Untitled Part 1

1 0 0
                                        




Chapter 1

Suara gong berbunyi pelan sebanyak tiga kali menandakan kebaktian sudah akan dimulai. May membenarkan posisi duduknya di lantai parket kayu dan memulai rangkaian kebaktian hari Minggu pagi itu. May merasakan suasana yang lebih teduh, tenang, dan magis setiap kali dia duduk di dalam ruangan kebaktian kecil ini, entah kenapa dia pun tidak tahu apa sebabnya.

Kebaktian berjalan selama 1.5 jam dan akhirnya kebaktian ditutup, May berdiri dan bersiap-siap untuk melanjutkan ritual berikutnya, membeli jajanan makanan yang dijual oleh para pengurus vihara di belakang ruang kebaktian utama.

Saat ia berjalan, seorang pria berkacamata, tinggi sekitar 178 cm, berkulit kuning pucat, berambut cepak, dan berkemeja kotak-kotak memanggilnya dari jarak sekitar 2 (dua) meter.

"May..." panggil Arya. May menengok ke arah suara dan tersenyum sedikit sambil menggangguk.

"Kamu tadi duduk dimana? Ko aku gak lihat?" tanya Arya sambil melihat May dengan antusias.

" Di dekat altar utama Ko...tempat biasa penuh sama ibu-ibu, dan ada yang udah tek-in juga...Koko tadi duduk di tempat biasa?"jawab May.

"Ya, aku cari-cari kamu dari pagi...gak kelihatan...kirain kamu gak datang.."

"Aku datang ke ruangan agak telat Ko, dana makan pagi dulu tadi...trus ada sedikit bantu-bantu di dapur.."

"Mau kemana sekarang?" tanya Arya lagi... dia sepertinya menyadari May yang sudah mulai ancang-ancang mau pergi dari hadapannya.

"Biasa...mau jajan...Koko mau kemana?"

"Sekalian yuk...eh kamu hari ini ada acara? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat..."

"Hmmm....kemana Ko?" tanya May ragu. Ya, ini sudah ketiga kalinya Arya mengajaknya pergi tapi dia tidak pernah mengiyakan sebelumnya. May merasa tidak enak kalau harus terus menolak.

"Nonton yuk...ada film baru..kamu pasti suka..kan katanya kamu suka nonton film kartun Disney..."

"Moana Ko? Aku sudah nonton kemarin Jumat sama teman-teman kantor..."

"Ooohh....ya sudah, kamu sukanya jalan kemana kalau Minggu begini?" bujuk Arya lagi.

"Aku sukanya tidur Ko kalau Minggu..soalnya capek juga kerjaan dari Senin-Jumat, apalgi musim lembur.." ucap May sambil tersenyum malu-malu.

Mereka sudah sampai di tempat jajanan, dan May mulai menyusuri satu per satu kios dan memilih jajanan. Pertama dia memilih coipan, lalu pempek, dan terakhir membeli kue bolu kukus.

"Koko mau?" tanyanya. Arya menggeleng, "Aku sudah makan tadi pagi May..."

Lalu mereka duduk di bawah pohon ara yang rindang dan sejuk, dan May mulai makan sambil ditemani Arya. Beberapa daun ara yang berbentuk seperti jantung berguguran memenuhi halaman vihara.

"Ko, ga enak neh kalau Cuma aku yang makan, Koko juga donk makan..." bujuk May.

Arya lalu berdiri dan menuju tempat jual minuman, "Aku minum aja dech..."

Setelah duduk lagi, Arya baru ingat dia belum mengajak May lagi "Beneran ga bisa keluar neh hari ini?"

"Iya ko...capek banget..kemarin Sabtu aku masuk kantor karena closing bulanan Ko, udah gitu SAP-nya sempat eror lagi...fiuhhhh jadi aku pulang kantor malem.."

Arya sambil mengangguk " Ya udah, aku maen ya ke rumah kamu...boleh gak?"

May merenung sambil mendesah pelan. Dia merasa tidak enak mengapa Arya tetap gencar mendekatinya padahal sudah beberapa kali May menolak ajakan perginya.

"Ko boleh nanya sesuatu gak?"

"Orang nanya malah ditanya balik bukannya dijawab, ya udah mau nanya apa?" ucap Arya sambil tersenyum kecil.

May mendehem lalu minum dan membetulkan posisi duduknya "Gapapa aku terus terang y Ko, biar kita sama-sama enak...Koko udah berkali-kali ngajak aku jalan maksudnya apa sih Ko?"

Arya tersenyum kecil sambil memandang May lekat-lekat, "Masa gak tau...ya udah terang lah aku lagi mau penjajakan sama kamu...kan kamu sendiri pasti sudah merasakan May..."

"Kalau aku bilang koko gak usah lanjut lagi gimana Ko?" ucap May pelan sambil setengah menunduk.

"Emang kenapa May? Kamu gak suka sama Koko? Setau aku kamu kan masih single..."

"Bukan gitu sih...tapi aku gak enak kalau nanti ngecewain Koko,....aku gak mungkin terima Koko..."

"Kenapa?" tanya Arya sambil menghela napas...benar kata orang-orang, perempuan ini agak sulit dijangkau. Arya bukan laki-laki pertama yang mendekati May di tempat ibadah itu. Sudah ada beberapa laki-laki yang pernah mendekatinya dan akhirnya menyerah di tengah jalan karena tidak ada tanggapan sama sekali, bahkan ditolak sebelum perjuangan terlalu jauh.

"Aku....gak mau menjalin hubungan sama lawan jenis Ko..tapi aku straight Ko...jangan salah paham," ucap May buru-buru. May lalu menghela napas dan berkata lagi, "Koko baik banget, aku senang mendapatkan teman seperti koko di sini, tapi kalau nanti semuanya tidak sesuai harapan koko, aku gak mau hubungan pertemanan kita malah jadi terganggu..."

Arya tersenyum dan menggangguk, perlu kesabaran lebih untuk menghadapi May.

"Tapi aku boleh tahu alasan sebenarnya gak sih May? Apa kamu trauma? Apa aku emang benar-benar gak menarik di mata kamu?"

"Bukan ko...aku gak trauma..orang pacaran aja belom pernah,...soal menarik...aku aja gak ada tipe ideal.." May menatap Arya mencari tahu tanggapan Arya, dan May tidak salah mengira kalau Arya tetap tenang dan terkendali, tidak ada raut kesal dan menyerah di mata Arya. Mungkin ini memang saatnya memberitahukan Arya alasan sebenarnya sebelum semua terlalu jauh dan keduanya sama-sama kecewa. May menyukai dan menghargai Arya karena dia tahu laki-laki itu orang yang baik.

Mereka saling kenal sejak 3 bulan lalu waktu May dikenalkan oleh salah satu pengurus vihara, tante Lani. Arya baru saja pindah vihara dan menjadi umat baru di vihara ini. Sedangkan May sudah menjadi umat di sini sejak 5 tahun lalu. Awal perkenalan, May merasa biasa saja sama seperti rasa jika ia berinteraksi dengan laki-laki muda lainnya. Tapi Arya merasakan desiran halus di hatinya. May bukan tipe wanita yang terlalu cantik, tapi dia manis, tenang, dan senyumnya meneduhkan. Dia juga tidak terlalu banyak bicara, agak pemalu, namun May bukan orang pasif. Arya pernah melihat bagaimana May membantu tante Lani mengurus urusan vihara dan bekerja dengan sangat cekatan di dapur. Sejak itu Arya sering mencari-cari May di tempat ibadah tiap minggu pagi, dan selalu berusaha mencari cara mendekatinya. Setiap Arya mengirimkan pesan whatsapp, May menanggapi hanya satu dua patah. Kalau ditelepon, May hanya berbicara dengan Arya 5-10 menit, lalu berkata dia lelah dan ingin istirahat. Dan Arya sudah beberapa kali mengajaknya keluar dan menawarkan untuk mengantar jemput ke vihara, semuanya ditolak.

"Aku....aku gak mau menikah Ko,...aku ..mau menjadi Atthasilani (p1)...itu cita-citaku..." tiba-tiba May berkata.

p1 Atthasilani : wanita yang menjalani kehidupan suci dengan menjalankan delapan sila dalam agama Buddha, mengenakan jubah putih, dan menaati 75 sekiya atau aturan-aturan.

JUBAH PUTIHHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora