1. HUJAN TAK PADAM

19 1 0
                                        

Awan kelabu menyelimuti langit sehingga mentari tak tampak tenggelam sore ini. Air hujan mengalir membasuh genting rumah kayu milik seorang pria muda. Tetes air hujan membasahi jendela bulat rumah kayu kecil itu. Di halaman rumah tampak bunga-bunga yang indah juga basah terbasuh air hujan yang turun sejak siang tadi. Tidak jauh dari rumah kayu itu terdapat air terjun yang menjulang tinggi sekitar lima pulu meter. Air terjun itu mengalir deras hingga gemericik airnya terdengar ke dalam ruangan demi ruangan di dalam rumah pria muda tadi.

Sementara hujan turun di luar rumah kayu kecil sebelumnya, dari salah satu jendela bulat rumah itu terlihat kepala seorang pria muda. Pria muda itu adalah Ao. Dia sedang duduk di balik jendela dengan tangan memegang sebuah cangkir berisi tis –minuman sejenis teh—. Dia meneguk perlahan tis sambil menikmatinya. Tis masuk ke dalam mulutnya dan terasa manis. Tis terus melaju ke dalam tubuhnya dan terasa hangat. Minum tis tatkala hujan memang sangat cocok untuk menghangatkan tubuh.

Hujan terus turun di luar rumah hingga akhirnya Ao memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur membawa cangkir yang telah tandas isinya. Saat Ao berjalan menuju dapur, di dinding rumah tergantung sebuah bingkai kayu lusuh dan sedikit berdebu. Walau bingkai kayu itu lusuh dan berdebu, tetapi di dalam bingkai itu masih bisa terlihat sebuah gambar seorang kakek tua bersama dengan anak muda yang ia pegang bahunya.

Sesampainya di dapur, Ao langsung meletakkan cangkir yang ia bawa tadi. Setelah itu, Ao berjalan menuju lemari dan mengambil sayur brim –tumbuhan sejenis bayam— dari sebuah mangkuk yang cukup besar. Ia mengambil beberapa sendok sayur tersebut. Kemudian ia kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki saat menikmati secangkir tis. Suap demi suap ia makan sup brim hingga sup itu habis. Seperti sebelumnya, ia pun langsung menaruh mangkuk yang telah kosong ke dapur.

Hari mulai gelap, tetapi hujan masih turun. Sesudah menghabiskan semangkuk sayur brim tadi, Ao langsung menuju kamar. Kamarnya kecil, hanya ada kasur seukuran tubuhnya yang terbungkus kain lusuh. Tepat di sebelah kasurnya, ada sebuah lemari pakaian yang rapuh. Tidak ada lampu di kamar itu, bahkan di seluruh rumah kayu Ao. Dalam gelap ia berpikir tentang makanan yang akan ia masak esok pagi.

Di luar, hujan masih turunmengalahkan suara jangkrik yang biasa menghiasi malam Ao. Angin mulai terasasangat dingin. Ao menutup tubuhnya dengan kain tipis yang dia sebut selimut.Gelapnya malam dan gemericik air hujan akhirnya memaksa dia untuk terlelap.Perlahan matanya tertutup dan meninggalkan hari ini menuju hari esok. Namun,nanti malam tanpa sepengetahuannya akan ada sesuatu yang mengejutkan. Bukan suara serangga bukan pula gemuruh petir.

BeriliaStories to obsess over. Discover now