Putra - Pt.1

29 1 0
                                        

Setelah menurunkan Kiara, sisa perjalanan ke rumah menjadi sangat canggung bagi Putra. Imajinasinya kembali ke beberapa waktu lalu, ketika ia berharap masalahnya bisa diselesaikan Foni.

"Nih ye, trik yang menurut pengalaman gue ga pernah gagal untuk tau cewe inceran lo suka juga sama lo apa ga. Lo bilang kalo lo lagi suka sama cewe lain."

Dahi Putra mengernyit. "Cewe lain? Siapa woy, malah nambah masalah aja lu. Kalo ampe tu cewe lain malah ke-geer-an gimana? Ngawur lu ah."

"Ya makanya dengerin dulu. Pilih cewe yang ga ada, misalnya diluar sekolah, atau yang emang out-of-reach dari circle-nya dia. Jadi dia ga bakalan tau. Nanti lo liat deh responnya Kiara. Kalo sikapnya berubah, bisa kayak jadi pendiem, murung, atau pura-pura seneng tapi ga natural gitu, nah udah deh, mesti dia ada apa-apanya ama lo"

Putra tahu temannya ini jarang bisa dipercaya. Tuhan tahu berapa kali ucapan sok yakinnya ini menjerumuskan mereka dalam masalah, baik itu ke guru, teman, atau orang lain. Dia malah masih ingat bagaimana perjalanan pulang yang harusnya berlalu seperti biasa, berakhir dengan mereka berada di tengah tawuran antar sekolah hanya karena Fino merasa yakin dia menemukan rute baru yang lebih singkat untuk pulang. Kejadian ini terjadi di awal pertemanan mereka ketika masih kelas 4 SD, dan merupakan awal dari berbagai kekacauan yang mereka hadapi bersama di tahun-tahun berikutnya. Lucunya, teman lain silih berganti tapi mereka selalu satu sekolah. Dan sebagaimana yang sudah-sudah, omongannya selalu terdengar meyakinkan, dan kali ini pun dia memutuskan untuk percaya.

"Mungkin omongan lu ada benernya. Tapi siapa ya cewenya? Kalo cewe yang ga nyata tu berarti gua harus ngarang cerita dia dari mana. Lu tau sendiri gua kalo boong gelagapan"

"Yaudah yang ada aja sih, Anin tuh."

"Anin? Lu gila? Cewe ultra tenar gitu? Kalo malah nyebar gimana? Iya kalo respon Kiara bagus, kalo kagak? Boncos gua."

"Justru itu, dia tenar kan karena emang cantik, tinggi, pinter, terawat. Wajar kalo orang suka. Malah kita tau banyak yang suka. Jadi kalo lo juga salah satu diantara mereka, ya orang ga kaget. Apalagi ngomongin."

Putra menghembuskan napas. Lagi-lagi ni orang bener. Lagi-lagi gua percaya. Bisa gak sih, tinggi badan gua dituker dikit sama self-confidencenya ni orang? Kalo dia jadi sales ensiklopedia, bahkan ketika zaman internet gini, kayaknya gua bakal tetep beli deh.

"Oke, oke. Gua turutin apa kata lu. Besok gua bakal ajak Kiara pulang bareng, terus gua bakal ngomong kalo gua suka sama Anin."

"Nah gitu dong boooy, hahaha. Yaudah ah, cabut dulu gua. Takut dicariin emak nih. Kabar-kabarin yak".

Fino menjauh, dan perlahan Putra mulai tertarik ke masa sekarang. Motornya berhenti, dia sudah sampai didepan rumahnya.

***

"Putra pulaaaang." Teriakannya memantul di dinding-dinding rumahnya tanpa bersambut. Tidak ada orang di rumah, hanya dia sendiri.

Setelah melempar tasnya sembarangan ke sudut ruangan, kini giliran badannya yang ia rebahkan secara semena-mena di atas kasur yang telah tersusun rapi. Pandangannya mengarah ke langit-langit, tapi pikirannya melayang lebih jauh dari itu.

Kiara, Kiara... Kenapa sih harus ada Bima? Kenapa sih harus ada bintang kelas, good-looking, kesayangan guru, the-masa-depan-cerah-guy yang buat gua harus insecure? Kenapa sih semuanya ga bisa berjalan mulus aja sampe suatu saat nanti gua punya keberanian itu untuk nyatain semuanya ke lu?

Dalam dekap 'kenapa', Putra lagi-lagi menghembuskan napas panjang ke udara. Rencananya tadi menurutnya gagal total. Bukan karena dia terbata-bata ketika berbohong. Bukan karena dia tidak berbicara meyakinkan bahwa dia suka Anin. Bukan karena dia tidak bisa membaca gelagat Kiara yang mungkin, mungkin, menyiratkan cemburu. Tapi karena sejenak sebelum mereka berdua beranjak dari pedagang telur gulung itu, dalam sepersekian detik kecanggungan yang tidak diharapkan, semesta telah menakdirkan bahwa di situ juga ada Bima, yang jelas-jelas mendengar percakapan mereka. Omongan Putra telah tanpa sengaja memberi seribu alasan tambahan untuk Bima mencampuri hubungannya dengan Kiara. Dan katakanlah Kiara memang cemburu, itu malah semakin melumasi jalan masuknya Bima sebagai si pemberi rasa nyaman.

Pada tahun 1969, Dr. Elisabeth Kubler-Ross memperkenalkan "5 Tahapan Kesedihan", berupa penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga akhirnya menerima. Yang terjadi pada Putra sekarang adalah...

"Kurang ajarrr lu Finoooooooo!!!!! Gua ancurin masa depan lu, %^*#$%!!"

..... Yap. Kemarahan.

Sementara yang dikutuki sedang duduk santai di luar sana, menyeruput mangkuk bakso keduanya di siang hari ini. Tanpa beban.

***

The DraftWhere stories live. Discover now