Pita warna putih yang selalu kau gunakan masih ku simpan dengan rapi di dalam kotak kayu tua yang kau berikan sebagai hadiah karna telah memecahkan teka teki mu.
Setiap ku membuka kotak itu, bayangan tentang mu terus datang bagaikan sebuah cuplikan film yang terus berputar, menampakan wajah mu yang tersenyum penuh dengan kebahagiaan.
Daun mapel kering yang tersimpan di dalam buku lusuh berwarna coklat membawa ku ke dalam cerita mu, yang sekarang bukan hanya akan menjadi ceritamu, tapi juga akan menjadi cerita ku. Cerita kita
Aku akan melanjutkan cerita yang ada di dalam buku mu, Aku akan membawa mu ke tempat di mana kita pertama bertemu dan akan ku tulis lagi cerita mu ke dalam versi ku, versi cerita dari kaguya
-----------
Kabut yang terlihat sangat tebal menutup jalan dan pemandangan yang ada di sekitar, di tambah lagi dengan suara angin yang sedikit kuat dari arah barat yang kata nya terbentang lautan luas sebagai pemisah antara desa yang sedang aku datangi dengan desa sebrang
musik klasik yang terdengar dari audio mobil yang sedang di kendarai pak Sam membuat ku ingin menutup mata, aku rasa tak sopan jika tidur saat pak Sam sedang mengemudi dengan keadaan cuaca seperti ini
aku berinisiatif membuka kaca mobil untuk melihat pemandangan yang tertutup kabut tebal dan mungkin akan mengurungkan sedikit niatku untuk tidur
tapi aneh nya baru akan ku buka setengah dari kaca mobil tiba tiba pak Sam bersuara
"Jangan membuka kaca mobil nya tuan"
"Kenapa ?"
"Kabut di sini kabut kutukan"
"Haa kabut kutukan ?, Kau masih percaya tentang kutukan pak Sam ?, Di zaman sekarang ?, Kau lucu"
Lucu saja mengetahui pak Sam masih mempercayai hal hal seperti itu. Maksud nya di zaman modern seperti ini memang masih ada yang nama nya kutukan dan sejenisnya, yaampun aku tertawa pada awal nya, dan setelah mendengar cerita selanjutnya aku tiba tiba merinding dan dengan cepat menutup jendela mobil rapat rapat
Aku telah sampai di vila tua milik kakek ku, bangunan dengan nuansa putih dan emas seakan menandakan bahwa kakek ku termasuk orang yang berkuasa di desa ini, aku menelusuri setiap pintu untuk mencari kamar ku
-------
Karna ku fikir membosankan bila harus terus berada di dalam vila ini akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti kata hati ku untuk berjalan jalan sebentar. Yaa hanya sebentar ku rasa tak apa jika hanya sebentar pak Sam juga akan mengerti.
Aku melewati pintu rahasia yang baru aku temukan kemarin saat mencari bola tenis di belakang pekarangan vila. Terdapat pintu kayu tua yang tertutup dengan tumbuhan rambat yang sangat lebat dan ku rasa hanya aku yang mengetahuinya, lebih terkejut nya lagi ternyata pintu tua itu terhubung dengan Padang ilalang yang sangat luas, padahal aku tak melihat ada Padang ilalang di sepanjang jalan yang aku lewati saat menuju ke sini
Aku menelusuri Padang ilalang dengan hati hati takut jika akan melukai tubuhku dan sesudah nya akan mendapatkan omelan dari pak Sam atau ayah ku, yang nanti akan mengunjungi ku jika melihat luka yang ada di tubuhku
tanpa sadar sepertinya aku telah sampai di ujungnya, aku melihat pohon mapel yang sangat besar meneduhkan bunga bunga yang ada di sekitar nya, sungguh pemandangan yang tak pernah aku lihat selama hidup ku. Ku rasa kaki ku mulai mengeluh untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan
Karna angin yang sangat sejuk, rasa kantuk mendatangi ku dan aku tertidur dengan angin yang berhembus di sekitar tubuhku
Setelah beberapa jam tertidur seperti ada yang menyentuh ku terasa geli dan basah, aku membuka mata dan melihat ada anak anjing lucu yang membangunkan ku dengan cara menjilat pipiku
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna || One Shoot
Fantasypohon mapel, daun Semanggi empat, pantai dan laut adalah saksi yang alam berikan untuk aku dan kamu yang akan menjadi kita dalam balutan kasih sayang tapi ternyata, Tuhan mengirimkan "saksi" itu bukan sebagai saksi baik, melainkan sebagai saksi buru...
