"Sejak kapan kau mencintaiku?"
"Saat pertama pandangan kita bertemu."
"Kalau begitu, untuk apa aku membiasakan jumpa demi cinta yang ternyata hadir pada tatap pertama?"
"Ya.. untuk menumbuhkan dan menguatkannya, mungkin."
***
(Y/N) PoV
Cahaya bulan menjadi satu-satunya tumpuan aku berjalan. Perlahan namun pasti, jarak antara pintu belakang rumah dengan aku semakin dekat. Samar terlihat bayangan lelaki yang sudah kukenal semenjak otakku dapat mengingat.
'ah, ini dia yang dipinjamkan Mari.' Aku merogoh topeng gorila yang tersimpan di dalam tasku. Mengenakannya hingga jarak pandanganku tak seluas biasanya. Nafasku pun tak seluasa beberapa detik sebelumnya. Memang sedikit tidak nyaman, tapi aku sudah menantikan momen ini. Aku benar-benar tidak boleh melewatkannya dan harus mengabadikannya.
Krieeeet
Brakk
"Rin nii-saaan!! give me something to eaaaat!!!!"
"Aaaaaaarrghh!!"
Mendengar reaksinya, aku tau usahaku berhasil. Sigap aku menekan tombol potret pada kamera ponselku. Meskipun pandanganku terhalang topeng, tapi teriakannya membuatku sangat yakin dia membuat ekspresi selain ekspresi datar yang selalu ia kenakan.
Tapi tunggu sebentar. Rasanya ada yang aneh. Seingatku suara kakakku tak seberat itu.
'Apakah aku salah masuk rumah?'
Otakku terhenti sejenak. Udara panas dalam topeng seketika berubah menjadi dingin karena keringat gugupku. Apa yang harus aku lakukan jika aku memang salah masuk rumah? Bukankah aku akan dikira pencuri atau perampok?
Perlahan aku buka topeng yang sedari tadi menutupi pandanganku. Ku buka mata untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Nafasku terhenti, keringatku semakin deras, jantungku berdetak terlalu keras hingga terasa sakit. Bahkan tanganku kehilangan tenaga untuk sekedar memegang ponsel dan topeng.
Berdiri tepat di depanku, dua orang yang asing. Otakku tak memiliki memori tentang mereka. Seorang yang lebih pendek dari kakakku sedang mematung kaget dengan penggorengan di tangan kanannya. Seorang lagi setinggi kakakku tapi lebih besar dan berkulit gelap mengelus-elus dadanya. Sepertinya dia yang tadi berteriak.
"Ada apa?" Ucap lelaki berambut abu yang tiba-tiba muncul.
"Aran kun, suaramu keras sekali?!" Kini muncul yang rambutnya kuning.
"ka... kagebunshin?!" Sepertinya memang benar. Ini bukan rumahku.
Aku terus mematung dan mencoba memproses apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya aku lakukan. Hingga dari belakang lelaki berambut kuning terdengar suara yang familiar di telingaku.
"kau sudah pulang, (y/n)?"
aku tidak tau suara yang biasanya sangat menyebalkan bisa membuatku setenang ini.
"Rin nii-saaaan!!" Aku berlari ke arahnya dengan tangan terbuka. Aku benar-benar butuh seseorang untuk menenangkan debaran menyakitkan yang ku rasa. Tapi sepertinya suatu kesalahan ketika aku meminta kakakku melakukan tugas itu.
jduk
Dahi manisku mencium tembok
"Gak usah ngehindar juga, Rin nii-saan!"
"haha" tawanya sinis. sangat menyebalkan.
"Dia adikmu, Suna?" Tanya lelaki penggorengan berambut silver.
"Sayang sekali, tebakanmu tepat, Kita-san. Sayangnya, bocah ini memang adikku. sangat disayangkan."
"kenapa ngomongnya gitu, sih? emangnya aku salah apa?"
"salahmu? lahir ke dunia ini." jawab kakak sipitku sinis.
Seorang berambut abu seolah tidak mau kalah, menimpali "Ah, kesalahan yang sama dengan Tsumu,"
"Apa katamu, hah?!" sergah yang mukanya sama tapi berambut kuning.
'Ah.. ini dia, kakak menyebalkanku dan ucapan menyebalkan miliknya.' Tapi harus ku akui, walaupun bukan pelukan hangat yang ku dapat, ejekannya membuatku lebih tenang dan merasa seperti di rumah.
"aku tau nii-san sangat sayang padaku, makanya banyak pake 'sayangnya.. sayangnya..' ya kan?" how you like it huh? my sassy attitude, that is!
'Ah, sepertinya aku kelewatan'
Aku hampir lupa ada orang di rumah selain aku dan kakakku.
Sepertinya ucapanku barusan membuat para lelaki ini kebingungan dan membuat suasana menjadi canggung, hingga lelaki yang tadi berteriak membuka suara untuk memecah keheningan. Dia mengenalkan kalau mereka adalah tim voli dari SMA Inarizaki. sekolah kakakku. Mereka datang bertamu merembukkan masakan apa yang harus dibuat untuk lomba masak antar eskul minggu depan.
hah? lomba masak? bukannya biasanya lomba estafet atau semacamnya?
"OSIS tahun ini terlampau kreatif." ucap rambut silver bernama Kita Shinsuke seolah tau pikiranku.
Ojiro Aran yang tinggi dan bekulit gelap mengangguk setuju.
"Kabuna ibwlah, kebwadiran abwu dan Sabwuu sangwt diberlukwan!"
(karena itulah, kehadiran aku dan Samu sangat diperlukan) acungan jempol kembar Miya Atsumu dan Osamu berbarengan dengan mulut mereka yang penuh.
Mereka agak aneh..
"yah.. begitulah. cepat pergi ke kamarmu."
ucap kakakku datar sambil mendorong punggungku agar mempercepat langkah.
"kalau begitu, saya permisi, kakak-kakak semua. maaf atas ketidak sopanan saya."
"Tunggu"
"Ya?"
"Namamu?"
"Suna (y/n), kak."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita's Exception [Kita Shinsuke x Reader] [END]
Fiksi Penggemarcinta itu datang tiba-tiba atau kebiasaan yang diadakan? Tentang Suna (name), adik Suna yang jatuh hati pada sang kapten Inarizaki. Juga dengan Kita Shinsuke yang kadang tidak bisa menjadi dirinya yang biasa fanfiction Haikyuu!! © Furudate Haruich...
![Kita's Exception [Kita Shinsuke x Reader] [END]](https://img.wattpad.com/cover/241175025-64-k227910.jpg)