We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Pecahnya Kepercayaan

2.4K 15 2
                                        


"Erina" Teriak suamiku setelah buram yang ku lihat, badan ku sudah sangat lemas, aku senang naik mobil, sambil mata terpejam telinga masih bisa mendengar doanya selalu terpanjat.


Terdengar roda berputar, segera tubuhku diangkat dan diletakkan di tempat tidur rumah sakit, jarum infus menusuk tubuhku. 


"Bagaimana keadaannya dokter" Dokter masih memegang perut nadi dan dibuka mataku. Andai aku bisa terbangun, tapi badanku benar-benar lemas.


"Kami akan memeriksanya dulu pak, apa istri bapak ada penyakit menahun?"

"Ada dok, istriku thalasemia"

"Baik kami tangani dulu, bapak keluar ruangan dulu, biar kami terima suami bapak" Terdengar derap sepatu suamiku, mungkin dia belum ganti seragam, harus pulang kerja dari BIN.


Suaminku kerja di BIN, bekerja mengurus bagian administrasi di kantornya, aku sangat beruntung memiliki nya, rajin ibadah, menerima aku yang sakit seperti ini, bahkan ATM aku yang pegang. 

Aku sendiri seorang dosen di sebuah Universitas Swasta. 20 jt sebulan sering kami dapatkan. Syukur teramat bagi pemberi nikmat. 


Tubuhku telah berangsur kuat, sudah bisa membuka mata, ku lihat suamiku tidur di pinggir tempat tidur. Terlihat sangat capai.

Ku belai rambutnya, dia terbangun.


"Bagaimana keadaanmu sayang, sudah lebih baik?" Aku hanya mengangguk, ku lihat sekeliling, sudah ada di ruang inap. Beberapa menit kemudian dokter masuk keruangan. Dengan wajah bahagianya, beliau mendekati kami.


"Selamat pak bu, kalian akan memiliki momongan" Kabar yang dibawa dokter membuatku tak ingat akan sakitku, suamiku terlihat menangis lalu memelukku. 


Hamil dengan penyakit thalasemia tidak mudah bagiku, seringnya harus menginap di rumah sakit, suami yang selalu setia menunggu, karena orang tua di Sulawesi dan aku di Jakarta. 


Benar-benar bersyukur memiliki suami yang pengertian, karena seringnya sakit aku sering cuti memberi kuliah, syukurlah Kajur dan Rektor memberi keringanan.


"Bagaimana kabar anak dan istri ku" Ucap suamiku setelah pulang kerja sambil mencium kening dan perutku. Seringnya badrest untuk menguatkan janinku, karena tubuhku sering lemas. bahkan 1 bulan bisa 2 minggu aku menginap di rumah sakit. Pekerjaan rumah suami yang mengerjakan. Pulang selalu tepat waktu, selalu membelikan yang ku suka.


Banyak mungkin yang mengatakan hidupku menyenangkan, benar kami bulan madu saja di 4 negara, Allah benar-benar memberi nikmat nya.


Namun tak ada hamba yang tak diuji, benar penyakit ku adalah ujian, untuk kesabaran ku dan kesetiaan suamiku. Karena ku tak mampu melayani batinnya selama hamil, pernah mencoba, tapi tubuhku langsung keringat dingin, lemah dan hampir pingsan. Sehingga suamiku mengalah. Maafkan aku mas.


Kandunganku sudah masuk ke 5 bulan, ku lihat ada gelagat mencurigakan. 

"Er, kemarin ku lihat suamimu 1 mobil dengan wanita lain" Ucap teman 1 kampus saat menjengukku.


"Mungkin hanya teman kantornya"

"Semoga"


Ah walaupun kamu dengan wanita lain, aku bisa memaafkan mu melihat perjuanganmu pada ku, perhatianmu, ku maafkan kamu. Karena tak pernah sekalipun kamu terlambat pulang, semua uang aku yang pegang. Tak usahlah berfikir macam-macam. Ku fokus ke janinku saja.


"Maas sakit, ku bangunkan suamiku, ku lihat jam 2 pagi" 

"Mau lahiran kah sayang ,?" Wajahnya nampak khawatir, siap siap yang sudah siapkan jauh-jauh hari. Dia begitu memperhatikan langkahku dan menuntun langkahku menuju mobil.


Syukur Alhamdulillah pukul 5 pagi bayi laki-laki yang lucu lahir dengan selamat, suamiku menangis memelukku. 


"Terima kasih sayang" Lalu di kecup nya keningku


4 hari aku menginap di rumah sakit, akhirnya bisa pulang, aku sudah mencarikan ku seseorang yang menjagaku. Setelah mengantar dia kembali pamit kerja lagi, katanya hanya tersisa. Ku jawab dengan senyuman.


Hariku sangat bahagia, sampai datang seorang wanita muda mungkin jaraknya 5 tahun dari usiaku. Ku lihat perutnya membesar.


"Ada apa mbak?"

"Mas Bayu ada mbak?"

"Ada apa dengan suamiku?"

"Maaf mbak janin yang ada di perutku anak mas Bayu"

 

Penglihatan ku kabur, badanku lemas, gelap, akupun pingsan.


Ah nyatakah ini atau hanya mimpi, imam yang ku banggakan.

Ku Terima Hadiahmu Setelah MelahirkanStories to obsess over. Discover now