BAGIAN SATU

137 22 6
                                        

Matahari mulai memasuki celah-celah ImperialCastle. Meskipun matahari bersinar terang kesan mistis di dalam kastil tersebut tak berkurang sedikitpun.

"Acasha Kalfani! Bangun," ujar seseorang dari balik pintu.

"Arghh iya, berisik sekali. Aku sudah bangun Bu," jawab Acasha.

"Cepatlah mandi dan turun untuk sarapan," perintah Edelia Patricio, Ibunda Acasha.

Acasha pun bergegas memasuki kamar mandi dan turun untuk sarapan.

"Pagi Yanda, Ibunda, kakak," sapa Acasha malas.

"Tuan putri macam apa dirimu Acasha. Kau pikir ini jam berapa?" sambar Athan Kalfani, kakak Acasha.

"Ah kakak, bisakah kau diam sebentar saja, aku ingin sarapan," jengah Acasha.

Perdebatan kecil itupun terlewatkan, dan sarapan bersama berakhir.

"Hmmm, Ibunda tidak biasanya dirimu yang langsung membangun kan ku, biasa nya para pelayan," celetuk Acasha.

"Yaampun. Kau ini tidur seperti mayat, kau tahu itu? Pelayan sudah 3 kali menghampiri kamar mu, tapi kau tetap tak bangun," jelas Edelia.

"Iyakah? Aku tak menyadari akan hal itu."

"Kau berlatih hingga larut malam lagi kan di hutan?" telusur Kalfani Jerome, Ayahanda Acasha.

Mendengar akan pertanyaa Yandanya, Acasha pun berkilah. "Aduh aku harus menaruh piring kotor, permisi Yanda, Ibunda."

"Duduk Acasha Kalfani! Kau memiliki banyak pelayan, alasan macam apa itu. Sekali lagi Yanda tegaskan! Kau berlatih hingga larut malam lagi di hutan kan!" bentak Kalfani Jerome.

Acasha pun tertunduk "I...,iya Yanda."

Setelah perbincangan menegangkan itu, Acasha langsung berbalik kekamar nya, dan merutuki kebodohan yang telah ia perbuat berulang kali.

"Acasha, buka pintu nya. Ini aku Athan," jawab Athan dari balik pintu.

"Masuklah kak, aku tak mengunci pintu."

"Dirimu berlatih lagi di hutan hingga larut malam, hmm?" tanya athan.

"Bilakau datang kesini untuk membahas itu pergilah, aku tak ingin mendebat."

"Ah bukan itu maksudku, kau sudah mengulangi ini berulang kali dan kau tak jera sedikit pun. Aku beritahu dirimu, kau bisa saja di pindahkan ke akademik bila kau terus menentang Yanda," tegas Athan.

"Apa aku tak salah dengar? Mana mungkin Yanda akan mengirimku ke akademik. Aku, dirimu, dan Yanda adalah seorang Wizard. Untuk apalagi aku di kirim ke kesana," celetuk Acasha.

"Dirimu memang selalu keras kepala, setidaknya camkan ucapan ku tadi. Aku hanya bisa melambaikan tangan saat kau benar-benar di kirim ke akademik," goda Athan.

"Arghh kau ini. Keluar dari kamarku."

Athan pun mengelus lembut rambut Acasha, "iya iya, jangan di ulangi lagi ya Acasha Kalfani, adikku yang keras kepala."

Dilain sisi, Kalfani Jerome dan Edelia Patricio sedang mendiskusikan masalah di meja makan tadi, tentang anak perempuan nya, Acasha Kalfani.

"Sudahku peringkatkan berapakali kepada Acasha untuk tidak berlatih hingga larut malam, apa dia kira berlatih di hutan tidak berbahaya."

"Sudahlah Kalfani, dia itu masih labil. Berikan saja peringatan kepada Acasha."

"Peringatan? Ini sudah kesekian kalinya. Aku berpikir untuk mengirim Acasha ke Ilvermony Academic," tegas Kalfani Jerome.

"Jangan gegabah Kalfani, mana mungkin Acasha setuju, lagi pula seorang Wizard sudah memiliki kemampuan yang cukup. Untuk apa lagi masuk ke akademik?" heran Edelia Patricio.

"Aku ingin Acasha lebih disiplin, lagi pula Ilvermony Academic adalah akademik yang bagus. Aku tak memiliki ragu sedikitpun memasuki Acasha kesana."

"Bagaimana bila Acasha menolak? Anak itu cukup keras kepala, sama saja seperti dirimu."

Kalfani Jerome pun menarik Edelia kedalam dekapannya, "kau bilang apa tadi Edelia Patricio, hmm? Kau terdengar seperti menggodaku."

"Sudahlah Kalfani kita sedang membahas sesuatu yang serius. Kalau seperti ini kau yang terlihat sedang menggoda ku."

"Ayolah sayang, Acasha butuh kedisiplinan yang tinggi. Bila Acasha menolak gunakan saja kemampuan mu, kau ini kan penyihir Enchanter."

"Yasudahlah aku setuju, sebelum nya lepaskan diriku Kalfani, kau mendekap ku terlalu kencang."

"Iya iya, dasar cerewet," Kalfani pun melepaskan dekapan nya dan langsung mendapat kan cubitan dari istrinya.

°°°•°°°•°°°

Brakkk

"Arghh Damn! Mengapa kau mendobrak pintuku," marah Athan.

"Aku rasa ini imbang, gara-gara dirimu aku terus memikirkan apa yang kau ucapkan," sahut Acasha.

"Kau gila ya?"

"Bertarung lah denganku di hutan belakang kastil. Pikiranku benar-benar kacau," jelas Acasha, lalu meninggalkan Athan begitu saja.

"Sepertinya dia sudah benar-benar gila karena perbuatannya sendiri," gumam Athan.

Athanpun menyanggupi ajakan sang Adik, lalu menyusul Acasha ke hutan belakang Kastil.

°°°•°°°•°°°

Note :

- Wizard : Merupakan seseorang yang memiliki kekuatan fisik dan mental luar biasa. Artinya jenis penyihir yang satu ini selain bisa menggunakan ilmu sihir mereka juga bisa berkelahi. Umumnya jenis penyihir didominasi kaum pria karena tuntutan harus berkelahi di medan perang.
(Kalfani Jerome adalah seorang Wizard, dan menurunkan nya kepada Athan dan Acasha).

- Enchanter : Merupakan jenis penyihir yang bisa memanipulasi pikiran targetnya dan bisa membuat lawannya tunduk pada kemauannya. Mereka juga bisa memberikan nasib baik atau sial kepada orang lain lewat ilusi atau halusinasi.
(Edelia Patricio, Ibunda Athan dan Acasha merupakan Enchanter).

- Yanda : Panggilan sayang dari Acasha dan Athan kepada Kalfani Jerome. Lebih tepat nya singkatan dari Yanda.

Untuk sebelumnya yang sudah membaca aku harap kalian bersedia untuk membacanya kembali. Di karenakan cerita aku rombak habis.
Terima kasih <3

Ilvermony AcademicWhere stories live. Discover now