the World we Saw

1.4K 139 22
                                        

Published: May, 10. 2020

Fanfiksi "the World we Saw" ditulis oleh qlotresna dan penulis tidak mengambil keuntungan apapun.

Dilarang untuk plagiat ataupun memperbanyak cerita ini. Ide murni dari penulis. Kesamaan alur adalah ketidaksengajaan dan segala yang ada dalam fanfiksi ini hanyalah fiktif, tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di dunia nyata (kecuali aku beri keterangan) dan mohon jadilah pembaca yang bijak.

Jika pembaca sekalian mendapati fanfiksi ini di luar platform Wattpad, atau mendapati seseorang yang plagiasi cerita ini, let me know. Tolong langsung ke DM aku, wall, atau ke Twitter. Aku akan sangat berterimakasih.

Semua credit gambar yang digunakan adalah "copyright/royalty free" milik website Pixabay, Pexels, dan Unsplash.

"the World we Saw" merupakan kumpulan oneshot/stand alone yang setiap chapter langsung tamat, tapi chapter selanjutnya masih ditulis dengan latar dunia yang sama.

Musik untuk chapter ini;

🔊 Ed Carlsen ⸺ Grey.

How many loved your moments of glad grace,And loved your beauty with love false or true,But one man loved the pilgrim soul in you,And loved the sorrows of your changing face

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

How many loved your moments of glad grace,
And loved your beauty with love false or true,
But one man loved the pilgrim soul in you,
And loved the sorrows of your changing face.

⸺"When You Are Old"⸺
by William Butler Yeats
The Collected Poems of W. B. Yeats (1989)

.

.

.

⸺▪●●▪⸺

Di suatu malam, Chan bermimpi.

Kenangannya berputar 10 tahun lalu, saat ia berusia 13, dan masih menjadi anak belia yang pesakitan. Ketika bocah seusianya bisa bermain di taman, ia hanya bisa mendekam di kamar. Batas teritorinya hanya sebatas halaman depan. Obat-obat, buku gambar, hanya itulah kedua benda yang sering ia pegang.

Dalam vonis dokter, Chan tidak akan berusia panjang. Alih-alih menangis tersedu-sedu seperti kedua orangtuanya, anak itu menjadi semakin ceria dan lepas bebas melakukan semuanya. Kenapa? Toh hidup cuma sekali saja. Harus ia nikmati selagi bisa!

Maka dimulailah petualangan kecilnya. Ia mulai bersepeda setiap pagi dan berkeliling kompleks perumahan hanya untuk menebar senyum bahagia. Ia mulai suka pergi ke danau dan senang sekali walau harus dikejar angsa. Buku catatan kecil yang selalu ia bawa mulai berisi lirik lagu, puisi, dan pengamatannya terhadap dunia.

the World we Saw [BangInho] BxBStories to obsess over. Discover now