Perempuan Aneh

22 3 2
                                        

Siang itu, Ayun tampak mengacak-acak jilbabnya. Wajahnya tampak cemas, sesekali menyisir satu per satu buku yang ada di depannya.

“Cari apa sih?” tanya Fauzi yang melihat Ayun kebingungan.

“Astagfirullah, Mas! Bisa ketuk pintu dulu nggak sih?” cecar Ayun.

“Salah siapa pintu kamar nggak di tutup,” elak Fauzi.

“Sudahlah, pergi sana!” usir Ayun.

“Kamu mau ikut nggak?”

“Mau ke mana?” tanya Ayun.

“Mau jemput Abah sama Umi,” jawab Fauzi sambil berlalu. Ia tahu, kalau Ayun tidak mungkin menolak.

“Eh, Mas! Ayun ikut!” teriak Ayun dari dalam kamarnya dan berlari mengekori Fauzi.

Sesampainya di luar, Ayun melihat Fauzi sudah duduk di mobil dan siap untuk berangkat.

“Bentar, Mas. Ayun kunci pintu dulu.”

“Cepat! Punya Adek lelet banget,” omel Fauzi.

“Yeee, biar lelet begini juga adiknya Mas Fauzi,” ujar Ayun ketika sudah masuk ke dalam mobil.

Mereka pun pergi dengan mengendarai mobil abahnya. Hari ini adalah hari kepulangan Abah dan uminya, setelah satu minggu pergi ziarah ke makam Wali Songo.

***

Setelah memarkir mobil, dengan sedikit tergesa Fauzi memasuki bandara.

“Mas,  tunggu!” teriak Ayun yang baru turun dari mobil. Sedangkan Fauzi tidak menghiraukan sedikit pun teriakan Ayun.

Ayun sedikit berlari untuk mengejar Fauzi yang sudah terlihat jauh. Tanpa melihat sekitar, tiba-tiba tubuh Ayun menabrak dada bidang seseorang.

“Aduh!” pekik Ayun.

“Sudah puas peluk-peluk saya, Mbak?” tanya lelaki yang tadi ditabrak oleh Ayun.

Ayun mendongak untuk melihat wajah lelaki itu. Karena tubuhnya yang mungil mengharuskannya untuk sedikit mengangkat wajahnya.

“Dih, apaan sih, Mas? Saya bukan orang yang suka curi-curi kesempatan,” tegas Ayun.

“Terus yang tadi itu apa namanya kalau bukan curi-curi kesempatan?”

“Salah Mas sendiri. Kenapa berdiri di situ? Sudah tahu saya sedang buru-buru.”

“Emang saya peramal yang bisa nebak kalau kamu sedang buru-buru?”

“Seharusnya Mas tahu dong!” jawab ayun tak kalah sengit.

“Dasar perempuan! Tidak pernah mau mengaku salah.” Lelaki itu pergi begitu saja, meninggalkan Ayun yang masih menahan amarah.

Ayun pun melanjutkan aksi larinya untuk mengejar Fauzi. Bisa kena omelannya Abah sama Umi kalau dia sampai telat.

Dari jauh, ia melihat Fauzi sudah bersama Abah dan uminya.

“Assalamualaikum Abah, Umi,” ucap Ayun. Ia segera menyalami kedua orang tuanya.

“Dari mana, Nduk? Kok lama?” tanya Umi Aisyah.

“Em ... anu, Mi.”

“Heleh, Ayun kan memang lelet, Um,” potong Fauzi.

“Apaan sih, Mas,” ujar Ayun kesal. Bibirnya mengerucut sebal.

“Sudah, nggak usah berantem. Ayo, kita pulang,” ajak Umi Aisyah.

Mereka berjalan beriringan menuju mobil.

***

Furqon kembali mengecek alamat pada selembar kertas yang ia bawa. Sekarang, ia sudah berdiri di depan gerbang rumah tersebut.

“Bismillah, semoga nggak salah rumah,” ucap Furqon.

Malam semakin larut. Ia pun segera melangkah memasuki rumah tersebut. Rumah berwarna biru muda dengan taman yang ada di depan, membuat rumah itu terlihat asri dan damai.

“Assalamualaikum,” ucap Furqon setelah mengetuk pintu.

Selang beberapa menit belum juga ada jawaban dari pemilik rumah. Furqon kembali mengetuk pintu dan mengucap salam.

Cinta dalam Diam Stories to obsess over. Discover now