"Ayo semuanya baris dengan rapi di lapangan cepat!"
Suara ricuh dari lapangan bergema berkali-kali. "Ayo Fin! Cepet! Udah di panggil dari tadi tuh!"
Aku menunggu fina yang masih sibuk mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari Id card.
"sebentar, Id card aku ga ada ni"
"Gimana bisa ga ada si? Kemarin kamu siapin ga?"
"Iya sya udah!"
Aku melangkah masuk ke dalam kelas berniat membantu Fina yang terlihat makin panik.
"Udah ketemu!" Fina berteriak girang lalu segera berlari ke arahku.
"Buruan!" Tangannya menarik lenganku cepat.
"Gila! Pelan-pelan aja Fin!"
Kami berbaris di baris paling belakang karena hampir terlambat. Tak sengaja kakiku menginjak sesuatu.
"Aww.."
"Aduh maap ya"
Gadis di sampingku menatap dengan angkuh.
"Tadi ga sengaja"
"Gapapa" senyum di wajahnya mulai tergambar. Tangannya terulur menjabat tanganku.
"Andira"
"Oh iya, aku alisya" aku menjabat tangannya.
"Kelas mana?" Tanyaku lagi, berusaha mencari topik pembicaraan supaya tidak tercipta suasana canggung.
"X-Bahasa, kamu?"
"Bahasa? Kita sekelas dong?"
"Eh, tunggu bukannya yang baris di sini emang kelas bahasa ya?" Andira menggaruk tengkuknya.
Kami tertawa, sebelum MC dengan pengeras suara kembali berkicau memekakkan telinga.
"Baik silahkan berbaris dengan rapi, cowok baris di depan dan cewek di belakang cowok, jangan lupa Id card"
Semuanya terlihat biasa sampai mataku tak sengaja melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.
Ia tersenyum padaku.
Lalu kulihat ia nampak berdesakan di belakang barisan dan berjalan ke arahku.
"Gue cariin kemana-mana juga! Disini ternyata" ucapnya.
"Aduh Rik! Gue udah nungguin Lo dari tadi, Lo malah ga ada! Salah siapa coba?"
"Widihh, marah ni ceritanya? Tambah pendek baru tahu rasa!" Tangannya menarik topi yang kupakai hingga menutupi pandanganku.
"Apaan si!" Ia hanya terkikik.
"Dimohon untuk tidak membuat gaduh dan berbaris dengan rapi" MC mulai berkicau lagi dan sepertinya upacara tidak akan berjalan dengan cepat.
"Balik sono! Balik ke barisan kelas Lo!"
"Iya iya bawel"
"Udah sana!" Aku mendorong tubuhnya.
"Dadahh" ricky melambai, selalu seperti itu kebiasaan yang tak pernah bisa hilang.
Di beberapa menit kemudian upacara di mulai.
***
Semua siswa berhamburan dan berebut masuk ke kelas masing-masing.
Andira dan Fina lebih memilih pergi ke toilet untuk menyisir rambut 'daripada berdesakan katanya' dan akhirnya aku harus berjalan sendiri ke kelas.
Pintu kelas berjarak beberapa meter lagi. Sebelum aku merasakan sesuatu menghimpit tubuhku.
"Aduhh!"
"Gantian dong masuknya!"
"Kamu aja yang mundur! Ngalah sama cewek!"
"Enak aja! Siapa yang duluan? Aku!"
Memang salah satu sifat yang tidak bisa terlepas dari diri manusia adalah tidak mau mengalah.
Dengan perjuangan kuat akhirnya aku dan cowok di sebelahnya bisa lepas dari himpitan pintu yang sempit.
"Bego! Kenapa tadi ga ada yang bantu buka pintu sebelah sih?" Ia marah-marah sambil memegangi pinggangnya.
"Yang bego itu kalian! Udah tau itu 2 pintu yang satunya ga di buka kenapa masukbya barengan?" Salah satu teman sekelas yang tidak aku kenal berteriak keras di susul suara tawa yang menggema dari setiap orang di sudut ruangan ini.
"Aduh, sakit lutut ku!"
"Sorry ya, sini berdiri"
Saat mendongak sebuah uluran tangan tepat berada di depan mataku. Bingung antara menerima tangan itu atau memilih mengacuhkannya saja.
"Mau berdiri ga sih?" Dan tepat setelah pertanyaan itu lamunanku terhenti.
Sedetik kemudian ia berjongkok, mendekatkan wajahnya padaku dan Tatapannya terasa dingin.
"Maaf bikin kamu jatuh, tapi kalo kamu ga mau berusaha berdiri setelah kamu jatuh maka selamanya kamu akan tetap jatuh"
Ia menjauhkan wajahnya dan berdiri, berjalan menjauh dariku yang masih terduduk di lantai.
Duduk di bangku paling belakang adalah favorit semua siswa termasuk dia.
"Astaga sya! Kamu ngapain duduk di sana? Duduk di bangku!" Andira dan Fina menarik tubuhku berdiri dengan belasan pasang mata yang sedari tadi enggan untuk berpaling.
"Rasanya malu jadi perhatian banyak orang" aku berbisik pada 2 pasang telinga di sebelahku.
"Salah sendiri!" Sahut mereka bersamaan.
"Kenapa?"
Langkah mereka berhenti sehingga mau tidak mau memaksaku untuk berhenti.
"Bego! Ditolongin malah gamau!" Telingaku terasa penuh seketika. Penuh dengan suara-suara memekak yang berakhir pada pemikiran yang tidak di undang.
Mataku melirik bangku paling belakang tempat dimana seseorang menatapku dengan datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tata Hati
RomansaAlisya tak pernah tau apa yang akan terjadi pada hidupnya di masa depan. Ia tak tahu masalah apa saja yang akan menunggunya di masa mendatang. Ia sama sekali tak tahu seperti manusia-manusia pada umumnya di semesta. Namun semesta memang bekerja deng...
