Mengerjai pelakor

2 0 0
                                        

Aku berpura-pura panik, dan langsung mengambil tisu yang berada di atas meja Pak Narendra. Bosku itu, sekilas kulihat sedang menatap tajam padaku. Sementara perempuan berbaju kurang bahan ini, terlihat kepanasan. Dengan sigap, tanganku langsung melap bajunya dengan tisu. Bukannya ku bersihkan, ampas kopi yang menempel, sengaja kusebarkan ke bagian yang tidak terkena siraman.

"Cukup-cukup!" cetus perempuan ini, sambil mendorong tanganku.

"Maaf ya Tante, saya gak sengaja." tuturku, berpura-pura merasa bersalah.

"Queen! Baru pertama kerja, sudah bikin masalah kamu, saya bilang kan tadi jangan pecicilan!" hardik Pak Narendra.

"Maaf Pak, lain kali saya akan hati-hati."

Kulirik, perempuan seksi itu mendelikan matanya tanda tak suka. Aku balas dengan menaik turunkan alis dan mata yang sengaja ku kedip-kedipkan. Seketika matanya melotot dan kakinya dihentakan kelantai lalu pergi dari ruangan bosku, tanpa pamit.

"Astaga Queen, kalau bukan karena istriku, sudah saya pecat kamu ...." Pak Narendra terlihat prustasi, sembari memegang kepalanya. "Sana, buatkan saya kopi yang baru!" ucapnya kemudian.

"Baik Pak."

Kakiku langsung melangkah keluar menuju pantry, sambil tersenyum puas. Namun, saat aku keluar ternyata perempuan gatel itu tengah berdiri di samping pintu dan langsung menyeretku menjauh dari ruangan Pak Narendra.

"Saya tahu, kamu sengaja kan tadi?" matanya menatap tajam seakan ingin menerkamku hidup-hidup.

"Santai Tante, santai!" ucapku, sambil menepis cengkeramannya. Namun, perempuan itu malah mendorongku sampai jatuh tersungkur.

"Akan kupastikan kamu dipecat oleh bosmu itu!" ancamnya, sambil mengacungkan jari.

"Yakin?" tanyaku penuh penekanan.

Matanya memerah, menahan amarah. Perempuan yang kutaksir berumur tiga puluh tahunan ini mendekatiku dan kulihat tangannya akan melayang halus di pipiku.

"Ekhem!" suara deheman, membuat perempuan ini seketika mengurungkan niatnya. Matanya menyapu ke sekeliling. Namun, tak ada seorangpun yang terlihat.

"Kali ini kamu selamat! Awas saja, kalau kamu bikin ulah lagi, akan kupastikan kamu menyesal!" ancamnya kembali, membuatku tertawa simpul.

"Oke, siapa takut, Tante gatel!" ledekku, membuat matanya seketika melotot tajam. Tanpa bicara lagi, perempuan berbaju merah itu pergi meninggalkanku dengan jalan berlenggak lenggok, layaknya model yang sedang pentas di atas panggung. Tak lama, kulihat ia hampir berpapasan dengan cleaning service yang menjinjing sebuah ember. Seketika ide itu muncul lagi. Kuambil kelereng yang selalu kubawa di dalam saku. Kulemparkan kelereng itu ke lantai. Seketika sepatu hak tinggi yang dipakai perempuan itu menginjak kelereng yang menggelinding. Dan ...

Brugh!

Ia terpeleset lalu menabrak si cleaning service itu. Dan merekapun tersungkur, dengan posisi si perempuan gatel menindih badan si cleaning service.

"Waaah ... pemandangan bagus nih," segera kuraih gawai lalu dengan secepat kilat memotretnya.

"Sepertinya, kamu perempuan pemberani ya?" tiba-tiba suara lelaki, mengagetkanku dari arah samping.

"Loh, kamu?" tanyaku, saat kutahu suara itu berasal dari lelaki yang ada di pantry tadi.

Lelaki itu lalu mendekatiku, dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kusambut uluran tangannya, "Terimakasih." ucapku kemudian.

"Sama-sama Queensya."

Menit kemudian, para karyawan berhamburan datang menghampiri dua orang yang terkapar. Mereka saling berbisik melihat pemandangan itu. Sekilas, kudengar bisikan salah satu karyawan perempuan.

"Ini kan selingkuhannya Pak Narendra. Kok bisa ya dia bertumpang tindih dengan Pak Wiryo?"

"Ish, jangan salah, perempuan kayak gini memang sukanya sama yang tua-tua." merekapun tertawa cekikikan.

"Kok dua-duanya gak bangun-bangun ya?" gumamku lirih.

"Sepertinya, Pak Wiryo pingsan. Tapi kalau perempuan itu, gak tahu deh." ucap lelaki yang di pantry tadi.

"Ada apa ini, kenapa kalian berkerumun disini?"

Seketika suara bisikan-bisikan langsung lenyap, seiring datangnya bos perusahaan yang disegani. Pak Narendra, menerobos kerumunan karyawannya karena penasaran. dan ... seketika, matanya terbelalak saat melihat siapa yang tengah jadi tontonan.

"Kariiiiin!"

"Maaaassss," seketika perempuan itu bangkit, saat suara Pak Narendra memanggil namanya. "Aku maluuuu ...." ucapnya kemudian, membuat tawaku seketika pecah, tak bisa terbendung. Namun, detik kemudian aku tersadar bahwa ternyata hanya aku sendirian yang tertawa. Dan kulihat, kini semua mata tertuju padaku.

"Alamak, mati aku!"

***

Krisannya ditunggu ☺️

Yuh, tinggalkan like dan komentarnya, biar author, semangat ngetiknya 😍😍

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 19, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

QueensyaWhere stories live. Discover now