Lee Jeno, siswa SMA yang jatuh hati pada guru olahraganya, Huang Renjun. Jeno tau ia salah karena tertarik pada seseorang yang sudah memiliki kekasih, apalagi orang itu gurunya sendiri.Tapi Jeno tak peduli.
Diteruskan atau berhenti.
Tetap opsi perta...
Setiap manusia pasti memiliki rasa ketertarikan terhadap satu sama lain. Entah dalam hal hobi, pekerjaan, atau mungkin ketertarikan menjalin sebuah hubungan.
Dalam hal hubungan, tak semuanya berjalan lancar. Bebatuan dan kerikil kerap menjadi penghambat dalam suatu hubungan.
Banyak hubungan manis yang tumbuh merekah lalu mati dalam kekecewaan. Perselingkuhan, kekerasan, keposesifan, perbedaan pendapat, dan konflik lainnya.
Dalam hal hubungan, Jeno tak terlalu memikirkannya.
Bocah tujuh belas tahun itu tak terlalu panik kalau menyangkut soal hubungan sosial.
Jeno adalah tipe penyendiri, sosok yang tak terlalu memikirkan penampilan, rambut hitam belah tengahnya tak pernah tertata rapi, seragam lusuh sebagai wujud tak tersentuh setrika. Culun dan berantakan.
Namun dibalik penampilannya yang lusuh, Jeno adalah murid berprestasi. Yah, walaupun bukan yang terpintar di kelasnya, tapi Jeno selalu masuk 5 besar di ujian akhir. Kepribadian yang pendiam dan selalu serius saat memperhatikan penjelasan dari guru yang mengajar di kelasnya, membuat Jeno masuk sebagai salah satu list siswa kesayangan para guru.
Dan soal percintaan. Sejak ia dilahirkan hingga ia berusia tujuh belas, Jeno tak pernah merasa tertarik dengan orang lain dalam hal romantis. Jeno sungguh tak peduli.
Tapi, akhir-akhir ini sungguh berbeda. Jeno selalu merasakan jantungnya berdegup kencang saat melihat seseorang.
Orang itu adalah, Huang Renjun, guru honorer yang mengajar pendidikan jasmani untuk kelas tiga. Orang yang baru saja menyalip Jeno dan sepeda onthelnya dengan mobil VW biru muda kaca jendela terbuka, tanpa lupa melempar senyum hangat pada Jeno si murid kesayangan para guru.
Seperti biasa. Seperti yang sudah-sudah. Jeno bersemu, mabuk kepayang hingga lupa bernafas. Mukanya memerah menahan malu dan bahagia yang kelewat senang.
Pagi harinya yang datar jadi terang benderang karena mendapat hadiah senyum hangat Sir Renjun, yang sehangat cahaya mentari.
Jeno mengayuh pedal sepedanya sekuat tenaga. Sedikit berharap bisa menyusul VW biru muda milik sang guru. Lalu sampai sekolah di waktu yang sama. Lalu siapa tau, Sir Renjun membutuhkan bantuan untuk mengeluarkan keranjang bola dari gudang karena tubuh mungilnya tak akan kuat mengangkat keranjang bola sendirian, dan tentu Jeno akan jadi orang pertama yang mengacungkan jari telunjuk tinggi-tinggi. Lalu Sir Renjun akan merasa sangat berterima kasih pada Jeno dan bersedia mengabulkan satu permintaan Jeno. Lalu Jeno tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk memiliki Sir Renjun, satu-satunya sosok yang berhasil merenggut isi hatinya.
Baiklah. Mari berdoa untuk rencana maha dramatis yang sudah dirangkai sedemikian rupa oleh tuan muda Lee Jeno.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.