Kesalahan-

16 0 0
                                        

Aku melihat ke wajahnya yang tengah tenggelam di antara kakiku. Malam itu semua hal sangat kacau tapi anehnya aku sangat menikmatinya.

Semua prinsipku yang telah kubangun bertahun-tahun runtuh seketika. Aku tengah meracau ketika dia menggeledah titik terlemahku-
"Bukalah sedikit lagi..." Ucapnya melalui bibir tebal merah mudanya lalu dia melanjutkan pekerjaannya tadi.

Sebelumnya aku rasa kami hanya teman SMA lalu entah kenapa aku dan dia bisa satu almamater lagi. Padahal, waktu SMA kami selalu bertengkar dan dia selalu mengerjaiku. Aku bahkan tidak bisa menyebutnya sebagai teman karena aku sama sekali tidak pernah hangout dengannya.

"Ughhh... Lanjutkannn" Desahku lirih. Si Bangsat ini tiba-tiba berhenti dan menatapku tepat di bola mataku.

"Hei.. Bukankah kau terlihat sangat menikmatinya sekarang?" Tanya Si Bangsat itu.

Aku seketika duduk dan membereskan bajuku lalu menutupi dadaku dengan menyilangkan kedua tanganku. Aku tak habis pikir kenapa pria ini terlihat mengejek dan sombong merasa pekerjaannya tadi luar biasa.
Baik, akan kujelaskan seperti apa pria bangsat ini. Dia mahasiswa Teknik Sipil semester 7 berawakan agak sedikit gemuk tinggi 180cm. Rambutnya panjang se-pundak warnya cokelat terang. Semenjak 2,5 tahun yang lalu dia selalu menempel denganku. Bahkan ketika kusuruh dia membelikanku makanan tengah malam dan menyuruh dia membelikanku pembalut ketika aku menstruasi.

Teman-teman kuliahku mengatakan pria bangsat itu menyukaiku tapi aku selalu menepis perkataan mereka. Mana mungkin dia jatuh cinta padaku sementara dulu sering mengejekku.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini kalian perlu sadar bahwa, hanya aku yang berhak menyebutnya "Bangsat". Hanya aku. Aku saja.

Kalian boleh menyebutnya dengan Hugo Hardwin. Dia adalah salah satu mahasiwa berprestasi di fakultasnya.

Dan aku? Oh iya, perkenalkan namaku Sofia Nichole. Aku ada di jurusan Ilmu Komunikasi satu almamater dengan Si Bangsat itu.

Apakah kalian penasaran kenapa Hugo menjadi mahasiswa beprestasi?

Ummm sepertinya aku berubah pikiran. Aku tidak akan menjelaskannya. Intinya dia pintar sekali. Asal kalian tahu dari dulu dia selalu mendapat peringkat atas ketika SMA. Tapi apakah dia terkenal selama masa sekolah?

Jawabannya adalah tidak. Hugo bukan seperti lelaki idaman yang sering kalian baca di wattpad atau di buku manapun itu. Hugo juga bukan tokoh utama yang tampan seperti di film-film kesukaan kalian. Dia sederhana tak terlalu tampan tak jelek juga.

"Apakah kau sayang padaku?" tanyanya dengan mata penuh harap - hampir mirip anak anjing.

Jujur aku sangat menikmati semua waktuku bersama Si Bangsat ini. Tapi aku merasa aku hanya bersenang-senang dengan dia seperti yang baru saja kami lakukan di ranjang.

Tidak seperti yang kalian pikirkan kami belum pernah having sex. Kami hanya sedikit foreplay saja. Aku mendorong tubuhnya ketika kemarin dia hampir saja memasukkan- ah sudahlah aku tak mau membahasnya.

"Aku merasa semua terlalu cepat, Hugo. Kita sebulan yang lalu hanya teman yang menghabiskan waktu bersama. Aku bahkan masih tak percaya kau seserius ini padaku." Jelasku lalu kulihat ekspresi wajahnya untuk meyakinkan pada mulutku ini untuk terus bicara atau diam.

"Terimakasih kau selalu membantuku dalam semua tugasku di kampus padahal kita beda fakultas. Kau juga sudah bersusah payah mengantarkanku kemana saja jika aku memintamu. Aku merasa aku belum bisa terbiasa dengan keadaan ini."

"Aku tahu. Aku sebenarnya tak mau berterus terang sebelum kita lulus tapi aku sudah tak tahan." Hugo menarik napas lalu melanjutkan perkataannya.
"Atau kau punya seorang pacar?"

Aku tertawa keras sekali dalam sepersekian detik. Lalu tanpa kusadari aku tersenyum kaku sebentar.

"Kau gila? Aku tak punya kekasih. Ah sudahlah Hugo! Aku tak bisa melanjutkan obrolan ini. C'mon,Dude! Hugo, aku mulai menyesali apa yang kita lakukan. Kenapa sebulan lalu kau menggerayangi dadaku dan tiba-tiba menciumku ketika masa suburku? Dasar bodoh!"

Hugo diam masih mendengarkan perkataanku yang belum selesai.
"Kemarikan ponselmu aku akan memesan Uber."

Aku merampas ponsel Hugo secara paksa dan memesan Uber supaya aku bisa cepat-cepat pergi dari Si Bangsat ini. Hugo berusaha meraih ponselnya kembali tapi terlambat karena aku telah selesai memesan.

Aku segera berpakaian dan membereskan barang-barangku. Aku pulang tanpa melihat wajah Si Bangsat itu karena aku pasti akan bertambah kesal.

Kalian pasti tahu kan bagaimana rasanya ingin menangis tapi ajaibnya kau tak bisa. Aku selalu menyesali semua yang kulakukan dengan Hugo. Kalau saja sebulan yang lalu aku tidak menginap di appartmentnya, mungkin saja kami masih seperti teman yang sangat amat biasa.

Aku benci Hugo. Terlebih lagi, aku benci diriku.

"Bodoh! Kenapa aku menikmatinya. Harusnya aku bisa meno- arrrghhh Hugo aku membencimu."

Dioscuri GangStories to obsess over. Discover now