Jangan lupa kasih bintang ya guys!
Dia selalu melakukan gerakan seperti saat tokoh kartun Naruto mengeluarkan jurus. Entah itu jurus seribu bayangan, ataupun jurus Rasenrenshuriken. Sebenarnya aku tak pernah nonton film kartun. Di sekolah, murid laki-laki selalu mengatakan demikian, tentang yang dilakukan Randa.
"Dia begitu sejak kelas X," jelas Rara. Murid kelas X A yang dulu sekelas dengan Randa.
Aku hanya mengangguk setuju.
"Jangan peduliin tingkahnya, Risa! Nanti kamu naksir cowok aneh itu." Gina menggodaku, lalu terkekeh.
Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan keanehannya. Aku hanya kasihan dengan Randa. Ia dijauhi teman-teman, karena dianggap aneh. Walaupun aku baru saja pernah satu kelas dengannya, tepatnya di kelas XII IPS G. Setiap naik kelas, murid selalu di acak. Agar tak ada yang berpikir tentang kelas "istimewa".
Ia kadang bertingkah seolah mengeluarkan tenaga dalam. Kata teman yang lain, itu efek dari kegiatannya di luar sekolah. Dia mengikuti semacam perkumpulan ilmu tenaga dalam. Entah benar atau tidak, aku tak terlalu peduli.
Yang menjadi perhatianku adalah ketika ia tampak santai saja saat ia tak dianggap ada. Misalkan saat seperti sekarang. Ketika teman-teman satu kelas berencana mengadakan nongkrong bareng malam mingguan, hanya ia seorang yang tak diberitahu. Lebih tepatnya, tak di ajak.
Siang itu, aku sengaja mengikutinya ke belakang sekolah. Rencananya, akan ku ajak dia ikut nongkrong bareng teman-teman.
Aku mengikutinya sembunyi-sembunyi saat jam istirahat. Sesampainya di belakang sekolah, Randa menghilang. Hanya ada pohon-pohon besar. Karena lokasi sekolah yang memang dulunya hutan belantara.
Keberanikan diri memasuki area pohon-pohon tua itu. Aku terkesiap saat melihat tubuh Randa terangkat, melayang-layang di udara.
Ketika Randa masih terbang layaknya burung, tanpa sengaja ia menatapku sedang memperhatikannya. Bersamaan dengan itu pula, sebuah kresek hitam menimpa wajahku dengan sangat keras. Aku hilang keseimbangan, terjatuh. Lalu, saat terbangun aku telah berada di ruang UKS.
"Kau tadi pingsan di depan ruang perpustakaan," kata Gina, ia juga petugas UKS. Mungkin ia tahu aku tengah kebingungan.
Tapi ... tunggu dulu. Perpustakaan berada di arah selatan, sedangkan belakang sekolah berada di utara. Aku masih ingat dengan jelas mengikuti Randa bukan ke perpustakaan.
"Siapa yang membawaku kesini?"
Gina mengacungkan empat jarinya sebelum menjawab.
"Kau lumayan berat. Aku, Rara, Desi, sama Icha. Kami berempat yang membopongmu kesini." Gina terkekeh.
"Randa?"
"Maksudnya?" Dahi Gina berkerut saat aku menanyakan tentang Randa.
Detik kemudian aku menyesal telah menanyakan murid misterius itu.
"Ehm ... maksudku, Rara."
"Oh, dia udah balik ke kelas." Sepertinya Gina tak mempedulikan pertanyaanku tentang Randa. Walaupun aku yakin, dia jelas mendengar saat aku menyebut nama Randa.
Benarkah aku pingsan di depan perpustakaan? Mungkinkah itu hanya mimpi, saat kulihat Randa sedang melayang?
***
Tiga hari setelah kejadian di belakang sekolah, aku tetap mengikuti Randa diam-diam. Namun, ia tak pernah lagi menuju belakang sekolah.
Ia hanya pergi ke perpustakaan, kemudian saat bell berbunyi maka, ia akan kembali lagi ke kelas. Di ruang perpustakaan pun, ia tetap dihindari. Bahkan oleh adik-adik kelas yang baru beberapa bulan masuk di sekolah ini. Apa hanya aku yang tak pernah mengetahui tentang Randa sebelumnya?
Rasa penasaran tentang Randa semakin menjadi-jadi. Kuputuskan mengikuti Randa sepulang sekolah. Kulihat sepeda yang ia kayuh berbelok ke arah penjual bakso yang ada di jalan Merpati.
Setelah memastikan uangku cukup untuk makan semangkuk bakso, aku mengikutinya masuk ke warung bakso pinggir jalan.
Randa tampak kaget saat melihatku juga mampir disana.
"Kamu ngikutin aku?" tudingnya. Walaupun Randa benar namun, aku tetap mengelak.
"Pede banget. Aku lapar dan ingin makan bakso." Aku sengaja duduk tepat di sampingnya, tetapi masih terbilang jauh.
Dua porsi bakso telah terhidang. Satu untukku, dan satunya untuk cowok yang duduk di sampingku sekitar satu meter.
Aku sengaja tak langsung makan, menunggu makanan agak dingin terlebih dahulu.
Aku jadi punya kesempatan, memperhatikan cara murid misterius ini makan. Tak ada yang beda. Seperti cara makan pada umumnya. Hanya saja, sedikit tergesa-gesa.
Setelah kurasa makanan sudah tak terlalu panas. Aku bersiap makan. Menuang kecap, saos, tak lupa sambal ke dalam mangkuk. Tepat sebelum makanan masuk ke mulutku, tiba-tiba Randa menggeser tempat duduknya ke arahku. Jarak kami menjadi sangat dekat.
Lelaki itu menahan tanganku. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Tolong habiskan makanannya, dan jangan pernah mengeluarkan ekspresi yang menunjukkan rasa baksonya tak sesuai dengan harapanmu!"
Setelah berkata demikian, ia kembali ke tempat duduknya semula.
Aku mengambil sedikit kuah bakso, untuk mencicipi. Benar saja yang di wanti-wanti Randa, rasa baksonya tak enak. Rasanya aneh. Walaupun demikian, aku tetap berusaha menghabiskannya. Namun, aku hanya mampu menghabiskan setengahnya. Sisanya kuminta abang penjual bakso untuk membungkusnya.
Setelah meninggalkan warung bakso. Kulihat Randa tengah berdiri ditepi jalan. Apa jangan-jangan ia menungguku?
Tangannya melambai ke arahku, mengisyaratkan ia sedang memanggilku.
Sepedaku berhenti tepatnya di belakang sepedanya parkir. Randa segera menghampiriku.
"Jangan cerita ke orang-orang tentang rasa baksonya!"
Aku tak menjawab. Tak juga mengangguk. Namun, cowok bertubuh jangkung itu berlalu begitu saja. Tanpa hendak tahu pendapatku.
Kini aku mengerti mengapa teman-teman menjauhinya. Dia bukan saja aneh, tapi menyebalkan.
***
Sekitar satu bulan, aku mengabaikannya. Tak peduli dan bodo amat tentang siswa yang duduk di paling pojok serta misterius itu.
Namun, semua pandanganku tentang Randa berubah.
Hari itu, aku dan keluargaku piknik ke wisata air panas yang ada di luar kota. Kami beruntung, saat itu posisi air sedang pasang. Bisa untuk berenang. Karena dilain waktu, sewaktu air sedang surut, pengunjung hanya bisa merendam kaki.
Aku bercebur ke sungai yang dikatakan orang-orang "panas" itu. Sebenarnya bukan panas, hanya hangat saja. Sedangkan ibu dan ayahku masih asyik duduk ditepi sungai.
Ketika berada di tengah sungai, kurasakan ada sesuatu yang menyedotku ke dalam sungai. Rasanya tubuhku seperti di sedot vakum cleaner berkekuatan besar. Susah payah aku berusaha melawannya, agar tubuhku tak tenggelam. Namun, kekuatan itu semakin menelanku. Hingga seluruh tubuhku masuk ke dalam sungai.
Tanganku mencoba meraih apa saja, agar bisa tetap bertahan. Sampai akhirnya, aku bisa menggapai tangan seseorang. Tangan itu lalu menarikku keluar sungai. Akan tetapi, kekuatan itu masih mencoba menarikku juga.
Rasanya separuh badanku telah masuk ke dimensi lain, melalui lubang hitam yang ada di dasar air.
Keberuntungan masih berpihak padaku. Tangan itu berhasil menarikku hingga aku bisa mencapai bibir sungai.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya seseorang itu dengan napas tersengal-sengal.
Aku mengangkat kepala, saat mendengar suaranya. Sangat familiar. Rasa tak percaya memenuhi kepala saat memastikan memang benar suara seseorang yang familiar itu. Ya, dia adalah Randa.
Mengapa Randa bisa kebetulan ada disini dan menolongku? Apakah dia mengikutiku? Siapakah dia sebenarnya?
YOU ARE READING
Tabir Rahasia Randa
Randomsaat duduk di bangku kelas XII SMA, aku bertemu dengan siswa misterius. semisterius apakah dia? ikuti kisahnya!
