SATU

22 3 1
                                        

"Jangan gegabah dalam mengambil keputusan, karena keputusanmu hari ini akan berdampak untuk dirimu sendiri. Bukan orang lain"

~~~~

HAI!!

Ini adalah cerita pertama yang ku tulis. Mungkin alurnya akan sedikit rumit dan sulit kalian mengerti, tapi mohon dimaklumi ya, hehe. Baru belajar juga. 

Oh iya, cerita ini juga diambil beberapa persen dari kisah nyata ya teman-teman. Kalau aku lagi ingat ceritanya, ya kutulis lagi. hehehe. selamat membaca...


~~~

"Ra, saya jemput ya. Hujannya lebat banget." 

Tulisan itu selalu dikirm Devan saat hujan turun dipagi hari.

Tanpa waktu lama, mobil silver itu sudah ada di halaman rumahku. Sangat terlambat jika harus menolak niat baiknya. Entah kenapa setelah terpilih menjadi pasangan pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS kemarin, Devan selalu memberi perhatian lebih padaku. Partner kerja? Jelas. Tapi, kalau aku ketahuan tidak makan saja dia akan khawatir luar biasa. Aku mulai merasa kurang nyaman dengan sikap Devan padaku. Terlebih jika teman-teman sesama OSIS juga mulai merasa ada yang aneh antara aku dan Devan. Namun jika menanyakannya sekarang, apakah akan mengubah sikapnya lagi menjadi lebih ketus dan super dingin? Toh kan sebelum sedekat ini aku dan Devan seperti kucing dan tikus kalau lagi marahan. Hm.

"Diem ajar Ra. Lagi mikirin apa?" ujarnya yang menyadarkanku dari lamunanku.

"Eh gapapa."

Saat tiba di sekolah, ia memberikan jaketnya untuk ku pakai sampai ke kelas. Padahal hujannya sudah agak reda, jadi basah sedikit tidak masalah. Lagipula aku bawa payung.

"Eh ga usah, Dev. Saya bawa payung kok."

"Oh ya udah. Nanti kalau udah pulang, chat saya ya."

"Ga usah, Dev. Saya bisa pulang sendiri." Bagaimana? Jahat bukan menolak kebaikan orang lain?

"Kali ini aja, Ra. Saya yang jemput kamu, saya juga yang harus anter kamu pulang. Oke? Udah ga boleh nolak. Sana ke kelas."

Aku berjalan menuju kelas, sementara Devan masih di parkiran. Setelah memasuki koridur, aku menitipkan payungku di pos satpam. Chaira Daniya, itulah nama lengkapku. Orang-orang sering memanggilku Aira.

Satu titik saja yang mengganggu pikiranku, akan terus kupikirkan sampai titiknya hilang dengan damai. Bagaimana caranya ya aku menyampaikan ini pada Devan? Ah, bingung. Kenapa Devan begitu perhatian padaku? Devan suka ya sama aku? Ah tidak-tidak. Itu tidak boleh sampai terjadi. Aku dan Devan hanya sebatas teman, atau kalau mau lebih, ia hanya ku anggap sebagai abangku. Tidak lebih. Kuharap Devan mengerti.

"Kebiasaan deh, kalau jalan tuh fokus liat jalannya. Neglamun aja. Kamu kenapa sih, Ra?" lagi-lagi aku melamun, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika menanyakan hal ini pada Devan.

"Ah, kamu ngagetin aja." Belum saatnya aku memberitahu Ulya tentang ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ulya temanku sejak kecil, dia tau apa yang sedang kupikirkan. Seluk beluk tentang diriku dia sudah khatam beberapa kali.

"Devan ya?" tebak Ulya benar. Apa kubilang, Ulya adalah peramal terbaik yang kini menjadi temanku juga.

"Nanti aja ya ceritanya, liat catatan biologi kamu dong. Semalem saya lupa ngerjainnya."

Ulya mengerti, kalau aku sedang murung seperti ini, aku memang bosan berbicara dan menjelaskan semuanya. Ia langsung memberikan catatan biologinya padaku tanpa banyak tanya lagi. Satu persatu teman kelasku datang dan juga belum ada yang menyelesaikan catatan biologinya.

CHIAREZZA.Stories to obsess over. Discover now