×××
"Ibu, kita akan kemana?"
Jihoon yang menggigil kedinginan mengeratkan sweater yang ia kenakan. Kepalanya berulang kali menoleh ke belakang ataupun ke samping, hanya untuk memastikan apa yang otak kecilnya pikirkan tidaklah nyata, refleks saja.
Telapak tangan mungil Jihoon yang halus digenggam sangat erat oleh sang ibu, semakin kuat dan akan menyakiti epidermis yang nyaris membeku.
"Nanti akan ibu jelaskan, sayang. Kita.. harus cepat.."
Jihoon mendongak untuk melihat wajah ibunya. Tidak ada hal aneh yang penglihatan si manis tangkap dari raut wajah ibunya, ah mungkin, bola matanya sedikit bergetar. Bibirnya juga kering dan setiap ia bernapas asap putih mengepul keluar. Namun sepertinya itu biasa?
Keduanya berjalan terburu-buru. Kaki-kaki pendek Jihoon sedikit kesulitan menyeimbangi langkah ibunya yang terlampau besar. Tepat di belakang telinganya terdengar suara geraman rendah dan bisikkan hewan-hewan malam. Tiap kali mereka berpijak ke tanah suara daun kering dibalut tetesan embun dini hari berbunyi renyah.
Jihoon semakin bingung. Apa yang sebenarnya ia dan ibunya lakukan pada malam hari yang dingin di tengah hutan? Tak ada apapun yang bisa Jihoon ingat mengenai apa yang terjadi sebelum keduanya sampai diantara pohon-pohon berbatang besar dan berlumut ini. Yang ia ketahui hanya sejak dua jam yang lalu ibunya sudah kelihatan panik sambil menuntunnya berjalan cepat menembus semak-semak.
"Jihoon-ah, tunggulah disini sampai ibu kembali. Jika kau mendengar sesuatu yang aneh- segera tutup matamu dan telingamu. Berjongkok disini, jangan pergi kemanapun. Ibu minta maaf, sayang. Ibu-"
"I-ibu.. akan.. hiks.. pergi k-kemana?"
Dua hal yang membuat Jihoon terisak.
Kegelapan dan rasa sakit di bahunya.
Ibu Jihoon mencengkeram bahu Jihoon terlalu kuat. Ditambah kuku-kuku panjang itu menusuk punggung Jihoon yang hanya terbalut sweater satu lapis. Namun Jihoon tak berani protes. Atau tepatnya situasi membuatnya tak bisa protes.
Kilat menyambar di belahan bumi yang lain, tetapi cahayanya menusuk hingga ke retina Jihoon yang lelah dan linglung. Dentuman keras dari guruh yang datang empat detik setelahnya mengagetkan sepasang ibu dan anak itu. Biasanya, Jihoon memeluk ibunya saat akan hujan seperti ini. Namun sekarang, jangankan bergerak, bicara saja rasanya butuh berjuta tenaga kuda agar suara yang dihasilkan tidak bergetar.
Wanita muda yang saat ini sangat kusut itu gelisah. Tak jauh berbeda dari Jihoon, ia juga sibuk memutar kepalanya ke segala arah. Sekali lagi memastikan- tak ada seorang pun yang mengikuti keduanya.
Jihoon bisa merasakan dahinya yang dingin dan basah oleh keringat dikecup lama oleh sang ibu, "Aku menyayangimu, Jihoon. Sangat."
Jihoon ingin berteriak memanggil ibunya kembali ke hadapannya ketika sang ibu kembali ke arah dari mana mereka datang sebelumnya. Anak kecil itu terisak dalam diam dan terus menggumamkan rasa takutnya tanpa suara. Dua tangannya ia kepalkan dan mengusap matanya yang terus mengeluarkan cairan bening.
"Ibu.. Jihoonie.. Ji-- akh.."
×××
Petir itu terlalu besar suaranya. Kuat dan menusuk hingga ke sanubari. Terlalu mengejutkan bagi siapapun yang tidak memerhatikannya dari awal.
Seperti Jihoon, ia sangat kaget ketika menyadari bahwa sekarang langit Paris sudah begitu gelap. Beberapa menit lalu dirinya masih mengeluh kapan terakhir kali Tuhan menghadiahkan anugerahnya ke ibukota Negara Prancis itu. Kini langit telah menjawabnya. Diiringi jatuhnya beribu tetes air dari awan-awan berat itu, Jihoon mengerjap saat sebuah kilat tertangkap penglihatannya.
ESTÁS LEYENDO
lightning. ㅡnielwink✔
FanfictionWe meet, we talk, we find out, we fall in love, then we know. an alternate universe. boyslove, bxb, yaoi!
