[]
Kebanyakan orang bilang, hubungan itu harus satu frekuensi. Lalu bagaimana jika didalam hubungan sudah tidak ada tujuan? Bagaimana jika lama kelamaan hubungan itu bahkan tidak menemukan frekuensi yang jelas?
Seokjin menghela napasnya berat, menyandarkan tubuhnya di kursi yang terbalut oleh kulit hitam itu, berusaha menyegarkan otaknya yang mungkin sebentar lagi pecah karena paper paper yang ada di atas mejanya. Ekor matanya sesekali menatap jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 7 malam, dan dirinya masih harus berkutat di depan pekerjaanya.
Ponselnya berdering singkat, menandakan ada pesan masuk. Enggan membaca karena sudah terlalu lelah, namun apa daya jika matanya sudah terlanjur menangkap tulisan di lockscreen nya yang menyala itu.
Namjoon♡
Lembur lagi jin?
Buru buru mengalihkan pandangan setelah ia membaca satu notifikasi yang muncul di ponselnya. Malas, dan lelah. Ntah apa yang membuat Seokjin begitu enggan membalas pesan dari tunangannya itu.
6 tahun bersama, Seokjin dan Namjoon. Keduanya menguras waktu yang mereka punya untuk mengukir sebuah kisah yang ada di antara mereka, dari mereka membicarakan tugas sekolah bersama sampai membicarakan tentang bagaimana hari hari saat keduanya bekerja. Dari yang mulanya makan bersama di kantin sekolah, sampai akhirnya menyempatkan makan bersama saat jam makan siang.
Bukan waktu yang singkat bagi keduanya menjalin sebuah hubungan yang dibaluti dengan komitmen keduanya. Kesepakatan untuk selalu berbagi, kesepakatan untuk selalu sama sama menyalurkan emosi apapun, dan saling memberi dukungan. Seokjin sadar penuh, bahwa perasaanya terasa begitu nyata jika bersama Namjoon. Rasa bahaginya, rasa lelahnya semuanya terasa begitu nyata dan hidup.
"Namjoon, pijat kakiku mau ga? Pegal banget..."
Biasanya rajukan itu keluar dari mulut Seokjin ketika Namjoon sedang menginap di apartemennya, berakhir dengan Namjoon yang mengangguk dan mulai memberi pijatan pada bahu Seokjin, kakinya, dan kepalanya. Afeksi yang Namjoon berikan membuat lelahnya hilang seketika, digantikan rasa nyaman dan enggan kehilangan.
"Seokjin, kaos kakiku mana ya?"
Paginya, saat keduanya sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja. Namjoon selalu bertanya apapun barangnya, padahal Namjoon sendiri yang meletakkannya. Namun Seokjin tidak pernah marah, ataupun kesal. Dia selalu dengan senang hati membantu Namjoon mencari barang itu karena Seokjin tahu kebiasaan buruk Namjoon, ceroboh dan pelupa.
"Kunci mobil ada di atas meja samping charger, kemarin jatuh di pinggir kasur. Udah aku bilang, jangan masukan kunci ke kantong celana, Namjoon-ah."
Setiap pagi, Seokjin akan selalu mengingatkan apapun barang yang akan Namjoon bawa, dimulai dari berkas berkas penting perusahaan, sampai kacamata minus yang selalu Namjoon tinggalkan di meja.
"Sayurannya sudah dicuci? Aku masukan ya?"
Kegiatan pagi mereka berlanjut dengan Namjoon yang membantu Seokjin membuatkan sarapan di pantry, walaupun Namjoon lebih suka memperhatikan punggung Seokjin yang sedang berkutat di dapur, tapi Namjoon tetap selalu memilih untuk membantu Seokjin, domestik katanya.
Kecupan di dahi Seokjin setiap mobil yang mereka tumpangi sampai di depan kantor Seokjin, di susul dengan kecupan di pipi Namjoon sebelum akhirnya Seokjin benar benar keluar mobil mereka.
"Kerjaanmu banyak?"
"Banyak, tapi aku ingin makan siang denganmu. Rindu."
YOU ARE READING
SELESAI | Namjin.
FanfictionCerita klasik tentang hubungan Namjoon dan Seokjin yang sudah berada di ujung jurang. Dan sudah sulit untuk di tahan. Prepare your heart ❗ oneshot, bxb, angst, break up.
