Malam ini sangat indah. Banjiran liquid dari langit berjatuhan mengguyur bumi. Suara dan aromanya sangat menenangkan. Lelaki mungil bermata bulat itu menggulung dirinya pada hangatnya selimut tebal. Terduduk pada ranjang dekat jendela, membawa secangkir cokelat hangat ditangannya dengan menatap pada titik -titik hujan yang berjatuhan di kaca jendela. Ia mengukir senyum yg membuat wajah cantiknya kian menawan. Hujan.. Ia suka sekali hujan beserta aroma san senandung suara rintiknya.
Tiba-tiba sepasang lengan kekar mendekapnya erat dari belakang. Sebuah kepala besandar pada pundaknya. Tanpa perlu menoleh pun Taeyong tau siapa pelaku yang tengah memeluknya itu.
"Jangan terlalu sering memperhatikan hujan," suara Jaehyun selalu seperti ini bila berbicara pada Taeyong, lembut dan penuh cinta. Bahkan pada obrolan ringan sekalipun.
"Kenapa memangnya?" kepala berhias rambut magenta itu sedikit menoleh kebelakang, membuat pelipisnya bersentuhan dengan kenyal milik Jaehyun.
Jaehyun sendiri segera menempelkan bibirnya lebih dalam pada pelipis lembut milik istrinya. Menghirup aroma Taeyong yang lebih menenangkan daripada hujan.
"Nanti atensimu terbagi," Taeyong menyerngit, alisnya menukik samar. Sedikit bingung dengan jawaban suaminya, namun sepersekon kemudian..
"Kau cemburu pada hujan?" mendengar jawaban berupa gumaman tidak jelas keluar dari mulut Jaehyun seketika membuatnya tertawa. Ternyata Jaehyun tetaplah Jaehyun. Si pencemburu yang sangat posesif.