I found you again (다시 널 찾았 어)

44 9 10
                                        

Sepasang kaki berlari menyusuri jalanan yang gelap. Suara sepatu yang menghentak tanah terdengar jelas kala malam itu. Deru napas yang tidak beraturan terdengar dari mulut kecil Park Jihyu. Gadis itu berlari sangat cepat, demi mengejar bis yang sedang berlaju.

Alih-alih mengejar bis gadis itu malah menabrak laki-laki yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Bruk!

Jihyu terjatuh tepat diatas tubuh laki-laki itu, dia membuka matanya lalu melihat wajah laki-laki itu yang terlihat kesakitan. Ia segera bangun dari atas tubuh laki-laki itu dan meminta maaf.

"Mianhamnidha, a-aku tidak sengaja." Jihyu melihat wajah laki-laki itu yang malah bingung menatapnya.

"Aku yang salah, seharusnya aku tidak bermain ponsel tadi," laki-laki itu meraba-raba sakunya lalu mencari kesekitarnya tapi ponselnya tetap tidak di temukan. "Eoh? Ponselku ada dimana?" Laki-laki itu menatap Jihyu dengan wajah kebingungan-nya .

Jihyu yang merasa bersalah, akhirnya membantu laki-laki itu mencari ponselnya. Padahal seharusnya dia sudah di rumah sekarang.

"Apa ini ponselmu, sepertinya kacanya pecah." Jihyu merasa ragu untuk memberikan ponsel itu. "Ah mianhamnidha, aku seharusnya tidak berlari dan menabrakmu tadi. Aku merasa sangat bersalah." Jihyu menggaruk leher belakang-nya yang tidak gatal sama sekali, dia melakukannya karena merasa malu.

"Tidak apa-apa ini masih bisa diperbaiki, aku malah membuang-buang waktumu padahal kau sedang tergesa-gesa tadi. Maafkan aku." Jihyu bingung sekaligus luluh dengan sikap laki-laki yang sempat dia tabrak itu. Karena dimana-mana bila seperti itu kejadiannya maka dia akan dimarah, atau diomeli tidak jelas karena tidak bisa melihat. Kadang dia akhirnya ikut kesal dan menjadi malas untuk meminta maaf.

e m p r y l e

Pagi itu Jihyu kembali terlambat bangun. Dia berlari sekencang angin, sampai beberapa orang yang melihatnya mengira dia adalah atlet cabang lari Internasional. Saat masuk sekolah dia merasa seperti-nya Dewi Fortuna sedang berpihak dengannya. Jihyu masuk ke sekolahnya sebelum 1 menit kemudian gerbang sekolahnya di tutup.

Di kelas beberapa teman-teman perempuannya berkumpul membahas tentang siswa baru yang akan masuk dikelasnya. Hanya Jihyu yang terlihat acuh karena menurutnya itu tidak penting. Kemudian Jihyu memilih duduk sendiri dibangku belakang kelasnya, dia memasang earphone yang diselipkan ditelinganya kemudian menyalakan lagu di ponselnya lalu meletakkan kepala di meja.

"Pagi semuanya!" Kyung Gi Sonsaengnim menyapa anak-anak yang ada di dalam kelas.

"Pagi ini kita akan kedatangan siswa baru di kelas kita, ibu harap kalian bisa bekerja sama untuk membantu teman baru kalian." Kyung Gi Sonsaengnim menatap keluar pintu kelas dan memiringkan kepalanya memberi tanda untuk menyuruh murid baru itu masuk.

"Anyeonghaseo, aku Lee Soobin, salam kenal." Laki-laki itu tersenyum datar bahkan kelewatan datar, sedangkan Jihyu yang awalnya tertidur akhirnya terbangun. Awalnya dia tidak sadar sampai akhirnya dia terlihat sangat kaget karena anak baru itu adalah laki-laki yang tidak sengaja dia tabrak semalam.

"Yak! kenapa dia tampan sekali, Hyujin kau lihat itu." Kim Yoona menarik tangan Hyujin sahabatnya lalu meremas tangannya saking gemasnya.

"Dia manis sekali." Ryu Hyujin tersenyum manis.

Ryu Hyujin adalah primadona disekolahnya. Hyujin sangat cantik, ia sudah dinobatkan menjadi ulzzang satu tahun yang lalu. Hyujin memiliki mata yang indah, hidung yang sangat mancung, bibir yang tipis, kulit putih yang mulus, dan rambut panjang kecokelatan yang selalu terurai begitu rapi.

Banyak sekali siswa yang sudah mencoba untuk mendapatkan hati Hyujin, namun gagal. Jangan tanya berapa banyak coklat, bunga, atau surat pernyataan cinta yang Hyujin terima. Tidak sedikit juga yang mengucapkan-nya secara langsung atau mengajaknya untuk makan malam. Hyujin sangat populer di kalangan sekolahnya, itu juga yang membuatnya saat ini tidak ragu untuk mendekati Lee Soobin.

"Anyeong, aku Ryu Hyujin, ku harap kau sudah tahu siapa aku." Hyujin menyodorkan tangannya pada Soobin yang sedang tertidur di bangkunya.

Soobin yang melihat itu hanya mentap lurus tangan Hyujin, kemudian dia menatap mata Hyujin. "Aku tidak tahu siapa kau, ya tapi aku sekarang mengetahui namamu." Soobin lalu menyalami tangan Hyujin. Soobin adalah anak yang sopan, ibunya selalu mengajarkannya untuk sopan kepada siapa-pun itu.

"Ah, tidak apa. Nanti lama-lama kau akan tahu siapa aku." Hyujin tetap menunjukan muka ramahnya, meskipun sebenarnya dia kesal dengan respon yang Soobin berikan terhadapnya. Tapi dia tidak mau merusak semuanya.

Di tempat lain Park Jihyu sedang duduk di depan lapangan basket, dia tersenyum sambil melihat seorang laki-laki jangkung dengan tinggi 181 cm.

"Hei, Jihyu-ah kau disini. Ini buku yang kau pinjamkan kemarin." Kim Yonjun tersenyum kepada Jihyu, ah Yonjun sudah menunggu Park Jihyu sejak dua jam yang lalu.

"Ada anak baru ya dikelasmu?" Yonjun merebut Potato Chip yang sedang dimakan Jihyu. "Yak! Itu kan punyaku aku sangat lapar." Jihyu memincingkan matanya lalu memukul bahu Yonjun yang tak kunjung mendengarnya.

"Iya ada anak baru, namanya Lee Soobin." Jihyu akhirnya menjawab pertanyaan Yonjun setelah lelah berbicara dengan angin, Jihyu membasahi bibir bawahnya lalu menatap ke langit. "Tapi aneh, anak itu terlihat sangat dingin, padahal semalam aku menabraknya di jalan dan dia sangat ramah padaku." Jihyu tertawa hambar, dia kemudian mengambil buku yang diletakkan Yonjun di samping ranselnya, dan memasukannya kedalam. Gadis itu kembali menatap langit.

"Kau kenapa?" Yonjun memiringkan wajahnya agar bisa melihat jelas wajah gadis disampingnya itu, lalu dia melihat gadis itu menjatuhkan air matanya tapi tatapan-nya tak pernah teralihkan dari langit.

"Aku adalah langitmu Lee Soobin."


Catatan Author

Haii! akhirnya setelah lama ngak lanjutin If Only malah bikin cerita baru:)

Tapi ada alasannya kok aku bikin cerita baru, yang mungkin beda jauh dari cara penulisan-ku di If Only  karena sebenarnya aku lebih cocok sama gaya nulis kayak gini, maaf banget kalo misalnya ceritanya kayak belum masuk gitu.

Nanti aku bakalan usahain buat nulis pake cara yang lebih bagus lagi, doain aja aku biar bisa serius nulis Empryle karena aku bener-bener yakin sama cerita ini.

Pembaca adalah hal yang paling istimewa buat aku, mereka itu bener-bener poin penting dalam sebuah pengembangan cerita. Dan aku harap kalian bisa menunjukan dukungan biar aku bisa semangat belajar untuk memberi yang terbaik untuk pembaca.

Semoga kalian bisa menikmati Empryle

Salam

Arista Ardelia

  

EmpryleStories to obsess over. Discover now