Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Beomgyu itu piawai dalam berbagai hal, terutama dalam menyimpan rasa sakit dan kesedihan. Dia hanya akan selalu tersenyum diantara yang lainnya, setiap saat selalu seperti itu.
Beomgyu itu tampan, tapi dia dibenci karena dia sedikit berbeda. Dia ditinggalkan oleh mereka yang seharusnya memberikannya kasih, tapi tidak apa, sebab kalau tidak begitu aku mungkin tidak akan bertemu dengannya disini.
Beomgyu itu suka soda dan kukis coklat. Kadang kala kalau aku keluar untuk membeli beberapa keperluan rumah sakit, aku selalu membelikannya soda dan kukis coklat. Dan, saat aku memberikan padanya hal yang disukanya itu, dia akan sangat senang hingga memelukku erat sembari tersenyum lebar.
"Terima kasih, Kyo!" Ujarnya gembira.
Beomgyu itu istimewa, setidaknya untukku. Sangat-sangat istimewa hingga aku sangat ingin dia bersamaku setiap saat.
Setiap kali aku melihatnya, yang kuinginkan adalah dia bersamaku dan aku akan merawatnya. Aku akan senantiasa membuatkan kukis coklat serta menyisir rambut hitamnya.
Aku akan bermain bersamanya setiap waktu, menyuapinya makan, memandikannya, memakaikan bajunya atau melakukan semua hal yang biasanya kami lakukan bersama.
Beomgyu anak yang senantiasa bangun pagi, seperti pagi ini aku sudah menemukannya terbangun dan duduk menggambar di tempat tidurnya.
"Bagaimana tidurmu, Beomgyu? Apakah kau tidur nenyak?" Tanyaku, aku menaruh sarapan di meja dekat jendela kamarnya.
"Kyo..Kyo..tadi aku bermimpi kau bersamaku menaiki perahu kecil di danau, lalu kau ketakutan karena perahunya goyang-goyang seperti angsa."
Aku tersenyum, dia tidak begitu mahir bercerita tapi aku selalu mendengarkanya.
"Beomgyu, ini gambar apa?" Tanyaku saat tidak sengaja melihat gambaran tangan layaknnya anak umur 9 tahun.
"Itu gambar Mama sama Papa, Kyo! Beomgyu merindukan mama sama papa!" Ujarnya antusias.
Aku tersenyum, tapi jauh didalam diriku ada perasaan meringis dan sedih. Seandainya kau tahu mereka telah meninggalkanmu, aku tidak yakin duniamu masih akan sama.
Beomgyu, biar kau dan aku terus bersama seperti ini, aku tidak peduli bahwa kau seperti anak kecil yang bahkan tidak tahu cara membaca dan makan dengan benar.
Kesedihanmu adalah luka, senyumanmu adalah topeng, dan kecacatan dalam otakmu adalah anugrah paling berat. Maka biar aku yang merawatmu, menggantikan mereka yang meninggalkanmu di rumah sakit jiwa ini.
Oh iya, Beomgyu sudah berumur 20 tahun, kami seumur. Hanya saja Beomgyu bertingkah seperti anak kecil sebab jaringan otaknya tidak sempurna. IQ-nya setara anak kecil umur 8 tahun.
Beomgyu, kau tidak cacat, kau hanya sedikit berbeda, kau unik. Ayo kita ke suatu tempat, dimana aku akan menjadi orang yang paling mencintai serta menjagamu dan kau akan menjadi Beomgyu yang kembali mengenal dunia.
"Beomgyu, suka tidak sama Kyo?"
"Sangat suka, ayo kita menikah Kyo-ah, karena Beomgyu sangat suka Kyo-ah!"
Aku tersenyum senang, setidaknya perasaanku terbalas, "Ayo, mari kita pergi!"
Lalu setelahnya aku mengemas semua pakaiannya dan meraih tangannya untuk pergi. Kami berdua bercanda riang selama di mobil, Beomgyu tersenyum cerah saat kembali bisa melihat hal lain selain pemandangan dari jendela rumah sakit yang biasa dia lihat.
Kami akan pergi, ke tempat dimana mereka yang kami kenal tidak akan tahu keberadaan kami.
Dia yang ditinggalkan akan ku jaga sepenuh hati. Dia yang ditinggalkan akan kembali hidup. Kalian pasti akan bertanya kenapa aku mau bersusah-susah mengurusnya yang bahkan membedakan gunting dengan pisau saja tidak mampu. Aku tidak tahu, aku hanya jatuh hati padanya.
. . . . .
"Mereka yang sangat dikasihi dan disayangi takkan mungkin ditinggalkan barang semenit, kalau kehilangan sedetik saja orang akan mencari-cari sampai ke lubang kelinci.
Maka mereka yang dibiarkan bahkan dilupakan, sudah pasti ditinggalkan, seakan sudah mati atau tidak pernah hadir di bumi."