia mempercepat gerakan tangannya untuk menyelesaikan dokumen yang membuatnya terpaksa lembur malam ini. Malam semakin larut, suhu ruangan semakin dingin. Memang semua jendela sudah ditutup, bahkan AC sudah dimatikan. Tapi kondisi seperti ini sudah biasa, terutama bagi mereka yang sensitif. Gadis itu hampir menyelesaikan pekerjaannya. Detak jantungnya berpacu dengan gerakan jemari tangan di atas keyboard. Sebentar lagi selesai dan saatnya untuk pulang.
"Baru pulang Bu?" ujar satpam di pintu gerbang.
"Iya, Pak," jawab gadis itu ramah.
"Hati-hati Bu, sekarang sudah hampir tengah malam," balas satpam itu. Wajahnya yang keriput tampak khawatir.
"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya, Pak," jawab gadis itu sambil tersenyum.
Gadis itu keluar dari pintu gerbang kantor, meninggalkan satpam yang masih berdiri disana sambil mengamati gadis itu hingga menghilang di pembelokan. Setelah memastikan gadis itu aman, setidaknya aman menurut penglihatannya, satpam itu menutup gerbang dan menguncinya rapat-rapat.
"Bapak itu ayahmu?" tanya gadis itu.
"Iya," jawab seorang gadis lain yang berjalan di belakangnya. Suaranya terdengar lemah dan sedih.
Gadis itu menghentikan langkahnya. Pada akhirnya dia membalikkan tubuh dan menatap sejajar ke arah gadis lain yang berdiri dan mengikutinya di belakang sejak tadi. Gadis itu cantik, kulitnya putih dan pucat, rambutnya pendek setinggi bahu, matanya besar, hidungnya mancung.
"Jadi apa?" tanya gadis itu.
Gadis cantik berkulit pucat tersenyum mendengarnya. "Tolong bantu aku, satu kali saja," jawab gadis pucat itu.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Shadow
ParanormalKau melihatku!!! Lagi-lagi suara itu. Ya, suara itu. Gadis itu tak bergeming. Sudah bosan barangkali. Suara itu menganggu, tentu saja. Tapi dia hanya menatap lurus pada layar komputer yang bertuliskan banyak angka.
