Terminal Lucidity

12 1 0
                                        


Di dunia ini selalu ada dua sisi yang berlawanan, melengkapi satu sama lain. Tuhan memang sudah memasang-masangkan segalanya. Layaknya hitam dengan putih, baik dengan buruk, pendek dengan panjang, besar dengan kecil, bahagia dengan sedih, sains dengan agama, dan.. hidup dengan mati.

Ada sebuah fenomena menarik yang tidak bisa dijangkau oleh sains, namun bisa di jawab oleh agama, Terminal Lucidity. Terminal Lucidity itu dikenal sebagai fenomena 'sehat sebelum mati', atau disebut "chandelier Phenomenon". Aku punya pengalaman dengan itu, maksudnya bukan mengalami secara langsung, tapi melihatnya secara langsung melalui kakekku. Sekitar 3 bulan lalu, minggu, 13 juli 2020, kakekku meninggal dunia. Kakekku meninggal dengan cara paling damai menurutku. Dia meninggal pada saat tidur siang antara dari jam 12 sampai jam 4 sore selepas Ashar. Sebelumnya, kakekku di vonis penyakit TBC selepas periksa beberapa kali mondar-mandir dari rumah ke rumah sakit. Tapi, entah bagaimana kakekku bisa sehat dan bugar seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bahkan ia bisa bercanda, bahkan tertawa sangat ngakak denganku, budheku, nenekku, mamaku, ayahku, semua orang. Kalau dihitung mundur dari hari kakekku meninggal, sekitar 3 mingguan sebelum ia pergi, disitulah kakek masuk fase Terminal Lucidity ini. Seolah-olah beliau ingin mengucapkan salam perpisahan, tapi kakekku tidak mengucapkan itu, tapi dia selalu berkata "le, sehat-sehat yo nak. Dijogo awak'e" (nak, sehat-sehat ya, dijaga kesehatanmu). Aku tidak mengira sama sekali bahwa itu ternyata kalimat mau pamit. Yasudah, akhirnya aku dan sekeluarga mengikhlaskan kepulangan kakekku. Aku selalu meyakini bahwa kepulangan kakekku merupakan sesuatu yang tak perlu ditangisi, karena ia pulang ke tempat asalnya, bukan pergi. Akhirnya, kakekku dikubur esok harinya jam 6 pagi.

~

Malam hari, 2 oktober 2020, Aku buka youtube, muncul rekomendasi youtube berjudul "Terlalu Percaya Diri Itu Warning". Ternyata videonya Caknun dengan Sabrang berdiskusi. Dalam video itu, Caknun, dan Sabrang berdiskusi bersama moderator tentang ilmu Sains dan Agama yang selalu bersinggungan. Lalu, Terminal Lucidity disebut. Di video itu mbah Nun ngomong, "hati-hati lho kalau kamu sekarang sehat banget". Artinya jangan terlalu senang dengan segalanya yang kelihatannya kok fine-fine saja, baik-baik saja, atau kok lancar-lancar saja tidak ada halangan. Bisa jadi itu adalah warning bagi diri sendiri, tapi kita gagal menyadarinya, atau telat bahkan.

.

Aku memilki kekasih, sudah setahun berhubungan kalau dihitung. Tapi akhir-akhir mengalami keadaan yang sulit, bagiku. Kami jadi jarang berkomunikasi, menanyakan kabar, ataupun telpon untuk mengobrol. Ini sangat-sangat membikin gelisah. Jam tidur jadi berantakan, terbalik, sering merenung, bengong dan sebagainya. Lalu wtf, gara-gara video youtube.. malam ini, aku jadi sadar gara-gara tontonan itu. Mas Sabrang dan mbah Nun ngomong bahwa hati-hati dengan perasaan terlalu percaya diri. Bisa saja kesenangan atau kebahagiaan yang amat sangat kamu rasakan hari ini bisa menjadi amat sangat menyedihkan keesokan harinya. Sama seperti Terminal Lucidity, semua keluarga merasa senang dengan kesehatan kakekku. Tapi tidak menyadari bahwa fase itu adalah sebuah akhir.

Aku mulai mikir, dan mengingat-ingat apa yang mungkin aku lewatkan selama setahun terakhir dalam hubunganku.. dan aku ingat. Ternyata aku terlalu percaya diri. Aku terlalu percaya diri bahwa aku akan selalu merasa bahagia, akan selalu diterima, akan selalu di butuhkan, akan selalu dihubungi, akan selalu selalu selalu selalu selalu selalu.. dan selalu. Setelah mengingat itu semua, aku nangis.

Betapa sombongnya diri ini, betapa begitu percaya dirinya diri ini bahwa akan selalu berada di atas angin kebahagiaan. Padahal dia sudah pernah ngomong, "mungkin ya, bakal ada saat dimana perasaan kaya gini bakal memudar". Aku paham maksudnya, aku cuma tidak mau mikir negatif. Sebulan terakhir aku sering menghubunginya, bahkan selalu aku yang memulai percakapan. Tapi, keliatannya dia lagi sibuk atau melakukan sesuatu, atau mungkin dia punya prioritas lain yang lebih penting sehingga respon-respon di obrolan terlihat tidak tertarik melakukan obrolan, aku tidak tahu. Kita sudah jarang ngobrol via whatsapp. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk mode Standby sampai dia mulai menghubungi aku lagi. Aku tidak akan "mengganggu"nya untuk sementara. Tak enteni sak tekanmu, katresnanku.

Much love.

.

Aku bukan penulis, wajarlah tulisanku menjijikkan. Aku tau, tidak usah menghakimi begitu. Kan aku cuma sharing, agar uneg-uneg ini tidak bergumul berubah menjadi bom waktu. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TERMINAL LUCIDITYStories to obsess over. Discover now