Part 1

24 3 0
                                        


"Baiklah, saya terima lamaran nak Adi kepada putri saya Maya Herianti." Jawab wanita parubaya yang kupanggil Ibu itu di hadapan tamu yang duduk melingkar mengikuti aturan sofa.

Aku yang duduk di sampingnya terbelalak. Bagaimana bisa ibu mau menikahkanku dengan seorang Duda beranak kembar.

Dia yang kukenal sebagai pribadi yang tegas, yang melarang keras putra dan putrinya menikah di usia belasan tahun. Kini seakan tertelan oleh dalamnya mas kawin yang diberikan keluarga Mas Adi padanya.

Namanya Adi Setiawan. Pria berumur 28 tahun, memiliki sepasang anak kembar. Dengan berani membawa orang tuanya ke rumah seorang gadis berumur 18 tahun dan melamarnya. Sepertinya perbedaan umur tak mengurungkan niatnya untuk mempersunting diriku ini.

Ku dengar dari cerita Ibu dia ditinggalkan istrinya saat kedua anaknya berumur 2 tahun. Tepatnya sebulan yang lalu. Umur anaknya yang masih balita membuat Mas Adi kewalahan merawat anak kembarnya tersebut. Ia sendiri tak mau menyewa seorang pengasuh karena tak mempercayai orang asing.

Pernikahan pun ditetapkan dua minggu setelah lamaran. Jelas sekali mereka buru-buru dengan alasan bahwa Mas Adi tak bisa mengambil cuti lebih lama, sekalipun dia pendiri perusahaannya.

Tibalah hari H. Hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga yang nantinya akan menjadi besan. Setelah Ijab Kabul dilantunkan Mas Adi pada percobaan kedua, para saksi pun serentak berkata "sah". Esoknya aku di bawa Mas Adi ke kota. Bukan tanpa sebab melainkan ada urusan yang harus Ia selesaikan.

Setelah perjalanan 4 jam menggunakan mobil Mas Adi akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang memiliki dua lantai. Mas Adi membukakan pintu mobil untukku dan tak lupa kedua balita yang sedari tadi tidur di pangkuanku diambil salah satunya. Hanya sunyi yang menemani kami saat memasuki rumah. Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai menjadi irama pengiring di antara kami.

Ruang demi ruang kami lewati, Mas Adi mengenalkanku pada setiap ruang yang kami lewati. Ia hanya berbicara seperlunya, tak ada basa basi di antara kami.

Aku tak berani mengatakan apa pun. Aku masih tak habis pikir Ibu menikahkanku dengan seorang Duda kaya. Sebenalu itukah diriku Ibu? Sebeban itukah diri ini Bu? Sampai-sampai kau melepaskanku pada Duda ini? Batinku.

"Dek Maya tidur di kamar sebelah yah." Kata Mas Adi Membuyarkan lamunanku. "Maaf ya Dek? Saat ini kita jaga privasi masing-masing dulu. Soalnya Mas belum kenal Adek. Biar waktu yang mendekatkan kita ya Dek" lanjutnya tak memandangku sama sekali tapi ia tetap tersenyum sambil menunduk. Ada penyesalan di matanya. Apakah itu penyesalan karena telah menikahiku atau ada alasan lainnya?

"Iya Mas, ngga apa-apa. Terima kasih Mas karena sudah memberikan privasi pada Adek, Mas." Kataku sambil tersenyum kepadanya. Dia pun mengangguk dan meninggalkanku menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamarku sekarang.

Aku pun masuk dan berniat untuk mandi. Mengingat perjalanan yang kami tempuh membuat kepalaku pusing dan badan terasa lengket. Membuatku ingin segera mandi.

Selesai mandi aku pun mengganti pakaianku dengan piyama yang kubawa. Selesai mengganti pakaian kudengar kedua balita kembar itu menangis aku pun lari keluar kamar dan mencari asal suara tersebut yang ternyata berada persis di sebelah kamar Mas Adi. Aku pun membuka pintu dan kulihat Mas Adi sedang kewalahan menenangkan keduanya. Bahkan dia sendiri pun masih mengenakan handuk yang hanya menutupi pinggang sampai pahanya dengan rambut yang masih basah dan bisa kutebak kalau dia baru saja selesai mandi.

Melihat tampilannya seperti itu membuatku keluar dan menutup keras pintu namun suara tangisan kedua balita itu membuatku sadar bahwa sekarang aku adalah Ibu mereka dan istri dari Mas Adi dan untuk itu aku di sini.

TBC............

***

Buat  yang udah baca Part 1 maksih yah :) jngn lupa like and follow untuk mendapatkan notifikasi dri next part Slpy dan informasi cerita baru dri aku. 

Maksih

SlpyOù les histoires vivent. Découvrez maintenant