1

346 41 17
                                        

Halo kamu yang baca tulisan ini.. :):):)

Jadi karena beberapa penulis favoritku sedang hiatus. Akhirnya aku memberanikan diri buat ngepublish tulisanku sendiri yang jauh banget kualitasnya dari idola idolaku macem Kak Taomio kak Nina Kak Acel Kak Sul Kak Kesayangan Taeil dan semua author paporitku yang gabisa kusebut satu persatu

Alasan berani ngepublish ini karna aku kepengen sekali kali ngerasain rasanya jadi author yang ceritanya dibaca ama orang lain.. anw sebenernya aku udah nulis lumayan lama tapi gaada yg permah aku publish karna aku malu gitu hhaha

Okelah cekidot maaf bnyak bacot..





This is it! 
Ini adalah limit kesabaran Taeyong. Dia memang mencintai pacarnya, tapi hatinya tak cukup lapang untuk menerima semua penghinaan dan tatapan judging dari keluarga besar pacarnya itu. Jung Jaehyun adalah tangkapan besar (big catch), kata keluarga dan sahabat-sahabatnya. Tapi, Taeyong tak seharusnya menelan semua hinaan keterlaluan dari keluarga besar Jung. Terutama Ibu mertuanya (ralat, calon atau lebih tepatnya mantan calon). Bagi calon mantan Ibu mertuanya, dosa masa lalu Ibu Taeyong tak termaafkan. Hubungan yang sudah terbina selama 3 tahun terpaksa berhenti disini. New York tak akan pernah sama lagi bagi Taeyong.

Taeyong meninggalkan bangunan megah dibelakangnya (Jung Manor) yang seolah menatapnya dengan sombong. Dalam hatinya, ia berharap Jaehyun sang kekasih akan menyusulnya. Tapi putra tunggal keluarga Jung yang terhormat pasti tak akan menyusulnya, setelah apa yang dilakukannya pada ibu mertuanya aka ibu kandung yang melahirkan Jaehyun. Oke, menyiramnya dengan air putih dingin memang agak keterlaluan, ralat sangat keterlaluan. Tapi Taeyong benar-benar tak punya pilihan, tidak saat Ibu Jaehyun terus menjelek-jelekkan Ibu Taeyong. Bagaimanapun tak akan ada yang menjaga harga diri keluarganya, kecuali dirinya sendiri.

Sekarang Taeyong menyesal menuruti keinginan calon Ibu mertuanya -ah sekarang lebih pantas disebut dengan Ibu mantan pacarnya- untuk menginap di JW Marriot, demi Tuhan! Hotel ini terlalu mewah untuk dirinya yang hanya pegawai kantoran biasa. Jaehyun memang memesankan hotel ini untuknya selama 3 hari, yang berarti itu harusnya check out siang tadi dan mulai tinggal di Jung Manor saat orang tua Taeyong datang ke New York dan akan terus disana sampai resepsinya di The Plaza selesai. Namun, karena insiden tadi pagi, ia sudah pasti tak akan menjadi pengantin sabtu nanti. Taeyong terpaksa harus tinggal di hotel yang for fucking sake kelewat mewah. Ia menghabiskan tabungan setahunnya yang harusnya ia gunakan untuk sumbangan pernikahan dengan tinggal semalam saja di hotel ini!

Bagian tersulit dari membatalkan pernikahan yang sudah didepan mata adalah pandangan orang-orang.  Dalam hal ini adalah orang tuanya sendiri. Segera setelah Taeyong keluar dari Jung Manor, Ia langsung menghubungi Ibunya dan mengatakan bahwa ia dan Jaehyun sudah putus. Ibunya, seperti yang sudah ia duga, berteriak dan menyumpahinya. Ayah tirinya yang lebih tenang tentu tidak menyumpahinya, namun tetap memberinya nasihat bahwa setiap persiapan pernikahan akan selalu menimbulkan ketegangan. Ayah tirinya tak lagi berkomentar setelah Taeyong bicara soal dirinya yang menyiram Ibu Jaehyun dengan air dingin plus mengatai keluarga Jung adalah Aristocrat palsu. Setelah menit-menit canggung, Ibunya akhirnya memberinya ultimatum,

“Berlututlah, mohon ampunan mereka, tetaplah menikah atau kau tak lagi punya orang tua”

“Sampai jumpa hari Sabtu nanti, Taeyong-ah” Seru Ayah tirinya dilatar belakang sebelum teleponnya mati sepihak.

Fine! Berarti mulai hari ini Lee Taeyong adalah yatim piatu.

Sampai matipun, aku tak akan minta maaf pada orang-orang sialan itu!

Tinggal di hotel semewah ini seorang diri ternyata tidak membawa ketenangan yang Taeyong butuhkan. Demi apapun, Taeyong butuh refreshing. Andai ia tak emosi dan membanting ponselnya ke jalanan, ia setidaknya bisa membaca text sentimental yang dikirim Ibunya atau mungkin hanya mungkin, ia bisa me-reject telepon Jung Jaehyun (walaupun kalau memang Jaehyun punya niat baik, Ia pasti bisa menghubunginya ke nomor telepon hotel). Tetap saja hidup tanpa ponsel di luar negeri begini membuatnya mati gaya. Setelah muak berbaring di suitesnya yang mahal for nothing, Taeyong memutuskan turun ke bar hotel. Nikmati selagi bisa, begitu prinsipnya.

The Best Of MeStories to obsess over. Discover now