Aku terbangun ditengah mimpiku. Suara badai petir yang mengiringi sunyinya malam mengusik tidurku. Berharap saat itu juga ada yang mengatakan "mimpi indah, kya" padaku.
Aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 04.00 a.m, saat itu juga aku beranjak dari kasurku dan merasakan adanya genggaman dari kolong kasurku. Aku berteriak dan memberontak tarikan itu. Namun hasilnya nihil, aku tertarik ke dalam kegelapan yang sunyi.
"Kya bangun! Sudah pagi." Saat itu juga akhirnya aku benar benar berada di duniaku yang nyata.
"Jam berapa?" Tanyaku dengan suara serak.
"Jam 6 pagi, cepetan bangun!"
"Iya iya sabar jangan ngegas, pagi pagi sudah ganggu tetangga."
-
Aku melamuni sarapanku yang sudah dingin, banyaknya pikiran dalam dunia perkuliahanku sudah cukup membuat otakku berhenti berfungsi dengan baik.
"Hari ini ada presentasi ya?" Teman sekamarku melambai lambaikan tangannya di wajahku. "Woy Kya, masih bangun kan?"
"Eh iya Fin, ada presentasi hari ini. Do'ain ya."
"Iya ku do'ain mudahan gagal presentasinya ya, kya." Sungutnya.
"Setan lo Fin, bukannya ngedukung malah bikin pesimis." Cibirku kesal.
"Iya maaf deh, mudahan lancar ya Ky." Hiburnya sambil mengacak acak rambutku yang kurapikan selama setengah jam. "Udah jangan ngambek, telat mampus lo."
"Iya iya, makanya jangan ganggu gw makan. Mending lo ganggu tetangga siapa tau dosa lo nambah Fin."
Selesai sarapan aku langsung jalan secepat kilat nenuju halte bus. Sebenarnya jarak antara kosanku dan kampusku tidak terlalu jauh amat, tapi melihat kondisiku yang hampir terlambat memaksaku harus membuang uang.
Waktu pertama kali aku menginjakkan kaki aku sudah disambut oleh youtuber kesayangan kampus ini, Evelyn. Dia orang yang bisa dikatakan tipe ideal setiap pria disini, bahkan saat ini dia memiliki fans yang jumlahnya melunjak karena penampilannya yang keren.
"Halo Kya baru dateng?" Sapa teman satu jurusanku yang hari ini juga ada jadwal presentasi yang sama denganku. Aku mengangguk ria.
"Eh ada Evelyn tuh lagi ngevlog. Cantik, tapi sayang sombong banget."
"Emang lo kenal akrab sama Evelyn?" Tanyaku meragukannya.
"Kenal lah, kita dulu satu SMA sekelas pula. Sekarang dia sok gak kenal sama aku."
"Sabar ya Lis, dia malu punya kenalan kayak lo mungkin." Ucapku geli.
"Song*ng lu Kya, jahat banget." Decaknya kesal.
Dilihat dari penampilan juga sudah terlihat jelas Evelyn adalah anak sombong yang hanya berteman dengan orang orang yang selevel dengannya. Ia bahkan sempat jadi perbincangan hangat setelah menolak pria yang juga terkenal di kampus ini.
-
Memikirkan tentang cara melepas penat sejak tadi adalah merebahkan diri dengan nyaman, mulai memejamkan mata, dan mengistirahatkan otak yang sudah bekerja keras hari ini. Tak lama aku jatuh ke alam bawah sadarku.
Aku terbawa ke tempat asing lagi. Kali ini aku bersama teman satu kamarku, Fina. Kami hanya menyusuri hutan tanpa ujung tapi hutan kali ini berbeda, hutannya mirip seperti hutan hutan pada film fantasi. Hutan yang dipenuhi kunang kunang berwarna biru, dedaunan pohonnya yang berwarna magenta dan violet. Bahkan dahan dan akar pohonnya berwarna biru langit.
YOU ARE READING
Mimpi
FantasyMimpi. Bagi sebagian orang mimpi hanyalah saat dimana kalian memejamkan mata lalu tidur untuk melepas penat. Mimpi terkadang beragam, banyak orang yang akan mengabaikan mimpinya setelah mata mereka terbuka dan ada juga orang yang ingin membagi mimpi...
