Terik mentari menyapa padang rumput hijau yang membentang. Laju angin bercampur gelak tawa memenuhi lapangan tempat para Prajurit Akademi Kerajaan berlatih. Bizca Alrando, seorang prajurit muda Kerajaan Azterra yang kini sedang berbaring tak berdaya menjadi bahan cemoohan teman-teman seperjuangannya.
Bizca yang terbaring karena sebuah kecelakaan yang sangat tidak terduga, lapangan yang becek karena semalam di guyur hujan membuatnya terpeleset saat hendak berlari memasuki lapangan.
"Hahaha, dasar lemah."
"Hahaha, ceroboh sekali dia."
"Hahaha, si payah kembali berulah."
Dan masih banyak lagi cemoohan lainnya yang dilontarkan pada Bizca. Dirinya yang kini terduduk, dengan seragam kotor dan basah. Bibirnya menyinggung sebuah senyuman tak berdosa untuk menimpali ejekan teman-temannya, dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bizca, kau tak apa?" tanya seorang pemuda berambut hitam.
"Aku tak apa Ren, hanya sedikit sakit di bagian pinggang."
Rento Kanazuki, sahabat Bizca sejak saat seleksi akademi prajurit kerajaan. Berkulit putih dengan rambut hitam berkilau, sorot mata yang tajam di tambah badan kekar membuatnya terlihat seperti prajurit kerajaan sungguhan.
"Ayo," Ren mengulurkan tangan kanannya.
Bizca menanggapi bantuan dari karibnya itu,"Terima kasih."
"Aku masih tidak mengerti denganmu, kenapa kamu bersikeras mengambil dua kelas sekaigus," tanya Rento ditengah latihan mereka.
"Bukankah sudah ceritakan padamu? Aku mengambil kelas siihir karena keinginanku sendiri, sedangkan kelas ksatria untuk menghormati keinginan mendiang ayahku yang telah tiada."
"Bukankah itu menjadi tidak efektif? Ksatria dan penyihir itu dua profesi yang berbeda sangat jauh."
"Sudahlah, ayo teruskan latihannya!"
Pedang kayu terus beradu, saling bertahan dan menyerang. Keduanya mengeluarkan teknik andalan masing-masing. Keringat yang bercucuran menemani latihan mereka berdua, hingga mentari kembali ke peraduannya.
Hari mulai gelap. Bizca dan Rento sedang berjalan di koridor menuju asrama, "Bizca, malam ini kau ada acara?"
"Tidak, kenapa?"
"Kau ingat batu meteor yang kita dapatkan pekan lalu? Rencananya malam ini aku akan membawanya ke pandai besi di kota. Aku ingin menempanya, kau mau ikut?" ujar Rento antusias. Mengingat bahwa pedang yang sering digunakan Rento sudah mulai rusak, dia ingin membuat pedang baru dengan bahan yang didapatkannya.
"Kebetulan sekali. Aku juga ingin menempa bahan yang kudapatkan. Kau sudah mendapatkan pandai besi yang bagus?"
"Batu hitam itu? Bizca temanku, itu hanya batu biasa."
"Tapi batunya bagus, ada kandungan besinya juga. Mungkin saja bisa dijadikan pedang," jawab Bizca, dia yang bersikeras membawa pulang batu hitam yang ditemukannya di hutan pekan lalu bersama Rento.
"Oke,oke. Aku dulu yang mandi ya," pungkas Rento yang langsung memasuki kamar mandi setelah mereka tiba di kamar.
Bizca yang sudah terbiasa dengan kebiasaan teman sekamarnya hanya bisa pasrah. Dia memilih untuk mengorek lemari penyimpanannya dan mencari batu hitam yang akan dia tempa di pandai besi nanti.
(***)
Jalanan kota masih cukup terang, disinari oleh lentera yang berjajar rapi di kiri dan kanan jalan. Meski sudah malam, beberapa tempat makan dan bar yang buka hingga malam masih ramai dikunjungi oleh orang-orang yang sedang melepas penat menikmati indahnya dunia malam.
YOU ARE READING
Mage Knight
FantasyBizca, seorang pemuda yang nekat mengambil dua profesi sekaligus. melahirkan sebuah kekuatan baru yang mekar bersama rasa sakit.
