Saat dalam pertarungan
“Anak ini begitu kuat,”gumam seorang pria berotot dengan palu besarnya yang sedikit pecah.“Siapa kau hai anak muda sampai bisa menahan gempuran paluku?” Tanya Sang Penghancur.
“Kau tanya siapa aku? Aku...”
25 tahun yang lalu...
“Pak Putra, Ibu mengalami kontraksi.” kata salah seorang sopir yang dipercayai oleh Pak Putra.
“Langsung larikan saja ke rumah sakit dengan peralatan terlengkap. Pastikan dia terawat dengan baik.” ucap Pak Putra dengan nada serius dan bercampur nafas tergesa-gesa seperti bergegas ingin pergi.
“Baik, Pak.” jawab sopir Pak Putra yang bernama Agus, pemuda berumur sekitar dua puluh tahun.
“Jangan lupa sampaikan, aku akan segera pulang dari Berlin.” pesan Pak Putra sambil memastikan tiket pesawatnya.
“Iya Pak akan saya sampaikan.” respon Agus yang juga mempersiapkan mobil untuk Bu Vani, istri Pak Putra.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit JHC (Jakarta Healt Center), terjadi hujan lebat yang disertai petir. Angin bertiup dengan kencang. Saking kuatnya, banyak asbes berterbangan. Tetapi Bu Vani aman karena mobilnya dilapisi kaca anti peluru dan kedap suara serta memiliki pengurai petir di bagian antenanya yang akan menguraikan elektron jika petir menyambar. Sebuah program Alpha buatan Pak Putra.
“Pak, bisa lebih cepat lagi. Sepertinya anak-anak sudah mau keluar.”kata Bu Vani lirih. Sebagai ibu yang meringis kesakitan. Dan berusaha bertahan dari perjuangan yang telah dimulai sembilan bulan.
“Baik bu, saya usahakan.” tak ada jawaban yang terpikirkan oleh Mas Agus. Tetapi ia juga berusaha menguatkan Bu Vani.
"Bu, kuatkan hati. Karena jika hati kuat, tubuh juga kuat." Dalam hatinya Mas Agus berbicara "untung aku inget iklan ramadhan. Meski dirubah dikitlah."
Mas Agus juga ingat pesan Pak Putra untuk disampaikan kepada Bu Vani.
"Bu, tadi saya telepon Bapak untuk memberi kabar kalau Bu Vani akan melahirkan. Lalu Pak Putra memberi saya pesan kalau Pak Putra akan pulang."
"Wah, benar? Biasanya Papa kalau sibuk dihubungi susah." Bu Vani keheranan karena Pak Putra dapat pulang tepat pada harinya. "Atau mungkin waktu gak sibuk yaa mas?"
"Nggak mungkin seorang Ayah tidak ingin melihat anaknya sekalipun karena pekerjaan. Benar bukan?"Mas Agus menguatkan Bu Vani.
Mereka melaju dengan cepat dan lebih memilih lewat jalan tol. Mas Agus, sopir Pak Putra mengaktifkan mode anti goncangan untuk menjaga kenyamanan Bu Vani.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu 20 menit, Bu Vani sampai di Rumah sakit dan langsung di larikan ke IGD di kelas VIP dengan perawatan Premium.
Sementara itu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Tidak seperti biasanya, hujan dengan intensitas sebesar ini.” kata Pak Putra sambil menunggu kedatangan mobil Pak Putra yang berada Tangerang. Pak Putra mengecek jam tangannya. Dia menekan sebuah tombol. Muncul hologram yang berbentuk jalan di sekitarnya. Terdapat tanda merah yang menunjukkan lokasi mobilnya. Setelah Mobil Pak Putra datang beserta sopir virtualnya. Pak Putra langsung menaiki mobil buatannya sendiri.
“Selamat Sore Pak Putra.”
“Selamat Sore E.D.I, kita berangkat sesuai system. Cari jalan tercepat. Pastikan Aku melihat kelahiran anak-anakku.” Perintah pak Putra pada A.I nya
“Baik Pak. Saya pastikan kita sampai tujuan dengan selamat. Selamat menikmati.”
STAI LEGGENDO
Capung Mega: Bayu and Family
FantascienzaSetiap Ksatriya pasti punya cerita. Mereka juga pernah kecil dan tumbuh remaja. Bagaimana kehidupan Bayu bersama keluarganya serta teman-temannya sebelum menjadi seorang Ksatria? Disini kalian bisa belajar apa arti hidup. Perpaduan antara realita s...
