I

17 0 0
                                        

Hai, perkenalkan aku Aneysha Chloe, akrab dipanggil Aneysha. Mahasiswi baru fakultas hukum di Universitas Diponegoro. Tidak perlu ditanya bagaimana perasaanku akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Universitas impian yang akrab disebut Undip ini.

Sekarang masih terhitung sangat pagi karena mata kuliahku hari ini baru akan di mulai sekitar pukul 11 pagi nanti, dan sekarang baru menunjukkan pukul 8 pagi.

Kantin adalah satu-satunya tujuanku. Di sini tidak terlalu ramai karena masih terlalu pagi, suasananya jadi lebih nyaman karena yang terdengar hanya hembusan angin dan kendaraan yang berlalu-lalang.

"Aneysha!" teriak seseorang dari dalam kantin yang sedang duduk di depan laptopnya.

Mataku mencari keberadaan orang itu dan akhirnya tertuju pada perempuan berambut panjang tebal yang sedang melambaikan tangannya padaku, "sini, Ney!" sambungnya.

Aku berlari dan menghampirinya dengan senyum lebar di mukaku.

"Ji, aku kangen," ucapku saat sudah duduk di sebelahnya sambil menopang daguku dengan tangan di atas meja.

"Kangen aku apa kangen kakak kelasmu itu?" ledeknya. Ish, Ji suka sekali meledekku.

Aku mencubit kecil lengannya, "kamu mah!"

"Hahaha," tawanya, "aku juga kangen kamu, jelek!" sambungnya sambil menepuk jidatku.

Aku dan Ji sudah berteman sejak kami SMP. Sebenarnya dia adalah Zihan, tapi aku memanggilnya Jiya. Kami lulus di tahun yang sama dan ternyata masuk Universitas yang sama juga. Sebelumnya aku tidak tahu kalau Jiya juga masuk Undip, aku baru tau saat beberapa hari menjelang masuk kuliah. Huh, menyebalkan bukan?

"Ji, makan? Mau aku pesenin apa?" ujarku sambil melihat sekeliling kantin.

Jiya yang sedang sibuk dengan laptopnya akhirnya menyudahi aktivitasnya dan mulai memerhatikan sekeliling kantin.

"Cepet buset lama amat mikirnya!" ujarku meledek. Jiya memang tipe orang yang perfeksionis dan selalu memperhatikan hal hal kecil dengan detail.

Dengan wajah cemberut dia akhirnya membuka suara, "mie ayam deh."

"Siap, laksanakan!"

[ — ]

Aku sedang menunggu pesanan mie ayam milik Jiya, tapi tidak lama setelah itu ada yang datang dan ikut memesan mie ayam juga. Aku yang tidak begitu peduli akhirnya memilih untuk tetap diam menunggu.

Jiya's POV :

"Lama banget perasaan pesennya," ujarku sambil melirik ke arah ruko mie ayam.

Pandanganku terpaku saat melihat laki laki berbadan tinggi sedang sibuk dengan ponselnya tepat di sebelah Aneysha.

"Aku chat ajadeh." Aku membuka ponselku dan dengan cepat mencari kontak Aneysha.

"Ney, nengok ke kanan tapi jangan keciri banget, nengoknya pelan pelan." Sent.

Tidak lama setelah aku mengirim pesan itu, Aneysha terlihat sedang membaca sesuatu dan sepertinya itu adalah pesan dariku.

Jiya's POV end.

"Eh? Jiya ngechat, ada apa sih?" ujarku sedikit bergumam.

"Ney, nengok ke kanan tapi jangan keciri banget, nengoknya pelan pelan."

"Hah?" Aku pun pura pura sedang melihat sekeliling karena berniat untuk melihat apa yang dimaksud oleh Jiya.

Saat kepalaku sudah mengarah ke sebelah kananku, aku melihat seorang laki laki tinggi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Refleks aku menoleh ke Jiya untuk memastikan apa yang aku lihat barusan itu benar.

Alisku terangkat seakan sedang kebingungan saat menoleh ke arah Jiya, lalu dibalas dengan anggukkan. Aku meneguk air liurku karena gugup. Aku masih tidak percaya.

Aku masih terdiam dengan tatapan kosong sampai tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, "pesenan lo bukan?" ujarnya dingin.

"Eh? Sorry, Kak, iya itu punyaku. Thank you, ya," sahutku lalu sedikit membungkuk sebelum pergi menghampiri Jiya.

Aku langsung bergegas menghampiri Jiya dan langsung duduk di sebelahnya sambil mengatur napasku, "Ji, barusan itu beneran?"

still dk what is this just vibin'Stories to obsess over. Discover now