bertemu

38 5 1
                                        

Gemuruh hujan di salah satu café dipusat kota pada malam hari sangat cocok untuk seorang manusia yang masih terjebak dalam kenangan-kenangan masa lalunya.

Disinilah Ia duduk, salah satu manusia dari ribuan manusia yang masih terjebak dalam kenangan masa lalu. Namanya Changbinata Adrian. Atau sebut saja Abin.

Ditemani oleh laptop MacBook Pro 13 Inci nya dengan segala dokumen-dokumen penting didalamnya. Tak lupa satu Ice Cappucino yang menemani tenggorokan dan mulut agar tidak kehausan.

Lelah menatap laptopnya, Abin pun menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi. Netra mata nya ia tujukan kearah jendela melihat rintik hujan, dan mobil-mobil yang sliweran sana sini.

Ia tersenyum miring saat lagu yang diputar oleh pihak café adalah lagu yang paling ia benci. I Still Love You by The Overtunes, sangat menggambarkan dirinya saat ini.

Jujur, Ia ingin kembali lagi pada masa-masa dimana dia dan sang mantan menikmati kopi berdua di café ini. Cappucino yang selalu bersama Abin, dan Cotton Candy serta secret receipe ber beda-beda yang bersama dengan si dia.

Abin masih menatap keluar jendela, entah apa yang ia harapkan akan muncul diluar sana. Ia tersenyum, andai hari itu Ia tidak melontarkan kata putus. Apa yang sedang mereka berdua akan lakukan sekarang? Apa akan tetap sama dengan kenangan yang lalu?

Abin menggelengkan kepalanya, sadar akan lagu I Still Love You sudah tidak terdengar lagi di telinganya, Ia pun menyeruput kopinya dan kembali mengetik kerjaan yang ia tinggal barusan.

Pekerjaan nya terhenti kala ada seseorang duduk dihadapannya. Enggak, bukan si mantan.

Chandra Dirgantara, sahabat karib Abin dari jaman mahasiswa baru. Perawakan yang sangat atletis dan wajah rupawan sangat menjadi daya tarik milik Chandra. Abin sempat iri dengan badan yang dimiliki oleh Chandra, tapi itu dulu waktu badan Abin masih cungkring kurus kering.

"Galau mulu lo, udah 3 tahun bengek." Ujar Chandra.

"Mana ada gue galau? Gue lagi kerja." Jawab Abin cuek, mengundang tawa khas Chandra yang akan menimbulkan lesung pipi.

"I've been here with my babe for like 8 minutes ago, dan ngeliat lo ngelamun while listening to I Still Love You. Masih mau ngelak?" Ujar Chandra lagi dengan logat Australia nya yang sangat kental melekat. Yah maklum anak blasteran. Jaksel+Surabaya maksutnya. Bercanda, beneran blasteran Australia Indo kok.

"Iyadeh bapak CEO yang terhormat, lo menang." Ujar Abin mengalah pada kalimat yang dilontarkan oleh bos nya.

"Mana liat gue hasil kerja lo." Ucap Chandra.

Abin adalah sekretaris Chandra, jadi apa-apa kalo di kantor pasti kalo gak Chandra yang urus ya Abin berarti. Kalo Chandra lagi bucin, ya Abin turun tangan sama perusahaan punya Chandra. Alias Abin suka heran sama bos nya, bisa-bisanya ngelepas perusahaan ke tangan nya. Percaya sih boleh, tapi kan jaman sekarang jamannya 'Don't trust anyone'

Tapi percuma Abin nakut-nakut in bahkan ngancem Chandra begitu, jawaban yang keluar dari mulut Chandra malah, "Hadeh hadeh iya Bin iya, anyone except you dah cepet mending kerja lo."

Abin pun membalikkan MacBook nya untuk diperlihatkan kepada sang bos.

Chandra membaca segala yang tertera di layar, mulai dari kiri ke kanan hingga page terakhir.

"Udah? Bukannya masih banyak? Nahkan kebanyakan ngelamunin dia sih." Nah toh, salahin terus aja Abin pak. 'Bangsat ini bos anjing untung temen sendiri.' Batin Abin.

"Iye anjir ini juga lagi dikerjain lo tiba-tiba dateng ngajak ngomong. Nyalahin mulu dah buset." Protes Abin karena gak terima di salahin gitu aja.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Oct 30, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

if u could see me cryin, would you cry too?Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora