Ada satu bahkan lebih hal yang tidak pernah manusia suka. Mungkin, salah satunya adalah menerima. Menerima bahwa dia sejujurnya hanya bagian paling kecil dibanding dengan makhluk di seluruh alam raya. Mungkin, salah satunya adalah menerima bahwa ia tidak selalu harus diliput cahaya, bahwa jika dibanding dengan berjuta-juta bintang, planet, galaksi, dan makhluk lainnya yang tetap bertahan pada edarnya ia sejujurnya bukan apa-apa.
Ada sesuatu bernama serakah dalam penciptaan manusia. Ingin kaya, cinta, bahagia, sempurna dan surga. Tetapi juga, Ada sesuatu bernama tergesa-gesa dan tak percaya yang membuat mereka pada akhirnya tidak bisa untuk tetap sendiri, tetapi tidak bisa selalu bersama juga.
Ada yang ditarik dan diundur. Ada yang diinjak dan diterbangkan. Ada yang dipercaya dan dipecahkan percayanya.
____________w____________
"Mang Udin. Hari ini Aca sekolah. Jadi, jangan sampai telat jemputnya yah."
Dibalik sambungan sana, suara lelaki paruh baya mengalun dengan terus mengulang kata 'Iya neng', sedang si empu yang dituju masih bergelut dengan tempat tidurnya. Lagi, perasaan cemas, khawatir, malas, dan ingin melarikan diri dari rutinitas yang selalu ingin ia hindari ini memeluk kedamaiannya.
Entah kenapa si penyuka hitam itu tidak menginginkan lagi adanya interaksi dari manusia ke manusia lainnya di dalam hidup yang tengah ia rakit sekarang.
Bahkan jika bisa, ia hanya berharap, ia ingin selalu ada pada zonanya. Sendirian, dengan pola-pola di kepala, dengan pikirannya, agar damailah hidup yang tidak akan ia dengar kata tolakan dan protes di dalamnya.
Semesta, kalau ada yang bisa gadis itu tukar di dunia yang luas ini, Maka jawabnya adalah tidak terlibat dalam semua jenis sosialisasi dan peran-peran yang harus membuat Aca memalsukan diri.
Terkekeh sendiri menertawakan kebodohannya, Aca bangun susah payah sambil mengucak mata. Langit masih gelap, jam masih menunjukkan pukul lima pagi, tapi ia sengaja memberi tahu mang Udin lebih dulu agar segala rentet tragedi klise yang menimpa hidupnya, di tahun ajaran baru, tidak terulang lagi.
Yah,
Aca benci mengulang kesalahan yang sama. Benci harus mengucapkan 'maaf' pada salah yang semakin membuatnya merasa bukan apa-apa.
Sambungan dimatikan, ia mengikat rambut kemudian berkaca. "Hari ini, lo gak boleh telat."
Salam kenal semua, namanya, Sekar Dasya Lestari. Perempuan yang tak suka semesta dengan segala jenis kebohongannya.
Bagi Dasya, satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan dirinya adalah menjadi seseorang yang tidak pernah mengasikan bagi siapapun. satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya dari luka-luka yang sengaja ditoreh manusia disekitar dirinya atau tidak adalah menjadi sesuatu yang ada tapi tak bernilai bagi siapa-siapa.
Memutar bola mata malas, netranya melulu menatap mading sekolah yang sudah ramai di penuhi manusia-manusia asing yang katanya seangkatan dengan Aca. Yah, sebab gadis itu tidak pernah memiliki sedikitpun minat untuk berteman dan mengakui pertemanan dengan mereka semua.
Dan jika saja kau bisa melihat situasi yang terjadi saat ini, Dasya adalah satu-satunya manusia yang membatu ditempat. Tanpa sua. Tanpa tawa. Tanpa bahagia. Tanpa bangga. Tanpa mencela atau mendorong ingin melihat namanya terletak pada kelas yang mana.
"Anjing! Gua sekelas lagi sama lo Gat!"
Pemuda yang berdiri di samping kanan Aca menaikan suaranya setelah beberapa saat tadi menengok lembar berisi pembagian kelas di papan Mading. Sambil terus terbahak pria itu berusaha tos brother dengan pria asing di samping kiri Dasya yang disinyalir adalah teman karibnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PASIFIK (On Going)
RomansaKenapa kita nggak jadi teman aja?" "Gue nggak temenan sama orang baik." "Gue baik?" "Lo baik selama lo nggak temenan sama gue." Aca adalah manusia yang tidak memiliki harapan dan sudah membuang semua rasa percayanya pada manusia. Sedang Agat, pemuda...
