First Page Before I Go

32 2 0
                                        


Bahuku sudah hampir basah sepenuhnya akibat  tetesan air yang awan titipkan lewat atap halte bus ini, hujan yang sudah hampir satu jam  tidak juga mau mereda.

Ah, berteduh disini sungguh tidak membantu banyak. Keadaan nya yang penuh dengan orang-orang yang sama-sama berteduh membuatku terpaksa duduk di sisi bangku paling ujung, bahkan bokongku hanya menapak setengahnya

Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, orang yang kutunggu belum juga menampakkan presensinya

Sampai akhirnya pandanganku terkunci ke seberang jalan, tepat di manik tajam pria berkulit pucat yang kini tengah melangkah ke arahku dengan tangannya yang menggenggam sebuah payung

Aku melambai, tersenyum dengan mata penuh binar

Tunggu, dia tidak membawa mobilnya?

Kedua ujung bibir pria itu terangkat samar. Mengukir senyuman tipis, teramat tipis sampai aku bertanya apakah itu layak disebut senyuman?

"Kak Yoongi, kau tidak membawa mobilmu? Astaga lihat, kau jadi ikut-ikutan basah. Aishh, kau juga hanya membawa satu payung huhh?"

Aku melontarkan frasa pertamaku saat dia sudah berada tepat di depanku, mungkin itu lebih pantas disebut pertanyaan sekaligus omelan

Senyumnya tak lagi samar sekarang, sembari tangan lebarnya terangkat mengulur ke arahku

"Ayo.. kau pasti kedinginan"

Menghembuskan nafas kasar akupun beranjak dari tempat duduk tak nyamanku, astaga bokongku rasanya keram sekali

Kak Yoongi meraih sebelah bahuku, tubuhku ia rapatkan dengan tubuh hangatnya dan kamipun beriringan di bawah payung yang sama

"Kak Yoongi..."

Ujarku  sedikit merengek

"Hmmm..."

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi"

Tangannya yang semula berada di sisi bahuku kini berpindah untuk mencubit pucuk hidungku

"Kau mengomel bukan bertanya"

"Aishhh kak Yoon..."

"Mobilnya aku parkirkan di depan supermarket Raa, ini kita sedang menuju kesana"

"Kenapa tidak dibawa langsung kesini saja sih? Kak Yoongi jadi harus ikut kedinginan kan, kalau Kak Yoongi sakit bagaimana?"

Dia menghentikan langkahnya yang otomatis membuatku menghentikan langkahku juga

Ia menatapku, akupun sedikit mengangkat wajahku  untuk membalas tatapan matanya, tatapan yang teduh

.....Tapi tidak hangat

"Aku sengaja berjalan kesini agar bisa beriringan di bawah satu payung yang sama denganmu, dan berjalan sambil menggenggam tanganmu seperti ini, menghangatkanmu agar tidak kedinginan lagi"

Tanganku seketika sudah ada dalam genggaman tangan besarnya

Merah,
Pipiku memerah seketika
Kenapa reaksiku selalu seperti ini
Ini jelas bukan pertama kalinya tangan kita saling  bertautan
Tapi sensasinya selalu semendebarkan ini

"Ayo? Setelah ini aku belikan coklat panas kesukaanmu"

Aku mengangguk dan tersenyum meski dengan pipi yang masih bersemu


Dan sisa-sisa langkahku dan kak Yoongi hanya di isi oleh suara rintikan air dan tangan kami yang selalu bertaut seperti tak ingin terlepas

Meski genggamannya yang selalu sama

Seperti genggaman-genggaman sebelumnya, selama kita menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih

Tak pernah berubah

Genggamannya selalu terasa dingin

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 10, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MIN YOONGIStories to obsess over. Discover now