1.Sorai

30 2 0
                                        

Kedua remaja lawan jenis itu menikmati alunan dari salah satu pengisi acara yang memeriahkan festival tersebut. Keduanya tampak mengikuti ketukan lagu yang sedang hangat untuk didengarkan. Berbeda dengan yang perempuan, si remaja lelaki itu mulai gundah karena belum menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasannya. Malu untuk ditolak tentunya sudah siap ia hadapi.

"Zaya, kalau aku bilang aku suka kamu, gimana?" Harap cemas menunggu jawaban dari sahabat sedari pertengahan masa SMA-nya itu, walau dia memang sedang memanfaatkan masa mencari kesempatan dalam kesempitan.

Perempuan disampingnya menoleh dengan lambat seperti terkagetkan juga karena baru tersadar dari lamunannya seraya menaikkan kedua alisnya dan memajukan kepalanya. "Kenapa Dav, gak kedengeran tadi." Riuhnya suara pengunjung lainnya membuat mereka terkadang tak menangkap dengan jelas apa yang dibicarakan satu sama lain.

"Zaya," yang punya nama hanya menunggu kelanjutan apa yang akan manusia depannya ucapkan.

"Eh Dav, Nadin tuh. Majuan yu." Karna tak kunjung melanjutkan kalimatnya juga penyanyi yang menjadi alasan Davin mengajak Zaya untuk datang ke festival tersebut akan segera tampil, terlihat kini sang penyanyi sedang berjalan untuk ke tengah panggung.

Secara tiba-tiba tangan kiri Davin mengait pada tangan kanan Zaya dan menerobos puluhan bahkan ratusan manusia untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan panggung. Saat kerumunan penonton semakin mendesak, Davin membawa kedua tangan Zaya untuk berada di jangkauan tangannya. "Pegangan Ya, nanti kamu ilang." Dan dibalas pukulan di lengan sebelah kiri Davin, "Seenaknya ya ngomong." Terdengar cekikikan lelaki yang berada di depan Zaya sambil sibuk menyibak jalan agar mereka bisa menonton Nadin Amizah dengan dekatnya namun tetap nyaman.

"Disini aja ya Ya, kamu depan aku aja takutnya kegencet orang." Ucapan itu terlontar setelah mereka menemukan tempat strategis untuk menonton si alasan sorak sorai tercipta, memang tidak dekat dengan panggung, namun mereka bisa menikmatinya dengan tenang.

"Aku disamping kamu aja."

Kaitan antara tangan kiri dan tangan kanan yang berbeda itu tak lepas, malah semakin erat. Zaya sebenarnya mendengarkan apa yang dikata Davin tadi juga didukung oleh perilaku tak biasa Davin padanya akhir-akhir ini, bukan merasa kurang nyaman hanya saja terasa aneh. Aneh jika memang apa yang dikatakan Davin tadi ternyata benar.

Pandangan Zaya tak lepas dari profil samping Davin secara tak sadar.

"Kenapa Ya? Nadin lagi nyanyiin lagu kesukaan kamu tuh." Si objek penglihatan Zaya sepertinya memang sangat cuek dan tidak sadar juga akan kebimbangan yang Zaya rasakan. Malah mencari arah pandang perempuan di sampingnya.

"Awan dan alam saling bersentuh"

"Mencipta hangat, kau pun tersenyum. Ketika itu kulihat syahdu. Lihat, hati mana yang tak akan jatuh." Bernyanyi sambil tersenyum dan tak melepaskan pandangan sedetik pun, sepertinya Zaya mulai gila. Ada apa ini, mengapa keringat yang Zaya keluarkan seperti semakin banyak. Davin menolehkan karena mulai sadar akan perhatian Zaya yang sepenuhnya tertuju padanya.

Secara tiba-tiba menggoyangkan tangan mereka di atas udara depan wajah mereka dan tersenyum sangat lebar hingga matanya tertutup. Zaya kebingungan atas apa yang Davin lakukan tadi seraya memukul lengan kirinya dan berkata, "apaan sih Dav, gak jelas." Dan mengganti perhatiannya terhadap penyanyi di atas panggung. Zaya pun bergumam kecil mengikuti alunan lagu kesukaannya,

"Kau memang manusia tak kasat rasa. Biar aku yang mengemban cinta." Secara tiba-tiba Davin berbisik menyanyikan lagu di telinga Zaya yang membuat perempuan itu memundurkan kepala dan mengerutkan kedua alisnya. "Davin sumpah ya gak jelas banget." Lagi-lagi dibalas kekehan dan usapan di kepala beberapa kali.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 24, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DurasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang