The Plan

21 0 0
                                        

Maaf baru sempat update ><

Lanjut ya, here we go~

“Lo suka sama Lintang?” tanya Indra hati-hati.

Deg Deg

Gadis itu hanya berdiam. Menatap kosong hal-hal disekitarnya. Bukan salah tingkah. Hanya saja—dia bingung. Karena memang, seumur-umur Audrey tidak pernah merasakan jatuh cinta. Bagaimana menjelaskan apa itu cinta? Audrey tidak tau.

Indra yang menunggu jawaban Audrey akhirnya bingung karena Audrey tak kunjunng menjawab pertanyaannya.

“Drey?” panggil Inda kalau memastikan Audrey baik-baik saja.

“Hah?  Nggaklah, Ndra! Yang bener aja,” jawab Audrey dengan tatapan bingung. “Lagian Lintang selama ini cuma gue anggap sahabat yang sama pentingnya kayak lo dan Vera. Kalian itu berharga. Kebahagiaan kalian itu kebahagiaan gue juga.

 Makanya kalau itu emang bikin dia jadi bahagia, gue pasti jadi orang yang paling seneng diantara orang-orang yang lain. Iyakan?”

Indra kembali menatap Audrey dalam-dalam. Dan membalas jawaban Audrey dengan senyum. Dia mengerti sekali sahabatnya satu ini selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan tanpa diolah dahulu. Lucu sih, kesannya seperti orang yang kelewat polos.

“Yaudah, yaudah gue paham,” jawab Indra. “Lagian, Drey. Cinta itu datang dengan sendirinya. Entah kita mau atau nggak walaupun kita udah bilang pada diri kita kalau kita nggak boleh punya perasaan seperti ini dia akan tetap ngalir. Nggak peduli udah berapa kali menghantam batu karang sekalipun dia bakal terus-terus ada.

Kalau lo pingin tau cinta itu apa, gue nggak bisa deskripsiin lebih lanjut lagi. Manusia itu punya satu titik kelemahan yang nggak bisa ditutupin. Apa? Perasaan dia sendiri. Bahkan manusia itu sendiri nggak bisa deskripsiin perasaan dia sendiri. Hanya sebatas senang, sedih. That’s all. Dan cinta itu terkadang bisa bikin manusia kehilangan akal sehatnya dan membuat manusia itu menjadi orang yang  paling bodoh.”

Audrey mendengarkan Indra dengan seksama. Mencoba mencerna apa yang dikatakan olehnya. Apa itu perasaan yang tidak pernah menghampiri dirinya selama ini. Apa mungkin ia pernah tapi tak sadar?

“Gue selalu berpikir, Ndra. Kenapa Vera selalu bahagia dengan Marvin. Gue juga pingin. Asyiknya mempunyai perasaan kayak gitu. Kenapa gue nggak pernah punya perasaan seperti itu gue selalu berpikir. Dan.. gue nggak kunjung dapet jawabannya,” terang Audrey.

Indra tersenyum. Menikmati kepolosan sahabatnya satu itu. “Lo nggak perlu memaksa diri lo untuk mengerti. Lo akan mengerti nantinya. Aku yakin, Drey.”

“Thanks Dra. Untuk selalu disini saat gue butuh—nggak pun lo selalu ada,” balas Audrey sambil tersenyum.

“Sure,” balas Indra. “Gimana kalo 1 ronde?” tawar Indra sambil memainkan bola basketnya.

“Yuk”

*****                                              

“Buseet mandi dimana lo Drey?” tanya seseorang sesaat setelah aku duduk di singgah sanaku.”

“Mandi apanya? Keringet ini Veraku sayaangg, ih sebel deh,” kataku gemas sambil mencubit pipi Vera. Dia mengerang kesakitan. Lalu balas memukul tanganku.

“Eh, Drey semalem lo belajar Sosiologi nggak?” tanya Vera dengan tatapan berharap.

“Nggak Ver. Kenapa?” jawabku jujur.

“Yes! Bagus kalau gitu,” jawab Vera dengan ekspresi kemenangan. “Nggak apa-apa kok Drey.”

Aku mulai mengernyitkan alis. Ada apa dengan sahabatku ini tiba-tiba bertanya tentang pelajaran? Padahal biasanya dia paaaaling malas kalau diajak bicara tentang itu. Ah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 14, 2014 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

It's  Love!Where stories live. Discover now