Prolog

135 12 8
                                        

Ketika dunia mimpi menyentuh lembut pikiran, ketika itulah dunia nyata kehilangan kepercayaan.

Ketika dunia mimpi melumat habis keputusasaan, ketika itulah keputusan harus dibuat.

Satu langkah maju, dan tidak ada lagi jalan kembali.

***

23 September

"Bangun, Nona Sears! Berapa kali lagi harus aku peringatkan? Kalau besok kau masih juga tidur di perpustakaan, aku tidak punya pilihan lain selain mencoret namamu dari buku tamu. Kau mengerti?"

Lenecia Sears, menyembulkan kepalanya dari dalam mulut tas. Gadis itu masih terkantuk-kantuk sebab dikejutkan oleh suara nyaring milik Tuan Karmen, sang Penjaga Perpustakaan. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Lene menoleh serta mengangguk sekilas ke arah Tuan Karmen sebagai tanda permintaan maafnya. Walaupun dia tidak berjanji kalau besok tidak akan mengulanginya lagi.

"Aku tidak akan menunggu lama hari ini, Nona Sears. Segera selesaikan urusanmu atau aku akan menguncimu dari luar," ujar Tuan Karmen setengah menuntut. Tuan Karmen melirik sebentar ke arah tumpukan buku-buku seputar masalah mimpi yang berserakan di atas meja. Dia menghela napas panjang sebelum mengingatkan Lene untuk terakhir kalinya. "Jangan lupa simpan kembali buku-bukumu ke rak semula." Lalu berjalan kembali ke mejanya.

"Beri aku waktu sepuluh menit," kata Lene mulai beres-beres.

"Lima menit."

Baiklah ....

Di mulai dari sejak awal bulan September lalu, Lene mendadak rajin datang ke perpustakaan. Di sela-sela waktu sibuk dengan kegiatan sekolahnya, Lene berusaha menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan. Bahkan teman-teman di kelas sampai lupa kapan terakhir kali melihat Lene menghabiskan jam makan siang di kantin sekolah. Lene seperti bukan dirinya yang dulu. Entah apa yang terjadi, atau apa yang gadis itu lakukan di perpustakaan? Terlepas dari perubahan kebiasaan Lene yang meninggalkan sedikit tanda tanya di benak teman-temannya, sebenarnya perubahan itu tidak buruk juga. Hanya saja, aneh untuk melihat Lene yang dulu bahkan hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan; terbersit pun tidak di kepalanya untuk masuk ke tempat itu.

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat dan langit menggelap. Terang Bulan samar-samar mengintip dari balik awan-awan kelabu yang melayang rendah. Deru angin lambat laun menambah kecepatan embusannya, menjangkau tiap-tiap sudut kota, mengantarkan udara malam yang dingin menggigit. Ketika aroma tanah yang pekat menguar ke udara, ketika itu pula beberapa orang sadar kalau hujan atau mungkin badai akan segera datang.

Lene adalah salah satu dari sekian orang yang sadar akan perubahan cuaca tersebut. Dia berdiri di pinggir trotoar sambil mengetuk-ngetuk pelan ujung sol sepatunya yang lusuh. Udara dingin membuat Lene mempererat jaket tebal yang memeluk tubuhnya. Matanya menatap jauh ke jalanan gelap di antara dua gedung pencakar langit di seberang jalan. Pandangannya kosong, tetapi guratan-guratan halus di ujung luar matanya jelas menunjukkan raut gusar.

Tepat pada saat itu, Lene tidak tahu harus pulang ke mana. Bukan karena Lene tidak punya rumah atau dia tiba-tiba hilang ingatan sehingga tidak tahu jalan pulang. Tidak. Lene masih punya rumah dan ingatannya baik-baik saja. Alasan Lene tetap berdiam diri di tempat adalah karena dia merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Dia melarikan diri dari rumah dan keputusan nekat itu dia ambil tanpa persiapan matang. Sekarang, dia sedikit menyesali tindakan cerobohnya itu. Namun, untuk pulang kembali ke rumah dan mengakui penyesalannya bukanlah pilihan yang akan dia pilih. Lebih baik dia tidur di jalan sampai besok pagi daripada harus mengemis maaf dari seseorang yang dianggap tidak pantas menerimanya.

MORPHEUSWhere stories live. Discover now