Yunho bukan termasuk orang yang peduli sekitar meski sekedar menatap ekspresi wajah manusia di sampingnya. Tapi nyatanya, sekarang Yunho sedang memperhatikan wajah salah satu teman sekelasnya dengan tatapan memujaㅡtentu saja si empunya tidak menyadariㅡdi tengah keributan yang dibuat oleh seluruh penghuni ruangan.
Yunho kenal orang itu. Tidak terlalu dekat walau satu kelas selama tiga semester lebih, mereka berbicara seadanya jika perlu. Itu pun jarang. Yang ia tahu, orang itu terlihat pendiam, cukup pintar sampai-sampai berebut peringkat satu di kelasnya dengan peserta olimpiade sains, dan terlihat tidak mempunyai teman, mungkin. Pokoknya, dia itu tidak banyak bicara, suka sekali merespon omongan orang lain dengan gerakan kepala atau senyuman, dan tidak pernah terlihat bersekawan dengan teman-teman sekelasnya. Menurut Yunho.
Tidak ada yang spesial selain otak pintarnya. Tapi, beberapa waktu belakangan ini, Yunho merasa dirinya tertarik untuk memperhatikan orang itu yang bahkan tidak melakukan suatu perbuatan mencolok untuk diperhatikan.
Namanya Park Seonghwa. Yunho akui Seonghwa memiliki senyuman manis. Yunho menilai nada suara Seonghwa cukup lembut.
Ingin ia katakan, Seonghwa itu cantik untuk standar pria. Mata bulat seperti kacang almond, hidung mancung dan lancip, bibir tebal berwarna pinkㅡYunho tau warna itu alami tanpa polesan pewarna bibir, serta rahang yang ramping. Garis wajahnya tajam, namun lembut. Terlihat tampan dan cantik di waktu bersamaan.
Rasanya sejuk melihat tawa dari Seonghwa ketika guru bahasa Inggrisnya melempar candaan. Masih anggun, berbeda dengan temannya yang lain, tertawa nyaring sambil memukul meja atau orang di dekatnya, dan menyahuti candaan tersebut dengan lelucon lagi.
"Heh, lihat apa?" Yunho terperanjat kecil kala teman sebangkunya, Choi San, menepuk kuat bahunya.
"Capung kawin di luar jendela." jawab Yunho asal. Ia menepis tangan San di bahunya dan kembali fokus pada guru yang sudah menghentikan acara lawaknya di depan kelas.
***
Bel pertanda kegiatan belajar mengajar hari ini usai berbunyi. Seluruh siswa berbondong-bondong meninggalkan ruang kelas, termasuk Yunho. Menyisakan segelintir orang yang harus menjalankan jadwal piket.
Yunho dan kelima temannya berjalan beriringan melewati lapangan utama sekolah. Sesekali San, Wooyoung, dan Mingi melempar gurauan.
"Ayo kita mampir dulu ke rumah Hongjoong!" ajak San, si pria berdimple.
"Mau ngapain?" tanya Hongjoong.
"Main, numpang makan." kata Mingi yang dibalas decakan oleh Hongjoong.
"Aku gak bisa, udah janji mau nemenin Jongho belajar," Yeosang menolak. Wooyoung pun menyahuti, "bilang aja mau ngedate,"
"Ya udah, kita berlima aja. Yunho ikut, 'kan?" Yunho mengangguk menanggapi pertanyaan dari San yang merangkul pundak Wooyoung, sebelum menepuk dahinya. "Duh, lupa, dompetku ketinggalan di kelas. Kalian duluan aja, nanti aku nyusul!"
Setelah mengatakan itu, Yunho pergi meninggalkan mereka untuk mengambil dompetnya di kelas.
Yunho memelankan langkahnya saat sudah dekat dengan pintu ruang kelasnya. Tidak kosong, masih ada temannya yang membereskan alat kebersihan. Ia pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Yunho melihat Seonghwa di sana sedang menutup retsleting ranselnya. Hari ini jadwal piket Seonghwa.
Yunho berpapasan dengan Seonghwa. Ia lihat, ekspresi wajahnya murung. Tidak tersenyum atau pun menoleh kepadanya.
Yunho menyadari air muka Seonghwa selalu suram ketika sekolah di bubarkan. Yunho tidak ambil pusing, mungkin lelaki Park itu terlalu betah dan enggan meninggalkan sekolah.
Sosok Seonghwa menjauh. Ia melanjutkan niat awalnyaㅡmengambil dompet yang tertinggal. Bersyukur benda itu masih berada di posisinya.
●○●○
Aku coba publikasikan ini, hope you like it! :)
YOU ARE READING
Ossessione || Yunhwa
RandomMereka yang saling mencintai adalah yang bersalah. Membuat keduanya muak dengan segala hal di dunia. - warn! bxb - dom! yun - 🔞
