Malam itu, akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah yang akan kami tinggali ditemani butiran lembut salju yang turun dengan cantiknya. Ya, salju bulan Desember. Hampir semua orang di negara ini sedang berkumpul bersama keluarga mereka menikmati hidangan khas yang disajikan pada hari raya natal. Seperti rumah di sebelah rumah baruku misalnya, aku pikir mereka juga sedang merayakan Natal bersama keluarga besar mereka, terlihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di depan rumah mereka serta alunan musik khas Natal yang mereka putar.
Kami segera mengambil barang-barang yang telah kami bawa untuk dipindah di rumah baru kami. Huh, rumah baru? Lagi? Aku tak tahu sudah berapa kali kami pindah dari negara satu ke negara lain hanya untuk mengembangkan bisnis ayahku yang saat ini mungkin sudah lebih dari lima negara yang telah dia datangi.
Apa kalian kira, ayahku melakukan semua ini karena ini semua adalah warisan dari kakekku?
Tentu saja tidak.
Ini semua dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dari kecil, ayahku tidak pernah diajarkan untuk hidup mewah, bahkan saat ayahku kuliah dulu, ayahku pernah menjadi pekerja paruh waktu di sebuah kafe di dekat kosnya. Pekerjaan apapun akan dilakukannya selagi pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang dilarang. Walaupun aku tidak menampik bahwa kakekku adalah salah satu orang yang berpengaruh di negara asalnya.
Kembali lagi. Aku memutuskan untuk membuat coklat panas untukku nikmati sambil berdiam di balkon kamarku. Aku melihat ada balkon lain di depan balkon kamarku. Entahlah, hanya firasat atau mungkin benar ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu. Aneh, kenapa dia masuk ke kamarnya disaat semua anggota keluarganya merayakan Natal bersama di lantai dasar rumah mereka? Sudahlah biarkan saja.
Aku terkejut mendengar derit pintu yang digeser di seberang. Aku mendongakkan kepalaku supaya aku bisa melihat apa yang terjadi di sana. Ah, pemilik kamar seberang rupanya. Aku hanya tersenyum saat orang itu menatapku dengan raut heran. Suasana malam hari yang memang lebih gelap dari biasanya membuatku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Dia pun duduk di kursi yang tersedia di balkon kamarnya sambil memangku gitarnya. Dia memainkan senar gitarnya dengan asal selama beberapa saat. Mungkin karena dia merasa bosan dengan kecanggungan yang terjadi diantara kami, dia pun mulai membuka suara.
"Hai," sapanya.
Sadar tidak ada lagi orang selain diriku, aku pun membalas sapaannya.
"Oh, hai juga." balasku.
"Apakah kau adalah tetangga baruku? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Iya, aku tetangga barumu."
"Wah, sejak kapan kau pindah?"
"Mungkin sekitar satu jam yang lalu aku sampai di rumah ini."
"Pantas saja, saat itu aku dan keluargaku sedang makan besar dengan suara tawa yang menyebar dimana-mana. Maaf, kami tidak menyambut kedatanganmu."
Aku tersenyum, lalu menjawab, "Tidak masalah, kalian pasti sedang sibuk makan saat itu."
"Benar sekali. Hmm, omong-omong kenapa kau pindah saat hari Natal? Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk mempererat hubungan persaudaraan dengan keluarga."
Aku terdiam cukup lama untuk memikirkan jawabannya.
Sadar aku diam lama, dia pun langsung menyambung,
"Maaf, bukan maksudku untuk mengganggu privasimu. Kalau kau tidak mau menjawab, tidak apa-apa.", katanya dengan raut wajah merasa bersalah.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. Hening lagi. Dia yang mungkin tak tahan dengan keheningan, bertanya lagi kepadaku.
"Omong-omong, aku belum tahu siapa namamu. Bolehkah kita berkenalan? Namaku Mark Lee. Kau bisa memanggilku Mark. Kau?"
Belum aku menjawab, suara ibu yang memanggilku terdengar.
"Maaf, aku harus masuk. Ibu memanggilku." kataku lalu tersenyum merasa tidak enak kepadanya.
Aku pun masuk ke dalam dan menutup pintu balkon kamarku. Satu nama yang terlintas dipikiranku.
Mark Lee. Mark.
Entahlah, firasatku mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Mark sebelum ini.
°°°°
Ga tau lah ini cerita apaaan.
Hope u like it guys!
