Kapten Gita

3 0 0
                                        

Dunia kita terpisah atas dua bagian yang berbeda secara geografis, gunung tinggi dan lembah-lembah, tebing-tebing tinggi nan curam, hutan belantara yang lebat, serta laut yang luas dan pulau-pulau yang berada di permukaannya adalah karakteristik dari dunia bagian barat. Sedangkan untuk bagian timur hanyalah hamparan padang pasir tandus dan gersang yang luas seluas mata memandang.
Sejak seratus tahun terakhir suku-suku dan bangsa-bangsa yang berada di bagian barat telah melakukan penjelajahan ke dunia bagian timur yang gersang dan tandus itu, sudah generasi ke sepuluh sampai saat ini yang di utus untuk penjelajahan, dan sampai saat ini juga mereka tidak pernah kembali. Sepuluh tahun yang lalu para pemimpin dari setiap suku dan bangsa yang menempati dunia bagian barat mengadakan pertemuan di Kepulauan Mahoro, tempat aku di lahirkan, untuk mengutus salah seorang dari mereka yang akan kembali melakukan penjelajahan demi mengungkap misteri dari dunia bagian timur.
Karena penjelajahan akan melewati lautan maka salah seorang yang terpilih dari mereka adalah ayah ku, kami menyadari dan memahami bahwa perjalanan ini adalah sangat membanggakan untuk dirinya dan keluarga, perjalanan yang akan mengubah dirinya lebih dari sekedar sosok sang ayah menjadi seorang legenda dengan gelar kehormatan di depan namanya, kapten Gita. Kepergian sang kapten meninggalkan anak dan isteri adalah suatu kebanggaan untuk bangsa kami, sejak turun temurun hal ini sudah menjadi tradisi di tempat kami sebagai lelaki sejati yang rela berkorban meninggalkan rumah dan segala kemewahan yang ada demi menunaikan tugas sebagai orang penting dalam pelayaran. Semenjak ayah meninggalkan kita tatkala aku berumur tujuh tahun setiap hari aku menunggu kepulangannya di dermaga tempat ia melepaskan tali dan membentangkan layar lalu berlayar mengikuti arah angin, hingga tiba dimana aku mendengar kabar dari surat yang ditulis olehnya bahwa ia dan tim penjelajahan telah gugur di medan pertempuran melawan monster raksasa yang menyerang mereka di tengah gurun pasir yang tandus dan gersang, surat dari nya itu membawa informasi penting bagi para pemimpin dunia bagian barat bahwa dunia bagian timur hanyalah sebuah tempat untuk bunuh diri bagi mereka yang ingin pergi kesana. sejak saat itu aku tersadar bahwa ayah ku takkan pernah kembali lagi.

________________________________
Hari ini langit begitu cerah, para nelayan yang tadinya mengurungkan niat untuk pergi menangkap ikan karena badai semalam akhirnya bisa melaut pagi ini. Para pedagang juga bersiap untuk berangkat menjual barang dagangan mereka ke daratan. Sudah sepuluh hari berlalu sejak menerima surat dari ayah ku perlahan kesedihan yang mendalam ini menipis, itu semua karena dewan rakyat berjanji akan mengutus beberapa orang tangguh dan berani dari pulau ini untuk mencari informasi tentang kabar dan keberadaan ayah ku beserta beberapa orang yang lain dari tim nya. Pernyataan itulah yang membuat ku merasa punya harapan dan perlahan mengikis kesedihan ku.
Beberapa jam setelah keberangkatan para nelayan dan pedagang ikan tadi,
tiba-tiba seorang utusan dari dewan rakyat mendatangi rumah ku, ia mengatakan bahwa aku di panggil oleh dewan rakyat ke menara pusat. Tanpa pikir panjang aku menerima panggilan itu dan mendatangi tempat mereka. Di perjalanan menuju pintu masuk menara aku menanyakan perihal apa maksud aku dipanggil untuk menghadap dewan rakyat, utusan yang memanggil ku tadi menjawab kalau ia tidak tahu, ia hanya di perintahkan untuk memanggil ku saja. Sesampainya di ruangan, aku telah di tunggu oleh empat orang dewan rakyat yang terdiri dari, pemimpin pulau, kepala keamanan, dewan penata pulau, dan kepala akademi pelayaran. Mereka sedang membahas tentang rencana untuk melakukan perjalanan ke timur demi mencari informasi tentang ayah ku dan tim nya, tapi rencana itu akan dibatalkan karena tidak ada seorangpun yang ingin mengikuti perjalanan itu dikarenakan kabar yang dibawa ayah ku tentang dunia bagian timur adalah tempat untuk bunuh diri bagi mereka yang ingin pergi kesana, maka tak ada yang berani menginjakkan kaki apalagi melakukan perjalanan ke timur. Seketika aku merasa kecawa, sepuluh tahun yang lalu ayah ku ditunjuk sebagai utusan yang mewakili kerajaan laut selatan dan kepulauan Mahoro untuk ke timur demi penjelajahan, sekarang saat ayah ku mungkin masih mempunyai harapan bahwa ada orang dari bangsa nya yang akan menolong, tak ada satupun yang mau dan mampu untuk menolongnya.

"Baiklah jika tidak ada yang mau menolong ayah ku, biar aku saja yang menolongnya".
Ujar ku kepada para dewan rakyat.

Mereka terkejut dan langsung menolak permintaan ku ini, dengan alasan bahwa aku belum mempunyai pengalaman dalam menjelajah dan mengembara, aku juga belum punya pengetahuan yang cukup tentang kemaritiman, dan salah satu alasan mereka bahwa aku masih sangat muda dan belum matang untuk bepergian jauh.
Mereka berusaha semampunya untuk melakukan yang terbaik pada ayah ku, namu jika itu tidak berhasil, maka mereka akan memberhentikan penjelajahan ke dunia bagian timur selamanya.
Setelah mendengar penjelasan dan memberikan pendapat dari dan kepada dewan rakyat, aku melangkahkan kaki keluar menara pusat, sepanjang perjalanan pulang aku menahan segala kekecewaan yang menumpuk bersama dengan rasa bersalah karena tidak berdaya melawan keputusan yang dibuat oleh dewan rakyat. Tiba-tiba saja aku merindukan saat-saat dimana aku melepas kepergian ayah ku ketika melihat kearah dermaga di sebelah kiri ku, dermaga yang dulunya merupakan salah satu alasan mengapa ayah ku tidak akan pernah kembali. Sekedar untuk mengenang kembali cerita hidup yang lama ku duduk di ujung dermaga tempat ayah ku melabuhkan kapal nya, dari kejauhan tampak seseorang dengan berpakaian rapih datang menghampiri ku, ia adalah kepala akademi pelayaran.

"Pelaut yang tangguh selalu lahir dari badai dan gelombang, bukan terlahir dari laut yang tenang,"
Ujar pria berpakaian rapih itu.

Ia bertanya apakah boleh duduk disebelah ku, aku mengiyakan nya, ia berkata bahwa ia juga tidak setuju dengan keputusan dari dewan rakyat yang lain, tapi apa boleh buat ia kalah tanding suara melawan tiga orang dewan lainnya. Aku memaklumi kondisi tersebut, aku juga menghormati keputusan dari para dewan rakyat. Sebagai sahabat dekat ayahku, aku banyak bertanya  perihal ayah kepada nya, pasti ia mengetahui tentang kehidupan ayah ku dulu. Ia bercerita bahwa ayah ku adalah individu yang memiliki sikap kepribadian sebagai seorang pelaut, tangguh, mandiri, disiplin, berwawasan, dan tanggung jawab adalah cerminan dari diri nya, saat senja mulai memerah di batas cakrawala pertanda sore akan berganti malam, ia mengajak ku ke ruangan tempat ayah ku mengajar ilmu pelayaran di akademi pelayaran, aku mengikuti langkahnya memasuki setiap ruangan demi ruangan di gedung itu. Hingga tiba di sebuah ruangan tempat mereka membuat peta pelayaran maupun peta daratan. Ia mengatakan bahwa suatu hari nanti ada seseorang yang akan mengungkap misteri dari dunia bagian timur yang belum pernah diketahui oleh siapapun,

"Dan orang itu adalah kamu"
Ujar nya sambil menunjuk ke arah ku.

Aku terkejut mendengar perkataan nya, dari mana ia tahu akan hal itu, apakah ia adalah seorang peramal, setahu ku tidak. Ia bercerita bahwa sebelum ayah ku berangkat ayah ku memberikan sebuah gulungan dan kompas yang ternyata gulungan itu adalah peta daratan. Ayah ku berpesan jika suatu saat nanti ia dan timnya tidak bisa kembali agar memberikan peta yang dibuatnya dan kompas itu kepada seseorang yang ingin menolong dan mencari keberadaan mereka di dunia bagian timur.

"Ku serahkan peta dan kompas itu kepada mu, dan pergilah cari ayah mu dan timnya, jika mereka masih hidup, bawa mereka kembali"
Ujarnya sambil memberikan peta dan kompas itu kepada ku.

"Diperjalanan nanti kamu pasti akan menemukan teman yang mempunyai tujuan yang sama dengan mu, karena perjalanan melewati daratan bukan lautan, berhati-hati lah"
Sambungnya sambil menatap ku.

Ia juga memberikan aku pedang, dan sedikit bekal informasi tentang suku suku dan bangsa bangsa yang menempati daratan untuk keberangkatan ku malam ini juga.
Setelah sekian lama mencari informasi terkait suku-suku dan bangsa-bangsa yang menempati daratan, akhirnya aku menemukan jalan untuk mencapai tempat-tempat itu. Peta dan kompas yang ku dapatkan dari kepala  akademi pelayaran adalah sebagai pemandu dalam perjalanan ku nanti. Perahu layar berukuran dua orang yang biasa menjadi akses kendaraan yang ku pakai juga sudah siap digunakan, tengah malam nanti akan ada yang meninggalkan pulau secara diam-diam. Segala persiapan untuk menghadapi proses yang panjang sebagai seorang pengembara telah ku persiapkan dengan matang, jika arah angin sedang baik atau konstelasi benda-benda langit sedang menguntungkan, aku akan tiba di pantai Selatan besok siang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Betto : Penaklukan Dunia TimurStories to obsess over. Discover now