Berjalan...
Tak tentu arah pijakan.
Hingga rasa haus tak lagi terasa menyebalkan.
Hingga rasa lapar tak lagi terselimuti kebencian.
Hingga rasa lelah tak lagi dalam angan kesusahan.
Hingga rasa kantuk tak lagi menjadi kelemahan.
Tertunduk menatap jalan...
Fokus menapaki bumi agar tak terjatuh.
Agar Tak ada lagi sifat mendongak untuk mengeluh.
Agar tak adalagi sifat menoleh untuk mencari sosok yang lebih tangguh.
Agar tak ada lagi sifat pandangan memandang yang terasa begitu acuh.
Agar tak ada lagi sifat yang membuat hati selalu merasa jenuh.
Wahai langit yang menghiasi setiap langkahku.
Wahai awan yang menaungi setiap bayangku.
Wahai pohon yang menyejukkan setiap istirahatku.
Wahai bumi yang telah rela mejadi alas berjuangku.
Wahai engaku angin yang menyapu keringatku.
Terimakasih ku ucap pada-MU Dzat yang maha berkuasa.
Terimakasih ku ucap pada-MU Dzat yang maha sempurna.
Lukisanmu sungguh sempurna.
Hingga tak ada titik lemah untukku mengadu atas ketidak adilan-MU.
Engkau lah Tuhan semesta alam.
Terimakasih ku ucap atas umur panjang untukku mecari pintu maaf-MU
Janjikanlah padaku sesuatu-MU yang bisa mengajarkanku untuk selalu menjadi makhluk yang taat dalam bersyukur.
***
Hidangan pembuka sudah tersaji di atas sebagai rasa syukur saya yang masih di beri nafas oleh sang pencipta.
Redup suasana dalam kotak persegi saya menikmati malam yang hanya berteman secangkir kopi hitam pahit dan sebatang rokok untuk mencari inspirasi mennyusun abjad demi abjad guna mencipta kalimat bersusun yang menyejukkan hati.
Saya ingin bercerita, bercerita tentang lika-liku kehidupan, yang kadang senang, kadang susah, kadang sapi, kadang kambing dan kadang jerapah.
Menoreh tinta hitam di atas kertas putih adalah luapan sebuah keresahan yang saya alami, sebab saya hanya bisa menulis keresahan saya tanpa saya bisa mengekspresikannya. Sebab saya adalah orang berwajah tanpa ekspresi, dan bukan berarti wajah saya datar seperti jalan aspal.
LANJOOOOOT...
Menari kan gagang pena dengan pelan, menyesapi setiap keresahan imajinasi pola berfikir saya yang tak tentu arah. Entahlah... mungkin saya akan menceritakan sedikit keresahan saya tentang pengalaman di hari kemarin yang mungkin akan membuat saya teringat jaman dahulu kala. Tentu akan membuat saya bernostalgia mengenang hari kemarin atau masa lalu saya saat bersama keluarga, teman sekolah, teman bermain, atau mungkin bersama kekasih yang pernah singgah di sudut hati saya yang paling dalam sedalam lautan biru.
Dan sebuah keresahan pertama yang akan saya tulis adalah ketika saya cek kesehatan ke Dokter dan saat menebus obat di apotik.
Kapan hari yang lalu saya mengalami gejalah GREGESI ( panas dingin), dan saya di suruh ibu tercinta saya untuk periksa ke pak mantri terdekat, eh maksud saya ke pak dokter terdekat. Saat saya sudah selesai cek penyakit saya yang ternyata saya mengidap penyakit GREGESI, saya di kasih resep oleh pak dokter.
"Kamu sakit GREGESI aja minta di suntik," ucap Pak Dokter yang bernama Bapak Juma'in bin Kadir tersebut.
"Saya takut Pak Juma'in," timpalku pada beliau.
"Kamu itu takut apa? itu penyakit biasa tidak berbahaya seperti corona yang akan membuatmu meninggal dunia dalam waktu dekat," sebuah pertanyaan dan penjelasan keluar dari bibir tebal tak berbody milik Pak Juma'in.
"Nah itu, saya kwatir terjangkit virus corona yang sedang merajalela pak, masak iya saya harus co'id muda, apa kata ayah ibu saya nanti yang udah bikin acara besar-besaran saat saya di sunat dulu. Saya juga masih muda, masa depan masih panjang sepanjang jalan kenangan saat dulu dengan mantan saya pak." jawabku dengan candaan yang sejatinya adalah sebuah ungkapan keresahan yang tak kuasa menahan pedihya menyandang nama besar yaitu presiden jomblo.
