Aku melihat jam diponselku. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05. Aku melihat kekiri dan kekanan menanti kedatangan temanku, Wira. Matahari masih menampakkan ekornya di bagian barat sana. Aku yang sudah lemas sedari tadi menunggu, mencoba untuk bertanya keberadaannya melalui aplikasi Whatsapp. Selang beberapa menit dari aku mengirim chat kepadanya, dia tiba-tiba meneleponku.
"Assalamu'alaikum, Wir. Kamu udah sampai? Aku nunggu dekat yang banyak becaknya ya." ujarku saat menjawab panggilannya.
"Oke, Han. Bentar, aku cari dulu. Oh yang pakai baju warna oren itu ya?" tanyanya dari sebrang telpon. Aku melambaikan tanganku saat ia mengkonfirmasi bahwa aku menggunakan baju warna oranye. Dia langsung menutup telponnya dan mendekatkan motornya denganku. Aku naik ke atas motornya dan kami siap untuk melaju menuju Living World yang ada di kotaku.
Sepanjang jalan kami bercerita banyak hal. Mulai dari kehidupan kampus, percintaan, hingga mengenang masa lalu. Aku dan Wira merupakan teman dekat semasa SMA. Kami duduk sebangku di bagian depan dari kelas X hingga kelas XII. Wira anaknya baik banget, dia juga murah senyum dan ketawanya sangat lucu. Tidak ada orang-orang yang tidak suka dengan Wira. Aku hanya dekat dengannya saat SMA dulu.
Lima belas menit kemudian, kami sudah sampai di parkiran Living World. Aku dan Wira mulai berjalan ke arah pintu masuk. Baru kali ini aku menginjakkan kakiku ke mall yang baru buka ini karena sebelumnya aku masih berada di Bandung. Kami bingung harus berjalan ke arah mana. Alhasil, selagi menunggu balasan dari teman kami, Saipul akhirnya kami berkeliling di sekitar mall tersebut. Kami mulai masuk ke Ace untuk melihat barang-barang perabotan. Banyak barang-barang lucu yang terpampang disana. Tempat tidur yang sudah satu set dengan lemari mampu menyita perhatian kami. Saat itu, hpku berdering tanda ada chat masuk. Aku melihat chat tersebut dan membalasnya kilat.
"Wir, kata Saipul dia udah disini. Dia nunggu di depan Cabe Merah." ujarku kepada Wira. Kami bergegas turun ke lantai bawah untuk menemui Saipul. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku tidak tau bagaimana reaksiku saat melihatnya nanti.
Wira melihat keberadaan Saipul dan melambaikan tangannya sambil memanggil namanya. "Oy, Saipul." ucapnya agak keras. Untung saja suasana sedang ramai, kalau tidak, kami pasti sudah dilihat oleh orang-orang. Saipul tersenyum melihat kami.
"Hei, Pul! Apa kabar?" tanyaku mencoba basa-basi. Dia membalas sapaanku kemudian berkutat dengan Hpnya. Dia sedang mencoba untuk menghubungi dua orang teman kami yang lain. Sesekali dia mengobrol dengan Wira. Aku hanya diam saja mencoba membantu menghubungi teman kami. Aku tidak pandai untuk berbasa-basi dengan orang yang tidak terlalu kukenal walau kami sudah sekelas selama dua tahun. Selagi menunggu dua orang lagi datang, kami mencari-cari tempat makan yang masih kosong. Semua tempat makan sudah penuh dipesan terutama di bulan puasa seperti saat ini. Lima menit kemudian, Andra datang dan kami langsung berdiskusi mencari tempat makan yang masih kosong. Akhirnya kami makan di Peterseli dan mengambil tempat duduk di dekat pintu keluar. Kami lantas memesan makanan sebelum adzan berkumandang.
Beberapa menit kemudian, Rayhan datang dengan nafas ngos-ngosan. Aku dan teman yang lain hanya melihatnya dengan tatapan datar.
"Parah, rumah dia yang paling dekat malah dia yang telat." ujar Saipul.
Wira mengiyakan karena sebenarnya rumah kamilah yang paling jauh di antara mereka semua. Rayhan cuma ketawa kecil. Kami segera memanggil pelayan untuk menuliskan pesanan kami. Saipul mengajak ngobrol Rayhan dan Andra. Aku dan Wira hanya saling bercerita tentang sesama wanita. Terkadang mereka mengajak kami ngobrol juga, menanyai kegiatan kami saat ini. Aku dan Wira masih sama-sama kuliah profesi, sedangkan Rayhan dan Saipul sudah bekerja begitu pula dengan Andra walau dia belum menyelesaikan skripsinya. Mereka bertiga sudah memiliki penghasilan sedangkan kami berdua belum. Mereka bercerita tentang pekerjaan mereka, sedangkan kami hanya tersenyum getir karena mengetahui fakta bahwa kami masih harus menghadapi ujian yang ada di depan mata.
"We lihat mata Rayhan, habis begadang main game dia ni." Ujar Saipul tiba-tiba.
Aku memerhatikan wajah Rayhan dengan seksama. Saat itu mata kami bertemu. Bola matanya yang coklat berkilau indah. Aku langsung mengalihkan pandanganku darinya. Dia yang melihatku seperti itu langsung membuka suaranya.
"Hahaha iya. Tapi ngeri juga si Hani. Dia udah Legend aja." ujarnya.
Dia yang memiliki rank lebih tinggi dariku dalam game, masih berusaha untuk memujiku. Sopan santun kepada sesama teman. Aku mengerti itu. Dua temanku yang lain langsung bertanya kepadaku kalau mereka tidak salah dengar. Kami melanjutkan pembicaraan dan berganti topik dengan cepatnya.
"Han, kalau udah lulus nanti mau kerja dimana?" tanya Andra.
Aku bingung harus jawab apa karena aku masih belum ada keinginan mau kerja dimana. "Aku kayaknya bakal cari kerja di Bandung atau di Jakarta. Karena pabrik farmasi paling banyak disana." jawabku.
"Di Sumatera kan juga ada ga sih? Ada Dexa di Palembang dan Kimia Farma di Medan?" tanya Andra.
"Iya, mana tau dapat Kimia Farma di Medan kayak kakaknya Rayhan, langsung dapat managernya. Mana tau kau bisa dapat Bos Kimia Farma." Ujar Saipul menambahkan.
Aku hanya cengengesan mendengar ucapan Saipul. "Iya, Bos Kimia Farmanya si Rayhan." Lanjut Saipul lagi. Aku tidak tau apa maksud dari ucapan Saipul tapi aku hanya bisa cengengesan saat ini.
Saat para anak cowok sedang shalat, aku dan Wira mulai makan duluan karena kami sudah shalat terlebih dahulu. Aku melamun sambil memakan makanan yang kupesan. Aku jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Semua memori saat SMA berlalu lalang di pikiranku. Sangat mengganggu. Banyak memori manis dan pahit yang kurasakan dulu. Tapi, satu-satunya memori yang mampu membuat semua emosiku campur aduk dan naik turun bagai roller coaster hanya saat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta yang tidak pernah terbalas, lambat laun kian memudar. Hingga beberapa detik lalu aku menutup rapat kenangan itu, tapi dia mendobrak hatiku lagi. Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta padanya.
YOU ARE READING
Decade
RomanceSetiap orang memiliki cinta pertamanya masing-masing. Ada yang berbuah manis dan ada pula yang tidak. Hani adalah seorang cewek yang mengutamakan belajar. Kisah cinta pertamanya dimulai saat SMA, ketika ia kenal dengan cowok yang bernama Rayhan. Han...
