Tangisan Hati

11 1 0
                                        

Keindahan pada sore hari ini bagai gambaran dari hati dua insan yang sedang jatuh cinta, cinta kasih yang amat sangat indah dalam sejarah hidup mereka berdua. Hamparan pasir yang begitu luas, putih dan bersih dengan iringi sebuah hembusan angin yang sejuk dan suara gemuruh ombak yang datang ke pesisir pantai. Terdengar suara alunan ayat-ayat suci al-qur’an yang sedang dibacakan oleh seseorang yang berada di samping perempuan. Kenikmatan yang didengar selalu membawanya ingin selalu tetap bersamanya atas ridho Allah. Seseorang yang berada di sampingnya ini telah selesai membaca ayat suci al-qur’annya. Dia menghela napas dalam keadaan terus berjalan lurus dan berkata.

“Subhanallah… sungguh indah ciptaan-Nya.” Perempuan itu tersenyum dan menjawabnya, “Maha besar dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

“Ada yang ingin ku tanyakan.” Perempuan itu mulai berbicara serius walau kami masih tetap berjalan.
“Tentang?”
“Kita.”
“Kita?” Arif penasaran, dan menggerutkan alis.
“Iya. Aku ingin kita menjadi halal.”

Arif kaget mendengarnya, “Apa secepat ini?” gumam Arif memastikan.
“Kenapa tidak?” Arif bingung dengan penjelasan apa yang harus di katakan pada Vira. Dengan keadaan saat ini, apakah mungkin dia harus memaksakan dirinya untuk dapat memiliki sang pujaan hatinya itu? “Musibah sedang menimpaku.” Jawab Arif singkat. Vira mendengarnya dengan jelas, telah diduga sebelumnya bahwa Arif belum siap.

“Musibah apa?” tanya Vira dengan nada penasaran dan suara lembutnya. “Tak perlu kamu tahu, karena itu akan menjadi beban bila kamu tahu.” Arif menjawab seadanya.
“Lalu?” Vira semakin penasaran, apa laki-laki yang di sampingnya ini benar mencintainya atau tidak? Mengapa dia berkata seperti itu. “Aku belum bisa memutuskannya.” jawab Arif singkat.
“Bagaimana bila…” Vira memutuskan ucapannya. “Bila apa?” Arif penasaran, dan mulai sedikit cemas.
“Tidak. Lupakan saja, kita bicara lagi nanti.” singkat Vira.

Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara Arif dan Vira, mereka hanya berjalan lurus mengikuti arah jalur jalan. Menjelang akan magrib Vira sudah sampai di rumahnya dengan diantar oleh Arif. Sepanjang perjalanan tidak ada sebuah kata terucap dari salah satu dari mereka, sesampainya di rumah Vira menawarkan Arif untuk singgah sebentar tapi Arif menolaknya karena dia tahu hari hampir magrib dan dia pun memutuskan untuk pulang.

Dalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar dan sederhana, Vira duduk di kursi dengan mengahadap ke jendela, dengan pakaian yang rapi dan sedikit make up yang natural. Pandangannya dia luruskan ke depan tanpa arah yang jelas dengan pikiran yang kosong dan lamunannya dia hanya terdiam tanpa kata. Pintu kamar Vira diketuk oleh seseorang yang berada di luar. Ia menjawabnya, “iya, masuk.” Tanpa terasa air mata Vira menetes, Vira segera menghapusnya.

“Kenapa kamu Vir?” tanya mama Vira. Ia menggelengkan kepala.
“Ya sudah tidak apa-apa, kamu ke luar sekarang ya?” mama Vira mencoba menyuruhnya untuk menemui tamu papanya.
“Ma, apa bisa untuk saat ini aku tidak ke luar dulu? Lagian kan ini cuma perkenalan aja.” Vira mencoba mengelak.
“Justru ini perkenalan Vira, mereka ingin tahu kamu, tentang kamu dan bagaimana kamu.” mama membujuk Vira.
Vira menghela napas panjang, dia paksakan ke luar kamar walau hati berat untuk menerimanya.

Tanpa kabar dan apa pun dari sang pujaan hati, Arif hanya berbaik sangka pada Vira dengan mengira bahwa perempuan yang dia cintai itu sedang sibuk kerja. Tapi saat ini perasaannya sangat tidak enak, yang ada di pikirannya hanyalah Silvira. Ke mana engkau sang pujaan hati, aku di sini sedang merindukanmu. Pikiran Arif langsung teringat suatu kejadian saat bersama Vira ketika di pantai. Arif semakin bingung, di satu sisi musibah yang ditimpanya pun belum tentu bisa dilewatinya. Ibu yang sedang sakit, biaya dari mana Arif harus membeli obat dan membawa ibunya untuk berobat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 03, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tangisan HatiWhere stories live. Discover now