"Zahra ...!"
Ya, namaku Zahra, lengkapnya ... Siti Zahra Nur Aulia. Pemilik bola mata sipit dan berwarna coklat. Hidungku mancung bak orang Hindi. Aku manis dan berkulit putih bersih. Umurku dua puluh tahun. Muda tidak, tua pun tidak. Satu lagi, aku adalah putri sulung dari siti nur khalifah dan muhammad iman.
Orang bilang aku sosok yang periang. Tidak pernah menampakan sedih, ataupun tangis, terkecuali pada mami dan papi. Karena mereka seperti diary terbaikku.
"Zahra!" Kepalaku menoleh pada wanita yang berdiri di dekat pintu kamar. Tangannya berkacak pinggang dan menonjolkan bola mata yang begitu besar.
"Iya, Mam? Are you, ok?" tanyaku pada wanita berumur empat puluh dua tahun. Siapa lagi kalo bukan ... Mami.
Mami membuang napas gusar lalu mendekat dan mengomel, "Kalo dipanggil, ya jawab!"
"Mami, tidak baik ngomel-ngomel. Nanti cepat tua." Mata Mami menyorot tajam. "Heheh ... maaf, Mam. Abisnya, Zahra lagi nulis."
"Nulis, nulis, nulis terus. Udah pegel tangannya, merengek minta dipijitin." Mami kembali mengomel sambil berlalu ke luar kamar.
Ya ... begitulah Mami, tidak ada hari yang ia lewatkan untuk mengomel. Namun, rasanya tetap bersyukur, karena omelannya adalah bentuk kasih sayang.
"Zahra ... cepet turun!" teriak Mami yang entah keberadaannya sudah di mana.
Perlahan membuang napas lalu memutar bola mata. Menutup laptop dan bergegas turun ke lantai bawah. Satu-persatu kakiku menuruni anak tangga. Mataku fokus menatap Mami dan Papi yang sudah duduk di ruang tamu. Dari cara diskusi mereka, sepertinya sedang mengobrol hal penting, tapi ... apa?
"Assalamu'alaikum Mam, Pap," kataku mengucap salam pada mereka.
Mereka menoleh seraya menjawab salam, "Wa'alaikumussalam." Aku mengambil tempat duduk di dekat Mami.
"Ada apa, Mam? Pasti mau ngomong serius ya sama, Zahra?" kataku mencoba menebak-nebak.
"Iya, Nak," jawab Mami.
"Zahra, Papi dan Mami mau tanya sama kamu soal perjodohan yang kemarin Papi bahas. Gimana? Kamu sudah pikirkan matang-matang, 'kan?" tanya Papi menyelidik.
"Eum ...." Aku menggigit bibir bawah sambil berpikir, ragu akan hal yang ingin diungkapkan. Takut mereka tidak setuju, tetapi ... tidak ada jalan ke luar selain ....
"Sebenarnya, Zahra udah pikirin matang-matang kalo Zahra pesantren aja, Mam, Pap." Huh, lolos! Akhirnya dapat bernapas lega. Walaupun deg-degan bercampur rasa takut, setidaknya berhasil mengungkap keinginan.
"Apa? Pesantren, Nak?" Tentu saja mereka terkejut dengan begitu kompak. Hum, sudah tidak aneh, dalam hal apa pun pasti selalu begitu.
"I-iya, heheh." Tanganku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sambil cengingisan.
"Nak, umur kamu sudah dewasa, sudah waktunya membina rumah tangga, kenapa kamu memilih masuk pesantren?" tanya Papi lembut.
"Ya ... Zahra merasa, menjadi seorang ibu, 'kan, harus memiliki banyak ilmu. Karena ibu, akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak." Mataku menatap Mami sambil melukis senyum di bibir.
Mami menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum dan mengucap, "Masya Allah, benar-benar karuniamu yang begitu indah."
Aku tersenyum mendengar pujian dari Mami. Setidaknya sudah ada sedikit harapan agar keinginan dapat terpenuhi. Berharap keduanya akan benar-benar menyetujui. Ya, semoga saja.
"Pap, menimba ilmu tidak pandang umur, yang terpenting niat dan bersungguh-sungguh. Lagi pula, Zahra belum siap untuk menikah, tidak baik jika dipaksakan," kataku berharap Papi dapat mengerti.
"Tapi, Nak ...," Papi menunduk pertanda bingung dan berpikir harus bagaimana. Lama berdiam, Papi melanjutkan kembali ucapannya yang terpotong, "yaudah, Papi turutin, tapi tetap! Papi hanya akan masukan kamu ke pesantren sahabat Papi, setuju?"
"Setuju."
Jangan lupa tinggalkan vote, comen, and kritsan😘
VOUS LISEZ
Ana Uhibbuka Fillah (Sudah Terbit)
Roman d'amour"Zahra lihat sana, deh," suruh Ustaz Anam. Aku menurut dan melihat ke atas langit setelah jarinya menunjuk. Tidak ada apa-apa. Melainkan langit biru berwarna cerah. Lalu apa yang perlu dilihat? "Zahra." Aku menoleh pada Ustaz Anam. Terkejut dan sal...
