Ariyan Varanta, pria muda dengan ketampanan di atas rata-rata, memiliki tubuh yang Atletis. Dia adalah salah satu pemimpin dari sebuah organisasi yang mengatur dunia bawah, tepatnya di sebuah kota bernama YK. Kota yang terkenal akan makanan khas yang manis, hidupnya biasa saja, meski ia adalah bos dari organisasi yang besar membawahi ratusan orang.
Sehari-hari ia hanya dikenal sebagai pria muda biasa yang bekerja di minimarket, tapi, ia bukan hanya sekedar pekerja saja, ia adalah pemilik dari minimarket tersebut. Di pagi hari, ia akan memberikan sapaan teramah untuk para pelanggan, senyum cerah selalu terpampang di wajahnya, senyum itu seperti matahari yang menyinari kegelapan, bagaikan hujan yang menyiram gersangnya gurun.
Apa yang tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya ialah ia memiliki kepribadian lain, hmm... bukan kepribadian lebih tepatnya sifat yang coba ia sembunyikan dari khalayak umum. Di malam hari ia akan mengubah sifat ramahnya pada para pelanggan, ia menjadi pemimpin dari organisasi yang tak terkira kejamnya.
Mematahkan tangan, melukai orang lain menjadi hal yang biasa untuknya, ia yang telah hidup di dunia gelap sejak berusia 18 tahun sudah melihat berbagai macam kekejaman di luar nalar. Melihat segala sifat buruk manusia, dulunya dia hanya pria yang biasa-biasa saja tanpa ada kaitan dengan dunia gelap, namun semua berubah pada satu waktu.
Hidupnya berubah 180 derajat setelah dia melihat perseteruan antara Ayahnya dengan sekelompok pria, ia masih ingat dengan kejadian pada malam yang dingin itu. Dingin di malam itu sangat berbeda dengan hari-hari biasa, tidak hanya membuat bulu kuduk berdiri, dinginnya malam itu membuat tulang menggigil.
Bulan bersinar dengan terang memancarkan cahaya yang indah, tepat pada jam 10:00 malam, ia dan kedua orang tuanya baru saja kembali dari YK Mall, sebuah Mall besar yang menjadi pusat dari hiburan dan perbelanjaan di Kota YK. Mereka kembali dari YK XXI, setelah menghabiskan 3 jam lebih di bioskop untuk menikmati sebuah film aksi, Varanta pulang bersama dengan kedua orang tuanya mengendarai mobil merek Dutsan Go Panda keluaran 2015.
Di jalanan yang sepi, mobil yang mereka kendarai di hadang oleh sekelompok orang tak dikenal, mereka membawa berbagai senjata tajam yang disembunyikan dengan baik. Varanta curiga dengan gerombolan pria yang menghadang mobil keluarganya, ia yang duduk di bangku penumpang melihat para pria itu dengan ragu.
“Tidak perlu dibuka, Pah! Biarkan saja... cepat tancap gasnya, hiraukan saja mereka,” ucap Ariyanti. Namun, ucapan itu tidak ditanggapi dengan baik oleh Ryan, ayah Varanta. Ryan keluar dari mobil dan menghadapi gerombolan orang tak dikenal yang merusak mobilnya, beberapa di antara para pria itu memukul mobilnya menggunakan balok kayu, walaupun berukuran.
Varanta yang berada di dalam mobil tidak keluar untuk membantu ayahnya, dia mencoba untuk menenangkan ibunya yang gemetaran tak berdaya akan keputusan Ryan untuk keluar dan bertanya akan maksud kelompok pria tak dikenal itu atas perusakan mobilnya. Ryan dan Ariyanti adalah sepasang suami istri yang berjalan di jalan yang benar, tidak memiliki saingan bisnis, karena mereka hanya menjalankan minimarket kecil yang hingga detik ini masih Varanta jalankan.
Ingatannya hanya jelas sampai pada waktu tersebut, setelah itu ia hanya merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat dari belakang yang mendorong dirinya hingga membentur ke kaca, selepas itu ia tak sadarkan diri. Lantas, ia hanya mengingat dirinya terbaring di sebuah ruangan yang bersih dan melihat ada beberapa perawat wanita di sampingnya.
Sesaat setelah ia tersadar, ia dikunjungi oleh dua orang polisi yang memberitahu tentang kecelakaan yang dialaminya, kedua orang tuanya tidak bisa diselamatkan, mereka tewas dalam kecelakaan mobil. Akan tetapi, Varanta tidak menerima penjelasan yang polisi berikan begitu saja, dia menanyakan tentang sekelompok pria yang ada di lokasi yang sama, namun dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari para polisi.
Karena kejadian itulah Varanta memutuskan untuk masuk ke dunia gelap hingga dia mampu mendapatkan posisinya saat ini, setiap kali dia mengingat akan kejadian itu, Varanta tidak bisa menahan diri, dan ia akan melampiaskannya pada sebuah pertarungan. Meskipun ia kejam, dia tidak akan menghajar orang yang tidak bersalah. Varanta memegang teguh akan prinsipnya untuk tidak melukai orang-orang tak bersalah, dia hanya akan kejam pada lawannya serta orang yang mengusik kehidupan pribadinya.
Seperti hari-hari yang lalu, ia duduk merenung memikirkan masa lalu, duduk di atas kursi sambil melihat para pelajar yang lalu lalang berjalan melewati minimarketnya, ia baru saja menyelesaikan semua tugasnya, merapikan barang-barang di rak sekaligus mendata barang-barang yang ada di rak-rak penjualan.
Wajahnya datar ketika menunggu pelanggan, memegang sebuah ponsel pintar di tangannya, ia mengusap ponsel ke atas dan ke bawah, melihat-lihat beberapa informasi di timeline Ig-nya, duduk dan menanti pelanggan sangatlah membosankan, ia hanya terus mengusap ponsel pintarnya, dia membaca beberapa berita yang menarik perhatiannya, lantas ada panggilan masuk ketika dia sedang asyik melihat-lihat timeline ig-nya.
“Bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak menghubungiku di pagi atau siang hari? Jangan mempermainkan perintahku! Jika ini bukan masalah besar, kau tahu akibatnya!” ancam Varanta, ia menyipitkan matanya, pandangannya begitu dingin, begitu juga suaranya. Ia tidak menyukai jika dihubungi oleh anggota organisasinya pada pagi atau siang hari.
“Maaf, Bos. Ini masalah darurat... ada beberapa masalah besar di wilayah kita, mereka berulah kembali dan merusak beberapa tempat yang kita lindungi.” Suara dari ponsel Varanta terdengar gugup dan takut.
Varanta terkenal akan kekejamannya di dunia gelap, ia tak segan-segan untuk melakukan tindakan yang keji bahkan pada anggotanya sendiri ketika mereka melanggar peraturan. Varanta berdiri, ia mengubah sikapnya, ia berbalik dan mengarahkan pandangannya ke arah gudang agar tidak dilihat oleh orang-orang yang melewati minimarketnya.
“Aku tidak peduli!!! Apakah mereka berulah atau tidak, ini hanya masalah ringan, kau dan yang lain bisa mengatasinya saat ini, aku akan membantumu, tidak sekarang tapi nanti malam. Jangan menghubungiku di siang hari... aku harus mengurus minimarketku,” ucap Varanta dengan nada dingin.
Selepas itu ia menutup ponselnya dengan kesal, ia kembali duduk dan melihat lalu lalang orang-orang yang hanya melewati minimarketnya, hingga ada seorang wanita yang berparas cantik dan anggun, wanita itu terlihat manis, dengan tubuh yang tak terlalu tinggi. Wanita itu tidak mencari barang-barang di rak, namun bergegas menghampiri Varanta.
“Permisi, Kak. Apa lowongan itu masih ada? Aku ingin mendaftar... hmm... tentu masih ada bukan, pemberitahuan itu juga baru-baru ini.” Suara wanita itu sangat manis dan renyah untuk di dengar. Varanta yang dari tadi hanya diam sambil mengamati area luar minimarket terkejut dengan suara yang renyah itu.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Retired Out of Love
RomantikAriyan Varanta, pemuda yang hidup di dalam dunia gelap, merangkap sebagai seorang pemilik minimarket pada siang harinya. Kehidupannya selalu monoton tanpa ada kejadian yang spesial, hidup seperti pria pada umumnya di siang hari namun berubah ketika...
