"Hallo"
"Kamu dimana?"
"Kenapa?"
"Aku kangen"
Caera mengerutkan dahinya sambil memeriksa kembali nama kontak diponselnya. Adalah Andrian, seseorang yang pernah ada di masa lalu tiba-tiba datang setelah sekian lama tidak bertukar kabar.
"Hah?"
"Kamu apa kabar, Ca?"
"Aku baik, kamu?"
"Syukurlah, aku juga baik.. hanya sedang sedikit merindukanmu, Ca"
Jantung Caera berdetak tidak beraturan mendengar apa yang baru sama Andrian katakan. Lalu otaknya mengulang-ulang memori yang telah berlalu, benarkah? Karena Caera sangat ingat bagaimana akhirnya mereka berpisah dahulu.
"Hahaha, masih doyan gombal yaa anak Ibu?" Jawab Caera berusaha menekan perasaannya.
"Hahaha, aku serius Ca..."
"Jadi, apa yang bikin seorang Andrian tiba-tiba menghubungiku setelah sekian lama hilang?"
"Aku nemuin foto kita dulu Ca, di tas gitar lamaku"
"Wow, ternyata gitar bulukmu masih ada.. aku kira udah kamu buang"
"Ga mungkin aku jual Ca, ada nama kamu disana"
Hening.
Caera ingat betul bagaimana Andrian berusaha sangat keras untuk mengukirkan namanya pada gitar kesayangan Andrian. Gitar yang selalu menemani hari-hari yang Caera dan Andrian lalui bersama. Gitar yang selalu mengulang lagu yang sama untuk kebersamaan mereka saat itu.
"Ca... Hallo?"
"Ah iya?"
"Kamu udah pulang?"
"Belum"
"Kamu dimana sekarang?"
"Singapura"
"Lho? Kapan kamu pulang ke Bandung?"
"Belum tau, tapi bulan ini aku ke Indonesia"
"Jakarta?"
"Iya, wisudaku akhir bulan ini"
"Kabari aku yaa Ca, please?"
"Oke"
"Miss you so much, Caera"
Setelah sambungan telepon itu terputus, Caera kembali lagi termenung. Apa arti dari kata rindu yang tadi Andrian berikan untuknya? Caera sangat ingat bagaimana dulu kebersamaannya dengan Andrian berakhir tanpa kata. Bubar jalan begitu saja. Dan kembali lagi bertemu, seolah tak ada yang pernah terjadi apapun diantara mereka. Sesak? Tentu saja. Karena Caera hampir saja menaruh harapan dan hidupnya pada Andrian berharap Andrian melakukan hal yang sama untuknya.
YOU ARE READING
Andrian Priadji
RomanceSeberapa jauh kamu bersedia bertahan di zona abu-abu, ketika sesosok orang merasa cukup menjadikanmu tempat pulang tanpa pernah memberimu kepastian? Di sebuah sudut Gejayan, dua lantai kos yang bersisian menyimpan deretan rahasia: obrolan di rooftop...
