Untitled Part 1

18 1 0
                                        


            "Oke, gue tunggu ya! Bye," kata Vella sebelum menutup telepon. Ia kemudian kembali ke kerumunan teman-temannya.

"Senyum-senyum aja lo!" ledek Fanya ketika melihat Vella kembali ke tempat duduknya dengan senyuman.

"Percaya sama gue, pasti Rival yang nelpon," sahut Zena.

Vella tersenyum jahil, "you know, right?"

"Vel," Vira yang sedari tadi fokus pada laptopnya, kini mulai bersuara, membuat pandangan Vella, Zena, dan Fanya tertuju ke arahnya. "Lo sama Rival sebenarnya pacaran nggak, sih?"

"We're just friends," jawab Vella sambil tersenyum, menutupi kegelisahan di hatinya.

"Lo nggak mau coba ngomong ke dia, Vel?" tanya Fanya. "Ya siapa tau kan, ternyata selama ini Rival juga punya rasa ke lo? Tapi karena kalian nggak saling jujur, jadi stuck aja di lingkaran friendzone."

Vella menghela napas, "I'll try," jawabnya singkat. Meskipun dalam hatinya ia tidak yakin Rival memiliki rasa yang sama.

"Eh, kita disuruh kumpul jam berapa, sih?"

Lamunan Vella buyar ketika mendengar pertanyaan Vira.

"Jam empat," jawab Zena. "Tenang, masih dua puluh menit lagi, kok."

Fanya memandang jam tangannya, "Vel, temenin gue ke toilet, yuk."

Vella mengangguk. "Vir, Zen, kalo nanti gue sama Fanya kelamaan, lo berdua duluan aja ke audit. Nanti kita nyusul."

Vira yang masih fokus ke laptopnya, hanya mengacungkan jempol kirinya. Sedangkan, Zena mengangguk, "oke Vel."

**

"Gue sebenarnya males banget, Vel, ikut-ikut kayak beginian," ujar Fanya sambil meratakan bedaknya dengan brush.

Vella tersenyum, "gue juga males, Nya. Tapi, ya mau gimana lagi? Namanya juga maba. Ikutin aja apa kata senior."

"Iya, sih," Fanya menghela napas. "Tapi, ribet aja gitu sampe tiga kali ospek."

Vella mengernyitkan dahinya, "tiga kali gimana maksud lo?"

"Ospek universitas, ospek fakultas, sama ospek jurusan. Ospek univ kan, yang bulan lalu tuh, sebelum kita aktif kuliah. Sekarang ospek fakultas. Nanti abis ospek fakultas katanya ada ospek jurusan lagi."

Penjelasan Fanya berhasil membuat Vella terdiam tidak percaya, "udah gila anjir, banyak banget."

"Ya gitu, deh," ujar Fanya sambil merapikan rambutnya. Lalu, ia terkejut ketika melihat jam tangannya. "Vel, ayo, delapan menit lagi. Gue males deh, kalo telat nanti senior pada makin rese."

Vella menyilangkan kedua kakinya, "aduh, gue tiba-tiba pengen pipis, lagi, Nya. Lo duluan aja, deh."

Fanya memutar bola matanya, "kenapa lo nggak pipis dari tadi aja, Vella?"

"Baru kepengen sekarang," jawab Vella sambil berjalan masuk ke salah satu bilik toilet.

Fanya merapikan tasnya dan bergegas keluar toilet, "yaudah, gue duluan ya, Vel. Lo jangan lama-lama nanti telat."

"Iya, duluan aja," jawab Vella.

**

"Ri, Yan, ayo ke audit!" ujar Zaldy dengan semangat, mengajak kedua temannya yang masih asik mabar.

UntitledWhere stories live. Discover now