Sudah dua pekan, Mark saat ini berambut blonde agak panjang itu merutuki dirinya sendiri saat pisau cukur melukai janggutnya, pantulan dirinya membias di cermin, betapa kusamnya penampilannya saat itu.
Ia terlalu bosan untuk mengiyakan ajakan beberapa teman-temannya saat mencoba membuatnya keluar dari rumah barunya di tengah kota ini, belum saja ia sudah merindukan rumah orangtuanya yang sejuk dan memiliki telaga buatan milik keluarganya di pinggiran kota.
Lagi, untuk keempat kalinya ayahnya menikahi seorang wanita lagi, ia anak tunggal dari pernikahan pertama ayah kandungnya, dan kini untuk pertama kalinya ia berharap semoga pernikahan kali ini bisa langgeng setidaknya lebih dari enam bulan. Ia sudah lelah berbasa basi.
Kali ini atas perintah ayahnya ia harus menjadi dewasa untuk mandiri, ia diberi satu rumah mewah yang besar di tengah kota, dua minggu yang lalu ia memindahkan barang-barang miliknya untuk dipindahkan di rumah ini. Namun yang menjadi beban baginya, bahwa ia harus tinggal bersama saudara barunya, ia tak pernah tau seperti apa anak istri keempat yang berhasil meyakinkan hati ayahnya. Bagusnya, tempat tinggal saat ini sangat berdekatan dengan Universitas tempat ia belajar.
Jam menunjukan pukul dua siang, dan dua jam lagi anak itu akan datang menjadi tamu tetap, sebenarnya Mark terbiasa hidup sendiri dan ini sedikit menganggunya.
Ia telah menyia-nyiakan waktu hanya dengan tidur dan membiarkan televisi nya tetap menyala, ponselnya senyap, terakhir kali berbunyi dari ayahnya yang menyampaikan kabar bahwa sebentar lagi Perth akan datang. Dua tahun lebih muda dari Mark, hanya itu fakta yang ia ketahui, selebihnya ia tidak tertarik mengenai saudara tiri barunya itu.
Mark berguling dan terjatuh dari tempat tidur, ia bermimpi di kejar kejar angsa dan kaos oblongnya terkoyak. Mimpi konyol di siang bolong. Ia melirik weker digital di atas nakas, ini sudah tak siang lagi. Angka angkanya berubah menjadi jam tujuh lewat seperempat, diluar menggelap, apalagi di dalam rumah besarnya. Apa sebenarnya tadi ia jatuh pingsan?.
Secepat kilat ia mengecek ponsel dan ia dapati persegi itu mati kehabisan baterai, Matilah kau!.
Dalam ruangan yang gelap ia mencoba menyalakan lampu disetiap ruangan, bulukuduknya meremang, ia bukan sosok penakut, bukan pula indigo, hanya saja ia merasakan ada sosok lain didalam rumahnya.
Belum sempat ia menekan saklar disisi kirinya, bayangan hitam berdiri persis didepan matanya. Napasnya tercekat, mulutnya seperti diberi lem, ia terlalu belum siap mencerna apakah ini nyata atau bukan karena kelamaan tidur. Saat mendapati kembali tenaganya, sebuah umpatan lolos dari mulutnya.
"Terimakasih sambutannya". Lampu kristal mulai menyala terang.
"Mr. Sam yang memberitahu password nya." Wajah dingin masa bodoh juga tatapan yang tak bersinar menyapu penglihatan Mark, laki-laki didepannya masih menggendong ransel, ada beberapa koper tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aku Pe-"
"Aku tau."
Tak ada kecanggungan diantara mereka berdua, tak ada kesan pertama yang sopan. Mark yang cuek dan Perth yang sepertinya terlalu malas untuk bicara panjang lagi, membuat hawa disekitar mereka menjadi dingin.
"Kamarmu diatas, berhadapan dengan kamarku." Mark melanjutkan langkahnya menuju depan melewati Perth tanpa ada niatan untuk membantunya sama sekali.
"Kau datang terlambat, sangat. Dan anggap saja ini rumahmu sendiri." Perth yakin, ada penekanan pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mark.
"Jika tiga jam yang lalu kau membukakan pintu, keterlambatanku tidak terlalu sangat."
Mark menghentikan langkahnya, berbalik tanpa suara. derap langkah pelan menaiki tangga dengan tegap. Ia sadar bahwa tebakannya meleset jauh, Perth bukanlah sosok bocah kekanakan, bertubuh tambun, berwajah bulat dalam gambarannya.
Satu hal yang pasti, ia tak menyukainya.
My first fanfiction about #PerthMark or #MarkPerth. Kapalku berbelok sesak setelah menonton #TheStranded Netflix series. Karena momen mereka limit jadi kupuaskan saja imajinasiku dengan sebuah gambaran tentang mereka berdua.
2020-Kira-💚
YOU ARE READING
WHEN ASTILBE WAS FALL || Perth-Mark
Romance"Aku akan tetap disisimu meski kau sudah menjadi mayat". Lalu, siapa yang akan menjadi mayat dahulu jika salah satunya berkata demikian?. Siapa yang akan mengalah dengan dirinya, jika keduanya sama-sama memiliki lubang hitam dalam hatinya?
