SATU

2 1 0
                                        

BAB 1: USIA TIGA PULUH DAN TEKANAN KELUARGA

Angin sore berhembus lembut menerpa jendela kaca besar di ruang tengah rumah Arini. Di atas meja makan yang terbuat dari kayu jati tua, tersaji berbagai hidangan lezat yang menjadi menu makan malam keluarga Puspitasari. Suasana tampak hangat, namun bagi Arini, kehangatan itu terasa dibalut sesuatu yang berat-sesuatu yang setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap pertemuan keluarga selalu menjadi topik utama yang tak pernah habis dibahas.

Arini Puspitasari, wanita berusia tepat tiga puluh tahun itu duduk tegak di kursi makan, punggung lurus, ekspresi wajah tenang namun matanya menyembunyikan rasa lelah yang mendalam. Sebagai seorang manajer pengembangan produk di perusahaan teknologi ternama di ibu kota, Arini dikenal sebagai sosok yang tegas, cerdas, dan sangat mandiri. Tidak ada proyek yang tak bisa ia selesaikan, tidak ada masalah yang tak mampu ia cari jalan keluarnya. Namun, menghadapi pertanyaan soal jodoh-hal itu terasa jauh lebih sulit daripada menghadapi klien paling sulit sekalipun.

"Arini, kamu sudah tiga puluh tahun lho, Nak," suara Ibu terdengar lembut namun penuh penekanan, membuat Arini menelan ludah pelan. "Teman‑temanmu yang dulu seangkatan denganmu, sebagian besar sudah memiliki anak dua atau tiga. Hanya kamu yang masih sendiri."

Arini meletakkan sendok dan garpunya perlahan, lalu menatap ibunya dengan senyum yang berusaha tetap sopan. "Bu, zaman sekarang usia tiga puluh itu belum tua kok. Banyak wanita yang baru menikah di usia jauh lebih tua dari aku, dan mereka tetap bahagia. Aku juga merasa baik‑baik saja seperti sekarang."

"Bahagia memang bahagia, tapi manusia butuh pendamping hidup, Arini," sahut Ayah yang sedari tadi hanya mendengarkan, kini ikut bersuara dengan nada bijak namun tegas. "Karier boleh sukses setinggi apa pun, namun pada akhirnya, tempat pulang yang paling hangat adalah rumah yang diisi oleh orang‑orang yang kita cintai."

"Tapi aku sudah punya rumah ini, Ayah. Punya kalian," jawab Arini berusaha mempertahankan pendiriannya.

Ibu menggeleng pelan, tangannya meraih tangan Arini yang tergeletak di atas meja. "Itu berbeda, Nak. Kami orang tuamu tidak akan selamanya ada di sisimu. Ibu ingin ada seseorang yang bisa menjagamu, menemani saat kamu lelah, dan menjadi tempat berbagi yang sama kedudukannya denganmu. Ibu tidak tenang melihatmu pulang ke rumah yang selalu kosong setiap hari."

Percakapan itu berlanjut hingga makan malam selesai. Arini tahu, niat orang tuanya tulus, namun rasa itu sering kali terasa seperti beban berat yang menekan bahunya. Baginya, kesendirian bukanlah kesepian. Arini sudah terbiasa mengatur hidupnya sendiri, mengambil keputusan tanpa perlu berkonsultasi, dan menentukan tujuan hidup sesuai keinginannya. Ia adalah workaholic sejati. Jam kerja sering kali menjadi batas antara hari ini dan hari esok. Di kantor, ia adalah pemimpin yang dihormati, ditakuti sekaligus dikagumi. Kesibukan menjadi alasan paling nyaman untuk menunda segala hal yang berkaitan dengan asmara.

Namun malam itu, Arini mendengar kalimat yang mengubah seluruh ketenangannya.

"Kalau sampai akhir tahun ini kamu belum juga mengenalkan seseorang sebagai kekasihmu di depan kami," ucap Ibu sambil menatap tajam namun sedih ke arah anak perempuannya, "Ibu akan mulai mencarikan jodoh yang cocok untukmu. Tanpa menunggu persetujuanmu lebih dulu."

Darah Arini terasa berdesir seketika. Ancaman itu bukan sekadar kata‑kata kosong. Arini sangat mengenal sifat ibunya yang tegas. Jika sudah berniat, pasti akan dilaksanakan.

"Bu... jangan begitu," tolak Arini cepat. "Itu zaman dulu. Sekarang kan bisa kenalan dulu secara santai."

"Kalau kamu mau kenalan secara santai, kenapa belum ada yang datang? Sudah tiga puluh tahun, Arini. Ibu sudah tidak sabar lagi menunggu," jawab Ibu tegas. "Keputusan Ibu sudah bulat. Atau kamu bawa seseorang, atau Ibu yang memilihkan."

Malam itu Arini naik ke kamarnya dengan perasaan kacau. Pintu kamar tertutup rapat, namun suara di dalam kepalanya seolah berisik. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin lemari pakaian. Wajahnya masih segar, matanya tajam berbinar, tubuhnya terawat baik. Secara fisik dan materi, Arini tidak kekurangan apa pun. Lantas mengapa orang‑orang di sekitarnya selalu menganggap ada yang kurang jika ia belum menikah?

Ponsel di saku celananya bergetar. Nama Amel tertera di layar. Sahabat dekatnya sejak masa kuliah dulu. Arini mengangkat telepon itu sambil menghela napas panjang.

"Halo, Mel?"

"Gimana kabar tuan putri yang baru kena omelan soal jodoh?" suara Amel terdengar ceria di seberang sana, seolah sudah bisa menebak isi kepala Arini.

Arini tertawa kecil namun getir. "Kamu tahu saja. Ibu sudah memberikan ultimatum. Kalau sampai akhir tahun belum ada yang aku kenalkan, beliau akan cari jodoh untukku."

Amel terkekeh. "Nah, itu kabar bagus dong. Berarti kamu nggak bisa lari lagi. Kebetulan nih, aku punya beberapa kenalan laki‑laki yang keren‑keren, lho. Salah satunya teman kuliah adikku, yang lain rekan kerja di kantor baru. Semuanya mapan, sopan, dan siap menjalin hubungan serius."

Arini mengerutkan kening, merasa makin tertekan. "Amel, kamu pun ikut‑ikutan menjodohkan aku? Padahal kamu tahu aku belum merasa butuh."

"Bukan ikut‑ikutan, Arini. Aku peduli sama kamu. Lagian, aku sempat ngobrol sama Nenekmu kemarin," nada bicara Amel berubah sedikit berbisik, seolah ada rahasia besar. "Ternyata Nenek juga sudah tidak sabar. Beliau malah minta aku bantu mencarikan calon yang baik. Jadi... aku sama Nenek sudah bersekongkol demi kebaikanmu."

Arini hampir melompat kaget di tempat tidurnya. "Apa? Kamu bersekongkol sama Nenek? Mel, ini sudah keterlaluan. Sekarang aku dikejar dari segala arah-Ibu, Ayah, Nenek, bahkan kamu sahabatku sendiri."

"Semua karena kami sayang padamu, Arini. Coba pikirkan, siapa yang tidak ingin melihatmu bahagia berpasangan?" jawab Amel tenang. "Besok sore aku ada jadwal kopi darat sama salah satu kandidat, kamu wajib ikut. Tidak ada penolakan."

Percakapan berakhir tanpa kesepakatan yang melegakan hati Arini. Justru kini lingkaran tekanan makin mengerucut. Ia merasa dikepung oleh harapan orang‑orang terdekatnya yang sebenarnya tulus, namun bagi Arini, rasanya seperti dipaksa masuk ke dalam kotak yang sempit.

Malam itu Arini terjaga hingga larut. Di hadapannya terbentang dua pilihan: menuruti keinginan keluarga dan menjalani hubungan yang mungkin belum ia inginkan, atau mencari jalan keluar lain yang lebih cepat-meskipun mungkin agak nekat.

Pagi harinya, saat matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah gorden jendela, Arini sudah bangun dengan pikiran yang lebih jernih namun penuh rencana. Di jalan menuju kantor, mobilnya melaju tenang, namun di dalam kepalanya, Arini sedang menyusun strategi.

Ia tidak ingin dijodohkan sembarangan. Ia juga belum siap membuka hati untuk cinta yang dipaksakan. Maka, satu‑satunya cara meredam kemarahan Ibu dan ambisi Nenek serta Amel adalah dengan menciptakan sosok yang seolah‑olah ada di dekatnya-seseorang yang bisa menjadi tameng sementara, sampai Arini benar‑benar siap berbicara soal masa depan.

Langkah kakinya masuk ke gedung perkantoran tempat ia bekerja. Semua menyapa dengan hormat. Arini tersenyum membalas, namun di matanya terselip rencana yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari ini, kantor sedang mengadakan wawancara untuk posisi asisten baru. Posisi yang kosong setelah asisten lamanya pindah tugas ke luar kota.

Siapa sangka, di antara berkas‑berkas lamaran yang menumpuk di mejanya, ada satu nama yang kelak akan mengubah seluruh rencana hidupnya-nama yang saat itu belum memiliki arti lebih dari sekadar calon bawahan baru: Ade Irawan.

❤JODOH ARINI❤Stories to obsess over. Discover now