Prologue

55 9 0
                                        

Apakah semesta itu adil?

Apakah setiap manusia berhak bahagia?

Apakan semua sesuatu yang terjadi merupakan takdir atau hanya kebetulan belaka?

Agritha menghela napas panjang, kenapa semua terasa begitu tidak adil untuknya. Bukan. Agritha bukannya tidak bersyukur. Satu-satunya hal yang dapat dia syukuri di dunia ini telah di ambil darinya. Seakan belum cukup Agritha harus merasakan kehilangan yang membuat sebuah lubang kosong dalam hatinya. Tahun-tahun panjang yang dia lewati seakan ringan namun tak berselang lama kembali menjadi berat. Rasa takut menggelayuti jiwanya.

"Andai semuanya nggak seterlambat ini" Agritha bergumam lalu tersenyum miris pada pantulan dirinya di depan cermin. Senyum itu berubah menjadi tawa sumbang lalu berubah lagi menjadi isak pilu dengan air mata yang berkejaran di pipinya.

"Memendam luka nggak bakal bikin kamu sembuh" Agritha mendongak lalu kedua matanya bertemu dengan ketua netra tajam milik kakaknya Alkha. Alkha mendekat dan duduk di samping adiknya. Agritha memang terlihat sangat ceria namun Alkha tau bahwa di balik senyum dan tawa adiknya tersimpan luka yang menggoresnya begitu dalam.

"Sampe kapan mau terus begini Dream? Kamu harus bangkit, jangan cuma berpura-pura baik-baik aja" lantas Alkha meraih adiknya dalam sebuah peluk yang hangat. Alkha ingin melindungi Agritha, Alkha sangat ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran adiknya itu. Sayangnya Agritha itu sosok manusia yang sulit ditebak jalan pikirannya.

"Dream dengerin kakak baik-baik, kamu berhak untuk mendapat kebahagiaan yang semestinya" Alkha berbisik lirih pada Agritha. Seulas senyum tipis terkukis di bibir Agritha setidaknya kehadiran Alkha benar-benar pada waktu yang tepat. Setidaknya dengan dipeluk oleh kakaknya Agritha tidak lagi merasa sendirian.

__🌙__

"Ga kalo seandainya lusa lo mati, apa yang mau lo lakuin besok?" Nalendra bertanya pada Angga.

"Lo nyumpahin gue Na?"

"Kagak Ga, cuman mau nanya doang"

"Lo nanya nya gitu amat! Nanya tuh yang bener coba 'Ga udah makan belum' atau 'Ga mau duit kagak"

"Ya udah kalo lo gak mau jawab juga nggak apa-apa kok". Angga menatap temannya yang memiliki jalan pikiran aneh ini. Semenjak berteman dengan seorang Nalendra Dzaka Fairanz, yang konon katanya mirip Dilan ini, Angga kerap kali ditanya hal-hal aneh tak masuk akal.

"Oke gue jawab asal nanti lo bayarin gue makan siomay"

"Dih dasar mata duitan"

"Sesekali nggak apa-apa lah, lo kan tajir kalo jajanin gue siomay sama es teh doang lo gak bakal miskin"

"Wong edan"

"Kalo lusa gue mati, besok gue bakal nempatin janji-janji yang pernah gue buat sama orang-orang". Hening, Nalendra tidak bersuara mata lelaki itu memandang lurus ke depan seakan sedang menerawang.

"Emang lo janji apa aja dan sama siapa aja?" Akhirnya Nalendra bersuara.

"Macem-macem sih, sama banyak orang juga dan lo salah satunya, dulu gue pernah janji sama lo buat motong pita saat lo buka pameran fotografi nanti, gue juga pernah janji bakal beliin si Aji bocah kurang ajar itu komputer yang dia mau nanti kalo uang jajan gue udah sebanyak uang jajan Chendrana."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 19, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ein WunderWhere stories live. Discover now