PROLOG.

109 21 12
                                        

Serendipity.

-

-

-

Mata tajam milik Byun BaekHyun meneliti penampilan gadis di hadapannya. Satu kata yang terlintas di otaknya adalah 'cantik'.

Bae Irene merasa sangat gugup ketika laki-laki dengan jas berwarna biru navy menatapnya dengan intens. Ada apa sebenarnya dengan laki-laki ini?

"Ekhm.."

BaekHyun berdehem dan membuat Irene terperanjat. Laki-laki itu terkekeh dibuatnya.

"Maaf. Apa dirimu mudah terkejut?" Tanya BaekHyun pada Irene. Gadis itu? Dia terlihat kikuk.

"Emm.. ya.. aku terkejut karena suaramu begitu besar" BaekHyun mengerutkan alisnya.

"Tentu saja suaraku besar. Aku seorang pria dewasa, Irene"

"Bu-bukan.. bukan itu maksud ku.."

BaekHyun lagi-lagi terkekeh karena dia berhasil menggoda Irene. Sedangkan Irene, dia ikut tersenyum begitu melihat deretan gigi BaekHyun yang dia anggap cantik.

"BaekHyun-ssi sangat tampan ketika tersenyum"

'uhukk..'

"A-apa?"

BaekHyun tersedak ludahnya sendiri ketika Irene memujinya tampan. Wah.. gadis ini. Apa dia memang benar-benar frontal?

"Aku bilang BaekHyun-ssi tampan ketika tersenyum"

"Oh.. begitukah?"

"Hmm.." Irene menganggukkan kepalanya antusias.

BaekHyun terdiam. Melihat bagaimana tulusnya gadis ini. Irene sibuk melahap makanannya. Dia bahkan tidak ada jaim-jaim nya ketika makan di depan BaekHyun.

Bae Irene, kenapa gadis sebaik dirimu harus dijodohkan dengan pria menyedihkan seperti Byun BaekHyun?

"Bae Irene" panggilnya yang langsung direspon oleh Irene.

"Ne?"

"Kenapa kau mau menikah dengan ku?"

Pertanyaan BaekHyun membuat Irene meletakkan alat makannya. Dia menaruh hati telunjuknya di dagu. Pertanda jika dia sedang berfikir.

Sedangkan BaekHyun, laki-laki itu bertopang dagu memerhatikan Irene. Dalam hati, dia memuji Irene yang terlihat sangat cantik. Padahal gadis itu tidak berdandan yang berlebihan. Dia bahkan mencepol rambutnya. Tapi anehnya, Irene terlihat jauh lebih cantik dari gadis pada umumnya.

"Karena ayahku yang memintanya" jawab Irene singkat kemudian melanjutkan acara makannya.

"Jika ayahmu tidak memintanya?"

"Maka aku akan datang sendiri dan melamar mu" BaekHyun tertawa keras.

"Mana ada yang seperti itu? Hey! Dengarkan aku. Seorang gadis tidak berhak mengambil langkah awal dalam sebuah hubungan"

"Kenapa begitu?"

"Karena kodrat seorang gadis itu dikejar. Bukan mengejar"

"Aih.. anda seperti seorang pria tua saja"

"Aku memang sudah tua"

"Owh.. apa aku akan menikah dengan pria tua ini?"

"Yak!"

Mereka berdua sama-sama tersenyum. Tertawa lepas pada pertemuan ketiga mereka. BaekHyun yakin jika Irene akan membantunya untuk melupakan Alexa. Ya, Alexa. Cinta pertamanya.

****

"BaekHyun, kau sudah memberitahunya?"

"Siapa?"

"Tentu saja calon istri mu"

"Bae Irene? Haruskah aku memberitahunya?"

"Tentu saja kau harus memberitahunya"

"Bagaimana jika dia juga akan meninggalkan ku?"

BaekHyun menunduk. Menenggelamkan kepalanya di kedua tangan. Kenapa keberuntungan tidak pernah berpihak padanya?

BaekHyun hanya bisa berharap, nanti. Saat dirinya sudah benar-benar mencintai Irene. Dia harap Alexa tidak akan datang lagi dan menghancurkan segalanya. Karena bahkan sampai saat ini, seluruh ruang hatinya masih dipenuhi oleh gadis luar itu. Alexia Jung.

[Serendipity]Where stories live. Discover now