1

31 5 4
                                        

Hai-hai gue back bawa kelanjutan dari season 1 kemarin...

Semoga suka

**********************************************

Malam ini bertepatan dengan pergantian tahun dimana semua orang akan berbahagia menyambut malam yang hanya terjadi satu kali dalam setahun, terihat sesosok namja mungil berjalan menggandeng tangan putih dan mungil disisi kanannya sementara tangan kirinya membawa koper yang cukup berat jika kita melihatnya namun tidak bagi namja itu karena nyatanya sejak turun dari pesawat beberapa menit yang lalu senyumnya tak luntur sedikitpun dari bibir plumpnya.

"Eomma kita sudah sampai?" namja mungil yang dipanggil eomma itu hanya tersenyum sambil mengangguk, kedua manik doenya memandang jauh kedepan, ia sangat merindukan segala hal yang ada diNegara kelahirannya. Enam tahun sudah berlalu sejak saat itu dan kini ia memutuskan untuk kembali dan membawa permata hatinya bersamanya.

Jika boleh jujur ia sangat merindukan dia yang dulu selalu ada untuknya namun ia sadar diri siapa ia saat ini maka dari itu ia mencoba untuk mengubur dalam semua rasa yang semakin hari makin membuatnya gila hingga nekat pulang ketempat dimana ia dilahirkan.

Memasuki sebuah rumah yang cukup mewah yang dibelinya beberapa hari yang lalu sebelum ia terbang keKorea, meski tak terlalu besar namun cukup jika hanya ditempati oleh dirinya dan jungmin permata hatinyayang menjadi alasan kenapa namja manis itu sampai mau kembali ketempat ini, dimana semua kenangan indah dan buruk terjadi.

"Wah eomma ini indah sekali" ucap namja mungil itu saat sebuah pintu besar didepannya terbuka lebar dan menampilkan ruangan yang sangat indah dan begitu mengagumkan menurutnya.

Jungmin sangat mirip dengan appanya, ia suka semua pernak pernik tentang ironman makanya jimin namja mungil yang kini berstatus sebagai eomma dari namja mungil dan cerewet berusia 5 tahun bernama park jungmin itu sengaja mendekorasi kamar sang anak dengan tema karakter kesukaan sang anak dan tak lupa beberapa pernak pernik serba iron man dan beberapa teman-temannya.

Sudah 6 tahun jimin tinggal diTailand bersama dengan lisa dan juga kekasihnya yang kini sudah menjadi suami sah yeoja dengan segala sifat tomboinya itu. Jimin bahagia karena akhirnya dia bisa kembali ketempat ini namun tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa takut saat pertama kali ia menginjakkan kakinya ditempat ini, dimana seseorang yang berstatus sebagai appa jungmin berada.

***

Kini jungmin sudah menginjak usia 5 tahun dan ia selalu bertanya dimana appanya? Kenapa appanya tak pernah menemuinya? Apakah appanya tak menyayangi mereka hingga ia tak pernah sekalipun menjenguk mereka berdua? Setiap pertanyaan yang keluar dari bibir tipis jungmin selalu dijawab dengan senyuman oleh jimin karena memang hanya itu yang mampu ia berikan sebagai jawaban, jimin tak ingin jika jungmin sampai tahu kejadian yang sebenarnya dan jimin juga tidak mau berbohong kepada putra semata wayangnya jadi jimin fikir dengan senyum mampu menjawab semua pertanyaan sang anak yang entah kapan bisa ia jawab karena ia sendiri tak tahu apakah dia masih sama seperti dulu atau kini sudah benar-benar menjadi milik orang lain.

Berdiri dibalkon kamarnya sambil mengenggam erat cangkir warna putih awalnya semua terasa biasa namun saat ingatan yang begitu menyesakkan kembali berputar dikepalanya membuat genggaman pada cangkir tersebut menguat yang mana menyebabkan cangkir tersebut pecah dan membuat coklat panas yang tadi berada didalam cangkir kini tumpah dan mengenai tangan jimin. Jimin biasa melakukan hal itu saat dengan tiba-tiba semua kenangan tentang dirinya muncul kembali diotak jimin.

Ia benci segala tentang dirinya sendiri yang mana membuat orang yang sangat ia cintai terluka dan kini jungmin yang kehilangan sosok appa. Ia tak pernah menyalahkan siapapun karena semua berawal dari kebohongan yang ia buat jadi sudah pasti semua adalah salahya dan saat ini Tuhan tengah menghukumnya dengan segala perasaan bersalah yang bersarang dihatinya, perlahan namun pasti mulai menggerogoti hatinya lalu mati.

"Maafkan aku" hanya kata itu yang mampu ia ucapkan dan selalu ia ucapkan saat mengingat namja kelinci yang menjadi korban kebohongannya. Airmata kembali menetes entah sudah berapa ribu kali jimin menangis sambil terus meggumamkan kata maaf, jika saja saat itu jimin tidak sedang mengandung jungmin maka sudah dipastikan namja mungil itu akan mengakhiri hidupnya sendiri agar bisa terbebas dari rasa bersalah yang kian hari makin membunuhnya.

Game Of Destiny season 2Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora