him.

38 0 0
                                        




Aku suka banget nulis. Bukan, bukan tulisan-tulisan romantis ala Rintik Sedu. Bukan tulisan jenaka ala Fiersa Besari. Bukan puisi-puisi menghanyutkan ala Wiranegara. Aku nggak bisa nulis ala-ala anak sastra yang punya ribuan kosakata. Aku cuma orang dengan kosakata dan ilmu standart yang mau mengabadikan hal-hal baik lewat tulisan. Makanya, aku lebih sering nulis ketika aku bahagia. Ketika aku terkagum-kagum sama kuasa Allah. Ketika aku bisa ngelewatin badai yang aku kira nggak akan ada habisnya. Ketika aku bersyukur sama orang-orang baik disekitarku. Salah satunya adalah dia.

Sobi-sobiku ini tau banget aku bodoh, kalau urusan hati. Egita sampai pernah bilang, sebodoh-bodohnya aku soal cowo, aku heran kok seseorang kayak ko bisa lebih bodoh daripada aku. Jiaaakh, segitunya emang? Loh tapi kok yang lain pada setuju? Dina pernah bilang, girl you need to learn the difference between love and lust. This is lust, not love. Kalian harus tau, Dina itu jarang salah. Pas banget dikasus yang sama Anggi nambahin, ko itu nggak lagi jatuh cinta nab. Ko itu lagi kesepian, banyak masalah, terus dia kebetulan ada dan bikin ko ngambil keputusan yang salah. Nggak heran kalo Teteh selalu ketawa kalo denger cerita mellow-ku tentang laki-laki, kayaknya dia selalu tau aku lagi-lagi bikin keputusan bodoh.

Nggak ada satupun pernyataan diatas yang menjelaskan tentang perasaan aku terhadap satu orang ini. None of those words define the feeling I felt for that one person. I didn't fell for him because I'm lonely or lost. I fell for him because since the first time I get to know him, I know he is different. His personality never stop amazed me. He's the only one who can make me cry because of his sincerity. After 7 years, I still remember everything about him.

Sengaja pake bahasa inggris, bukan karena pinter, supaya nggak cheesy-cheesy banget aja.

Dulu, aku berteman sama mantannya di SMP, kita anggap saja nama mantannya ini adalah Dian, ini nama samaran ya people. Dian sering banget nelfon buat curhatin dia, kadang sampai nangis-nangis jadi aku sempet mikir, dasar laki-laki, ada aja tingkahnya walaupun tau Dian ini emang agak dramatis. Nggak penting ya? Gapapa, cuma mau pamer, iniloh aku masih inget darimana pertama kali aku denger nama dia.

Aku juga inget pertama kali lihat dia. Masih waktu SMP, dia lewat didepan kelasku, dengan baju batik birunya itu. Kita sekolah di dua sekolah yang berbeda, cuma gedungnya bareng aja alias sekolah dia numpang disekolahku guys, hahaha. Cuma ngeliat aja terus akhirnya nanya Shania, kira-kira gini percakapannya.

Shan, shan. Itu si asdfghjkl kan?

Mana? Oh, iya. Kenapa?

Gapapa.

Hih kenapa? Temen les ku loh itu.

Nggak penting lagi kan? Gapapa, biar nyambung ke cerita selanjutnya. Soalnya, kalau mereka nggak satu les, mereka nggak akan follow-followan di Twitter dan dia nggak akan tau aku. Pasti kalian bertanya-tanya kan mengapa begitu? Apa hubungannya? Jiakh, kayak ada yang baca aja. Padahal tulisan ini kalo di post di blog juga nggak akan ada yang baca. Shania yang sangat update ini, nge-post buaaanyak banget foto geng kita pada saat itu ke twitter dan dari situlah dia pertama kali lihat aku. Di-follow deh. Segitu aja cerita follow-followannya soalnya kalo aku ceritain dari point of view dia, keuwuan Geez dan Ann nanti kalah sama kita. Lalu kita ujian nasional selayaknya siswa pada umumnya, lulus, mendaftar sekolah lagi dan disinilah ceritanya baru benar-benar dimulai. Loh terus daritadi apa?

Hari pertama mos aku udah super badmood karena gugusku nggak bareng Shania dan Tasya, plus setiap gugusku tampil selalu aku yang dipaksa berdiri paling depan. Tapi, saat berdiri didepan itulah pertama kali aku lihat dia dengan jelas. Di semesta yang luas ini, kita yang tadinya agak satu sekolah, jadi bener-bener satu sekolah. Di hari pertama mos itu juga, akhirnya dia dm aku untuk minta followback.

life treasure.Where stories live. Discover now